
Benar saja, begitu sampai diluar sebuah bogem mentah langsung mendarat di titik vitalnya sehingga membuat pria berbadan besar itu tersungkur dan tidak sadarkan diri.
Setelah kelima anak buah Melissa berhasil dilumpuhkan oleh Arash, Bryan, bersama dengan Regan yang telah berhasil mereka selamatkan pun menerobos masuk.
Melissa kaget karena melihat ikatan Regan terlepas, dan juga Regan tidak datang seorang diri, melainkan bersama 2 orang
pria yang berdiri dibelakangnya.
Melissa melirik Ziana marah karena merasa sudah dibohongi.
Dengan emosi wanita paruh baya itu meraih sebuah pist*l yang ia selipkan dan menembakkannya kearah Ziana.
Arash yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Melissa bergerak cepat ketika dia melihat sebuah pist*l berada ditangan kanannya yang diarahkan kearah sang istri.
Dor
Timah panas itu melesat dengan cepat kearah Ziana namun Arash dengan sigap berlari melindungi sang istri.
Namun sayang peluru Melissa berhasil mengenai lengan kanan Arash, terlihat darah segar mengalir dari sana
Ziana yang sejak tadi diam mulai terpancing begitu melihat Arash terluka.
Dengan gerakan cepat Ziana mengambil sebuah belati yang dia selipkan di sepatunya, kemudian dengan cepat pula belati tersebut melesat dan menancap di tangan kanan Melissa.
"tangan kanan di balas tangan kanan" seringai Ziana menatap Melissa tajam
Melissa mengerang kesakitan akibat belati milik Ziana yang menancap cukup dalam "kurang ajar kamu, begini cara kalian berterimakasih atas apa yang telah suamiku lakukan untuk kalian.." bentak Melissa menatap tajam kepada Ziana dan Regan secara bergantian.
"Hei nenek tua! turunkan nada bicaramu!" sentak Arash yang tidak suka melihat istrinya di bentak didepan matanya.
Ziana menoleh kearah sang suami yang sedang kesakitan namun tetap berusaha melindungi dirinya.
"kalian pergilah, biar nenek tua itu jadi urusanku" ucap Regan yang melihat raut khawatir yang terpancar dari wajah Ziana.
Ziana mengangguk lalu berjalan mendekati Arash, tidak lupa meminta Bryan untuk membantunya memapah sang suami "ayo, kita harus segera kerumah sakit" kata Ziana menatap Arash dengan tatapan khawatir.
Arash mengangguk patuh mengikuti kemauan sang istri.
Setelah Arash ditangani oleh dokter, Ziana ditemani Attar masuk kedalam ruang perawatan Arash dengan wajah khawatir membuat Arash yang melihat itu menarik sudut bibirnya, *Lucu banget sih istriku*' batinnya menatap raut wajah Ziana.
Ya, Ziana memang mengabari mama Arianna tentang keadaan Arash.
"Daddy kenapa senyum-senyum?" celetuk bocah laki-laki itu heran dengan tingkah sang daddy yang malah terlihat senang bukannya sedih sehabis tertembak.
Mama yang mengekor dibelakang cucu dan menantunya menyahut "mungkin dokter tadi salah ngasih obat sama Daddy kamu" canda mama dengan iseng
"apa iya Oma? kalau gitu Daddy harus di suntik obat lagi biar sembuh" Tukas Attar menanggapi dengan serius candaan sang Oma.
"MAMA..!!" Teriak Arash dan papa Arnan secara bersamaan sedangkan Mama Arianna yang sudah sering diteriaki terlihat berjalan dengan santai kearah sofa tanpa merasa bersalah setelah membohongi sang cucu.
Attar yang baru sadar telah dibohongi menatap Mama Arianna dengan kesal.
Melihat itu Ziana mengambil inisiatif untuk menggandeng tangan Attar dan berjalan mendekati ranjang perawatan Arash, agar bocah itu melupakan kekesalannya.
Sebenarnya luka yang diderita oleh Arash tidak terlalu parah, dasar Mama Arianna dan Ziana saja yang lebay sehingga mau tidak mau Arash menuruti keinginan dua wanita kesayangannya untuk menjalani rawat inap.
"kamu kenapa pasang wajah sedih? lihat, aku baik-baik saja, Kan?"
"kamu seperti ini gara-gara aku..." lirih Ziana seraya menunduk.
