
Seminggu berlalu, kini tibalah waktunya acara pernikahan Regan dan Gretha berlangsung.
Regan terlihat mondar-mandir dengan gelisah. Pria itu tengah menunggu kedatangan Ziana dengan perasaan campur aduk.
Di satu sisi Regan mengkhawatirkan perempuan itu, namun disisi lain Regan juga deg-degan karena sebentar lagi acara pernikahannya akan segera berlangsung.
Semua tamu undangan sudah hadir, tak terkecuali 3 sekawan yaitu Arash, Bryan dan juga Lucas.
Tamu undangan di bagi menjadi dua bagian, di sisi kiri khusus untuk para keluarga dan rekan bisnisnya. Sementara disisi kanannya di khususkan untuk para anggota Bloody Rose dan The Braves.
"Kenapa sih bang mondar-mandir begitu?" tanya Fero yang sedari tadi melihat ketuanya gelisah seperti mencemaskan sesuatu.
Mereka semua tengah berada di kamar Regan untuk mendampingi calon mempelai pria.
"tau tuh capek gue liatnya" timpal Lucas dengan santainya.
"ck..kalian bisa diem gak" bentak Regan kesal mendengar celotehan Fero dan Lucas yang sama sekali tidak membantu apa-apa.
Bryan hanya acuh melihat drama yang tersaji di hadapannya. Sedangkan Arash yang penasaran dengan Regan pun berdiri dan mendekat ke arah pria itu yang kini terlihat sibuk dengan ponselnya.
Arash menepuk bahu pria yang sebentar lagi akan berubah status itu.
"gue tau lo gugup, tenang aja semua akan baik-baik aja, lo pasti bisa" ucap Arash memberi semangat.
"sebenarnya bukan itu yang mengganggu pikiran gue" akunya kepada Arash yang di percaya dapat menjadi teman bercerita.
Dahi Arash nampak mengerut, Regan lalu mengajak laki-laki itu untuk keruangan lain, karena tidak ingin ada yang mengganggu obrolannya dengan Arash.
Setelah duduk di dalam ruangan yang di tuju Regan mulai menumpahkan keluh kesahnya.
"sebenarnya gue mencemaskan Ziana" kata Regan to the point, sedangkan Arash masih diam tidak ingin menyela ucapan pria dihadapannya.
"sejam yang lalu dia bilang sudah hampir sampai, tapi setelah beberapa kali gue telpon nomornya udah gak aktif" Arash masih diam dan membiarkan Regan menumpahkan semua kecemasannya.
"gue takut terjadi apa-apa sama dia, gue gak mau sampai kejadian itu terulang lagi, gue gak mau liat Ziana kesakitan dan menderita, sudah cukup penderitaan yang dialaminya selama ini" ujar Regan lagi, tidak terasa air mata pria yang sebentar lagi akan menikah itu luruh begitu saja.
Arash menepuk pundak Regan beberapa kali "lo udah hubungi sekertaris Dita?" tanya Arash kemudian.
"udah tapi nomornya juga tidak aktif" jawab Regan dengan nada frustasi.
Regan mengangguk "gue juga berharap seperti itu" gumamnya.
_____________________________________________
Sementara itu Ziana tengah mengejar mobil seorang laki-laki yang dilihatnya sekilas mirip sekali dengan Robin.
Robin yang menyadari tengah diikuti oleh seseorang pun mempercepat laju mobilnya.
Aksi kejar-kejaran pun tak terhindarkan, Dita hanya bisa menutup wajahnya sementara mulutnya komat-kamit merapalkan doa apa saja yang ada di otaknya, karena aksi gila Ziana yang kebut-kebutan tidak pada tempatnya.
Ziana berhasil menyalip mobil Robin dan memaksanya untuk berhenti dan turun dari dalam mobilnya.
"ampun nona, saya mengaku kalah" Robin angkat tangan sebelum Ziana selesai mengucapkan satu parah kata pun.
"kenapa anda lari asisten Robin?" tanya Ziana sarkas setelah pria tinggi tegap itu berdiri di depannya sambil menunduk.
"maafkan saya nona, saya mengaku bersalah karena telah menghindar dari anda" ucap Robin berlutut di depan Ziana.
"saya tidak punya banyak waktu untuk mendengar permintaan maaf dari anda asisten Robin, saya hanya ingin bertanya satu hal" ucap Ziana, perempuan itu sangat tenang, namun matanya tidak lepas meneliti wajah pria di depannya.
Pria itu terlihat pucat, karena pertanyaan yang memang di hindarinya terlontar dari bibir Ziana. Robin diam tidak tahu harus menjawab apa soal pertanyaan yang dilontarkan Ziana.
"kenapa hanya diam? apa ada sesuatu yang anda sembunyikan dariku?" pertanyaan Ziana tepat sasaran.
Namun dengan cepat Robin menggeleng "tidak nona, saya tidak sedang menyembunyikan apapun, sebenarnya saya disini karena mendapat kabar kalau kerabat saya tengah sakit" alibi Robin masih dengan posisi berlututnya.
Ziana mengangguk-angguk seolah percaya, padahal sebenarnya perempuan itu sama sekali tidak percaya dengan alasan Robin.
Karena setahunya Robin adalah seorang anak yatim yang di ambil dari jalanan oleh Kakek Abian, jadi pria itu tidak memiliki sanak saudara. Namun karena waktu pernikahan Regan Akan segera berlangsung, jadi Ziana melepaskan pria itu.
Robin mengucapkan syukur karena merasa telah berhasil selamat dari pertanyaan yang di lontarkan oleh cucu dari tuannya, namun pria itu tidak sadar bahwa kebohongan yang dibuatnya akan membawa petaka untuknya di masa mendatang.
*******
Happy Reading 💞💞 💞