"Ini bukan salah kamu, semua ini murni karena kecelakaan" kata Arash
"tapi seandainya kamu tidak menolong aku, mungkin kamu tidak akan mengalami ini semua.." ucap Ziana menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang menimpa Arash.
"sayang berhenti menyalahkan dirimu sendiri, kalaupun ada yang harus disalahkan itu adalah nenek tua yang menculik Regan, bukan kamu, mengerti..!!" kata Arash tegas.
Ziana mengangguk, namun kedua bahunya bergetar.
Ziana merasa dejavu dengan perasaan ini, perasaan yang sama yang pernah dia rasakan ketika Agler dikira meninggal saat Ziana gagal dalam sebuah misi.
Namun meskipun sudah mengetahui bahwa kematian Agler hanya manipulasi, nyatanya trauma yang ditorehkan dari masa lalu itu masih membekas sampai sekarang.
Arash yang mengetahui tentang kejadian itu mengerti bagaimana perasaan Ziana saat ini.
Setelah menghapus air matanya, Ziana mendongak dan mengikuti permintaan Arash yang memintanya mendekat
*Hap*
Begitu Ziana duduk, Arash langsung mendekap dan menempelkan kepala Ziana pada dada bidangnya.
Diusapnya lembut kepala dengan surai
hitam itu.
Awalnya Ziana menggeliat karena merasa tidak enak karena ada Attar dan kedua mertuanya.
Arash menatap sang mama dengan tatapan memohon. Mama Arianna yang mengerti maksud dari tatapan Arash mengangkat kedua jempolnya.
Mama Arianna lalu bangkit dari sofa kemudian mengajak sang cucu dan suaminya untuk keluar tanpa suara.
Arash sangat bersyukur karena mempunyai orang tua yang pengertian seperti mama Arianna dan papa Arnan.
"ssstt..tenanglah sayang, disini hanya ada kita" bisik Arash lembut setelah kedua orang tua dan putranya telah menghilang di balik pintu.
Mendengar itu Ziana membalas pelukan Arash dan semakin menyembunyikan kepalanya pada dada bidang sang suami.
Ziana menumpahkan segala perasaannya hingga baju pasien yang dikenakan Arash terlihat basah oleh air mata.
Setelah beberapa saat dalam posisi seperti itu, suara hembusan nafas Ziana mulai terdengar beraturan.
Ziana tertidur dalam pelukan Arash setelah lelah menangis.
Sementara itu diluar ruang perawatan Arash, Kakek Abian beserta Robin datang setelah tadi Regan mengantarkan Melissa pulang dan menceritakan semuanya yang terjadi.
Kakek Abian merasa malu dengan perbuatan istrinya, oleh sebab itulah ia datang untuk menjenguk Arash, sekaligus meminta maaf atas apa yang telah Melissa perbuat.
Namun alangkah kagetnya saat pria tua itu melihat siapa yang sedang duduk di depan ruang perawatan Arash.
*Arianna Fredella Putri Ravindra* sebuah nama yang pernah Abian sematkan kepada wanita yang kini berjarak beberapa meter darinya.
Tubuh Abian menegang, seluruh tubuhnya terasa kaku untuk digerakkan, bahkan tanpa terasa, kedua sudut matanya telah basah oleh cairan bening yang keluar tanpa izin.
Robin yang berdiri dibelakang tuannya menyadari perubahan dari kakek Abian. Sebagai seorang asisten pribadi tentu saja pria jangkung itu tahu semuanya tentang tuannya, termasuk masa lalunya.
Oleh sebab itulah kakek Abian tidak menghadiri acara pernikahan Ziana waktu itu, sebab Robin tidak menunjukkan kartu undangan yang Ziana kirimkan ke kediamannya.
Robin pernah hampir kehilangan tuannya, karena itulah dia begitu protect jika itu menyangkut kesehatan kakek Abian.
Namun hari ini, dia tidak bisa lagi menahan tuannya, sebab apa yang telah dilakukan Melissa sudah sangat fatal.
"apa anda baik-baik saja tuan?" terdengar nada khawatir dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Robin.
Kakek Abian menyeka kedua sudut matanya yang basah sebelum menjawab kekhawatiran dari sang asisten "jangan khawatir, aku baik, Robin" ucapnya menoleh kebelakang
Robin mengangguk kemudian mengikuti langkah tuannya, sedangkan Regan diam dibelakang dengan banyak pertanyaan di benaknya.
\*\*\*\*