
Kini Lucas sudah berada di rumah sakit dan telah mendapatkan penanganan dari tim medis.
Sementara Alex dan anak buahnya sudah di amankan. Hanya tersisa para perempuan yang menunggui Lucas dirumah sakit, sementara yang lain sedang mengurus Alex dan para anak buahnya.
Sedari tadi Ziana tidak bisa diam, perempuan itu gelisah, Dian dan Jessica sudah berusaha meyakinkannya bahwa ini semua bukanlah salahnya. Sementara Valerie terlihat mondar-mandir karena khawatir dengan Lucas.
Statusnya yang seorang dokter tapi tidak bisa dia gunakan untuk membantu orang yang disayanginya membuat dokter muda itu ikut merasa bersalah. Hingga mengabaikan orang disekitarnya.
Setelah hampir 3 jam akhirnya tim medis berhasil mengeluarkan peluru itu dari tubuh Lucas. Namun lelaki itu masih belum sadarkan diri.
Beruntung peluru-peluru itu tidak ada yang mengenai organ vitalnya, dan berkat Tristan dan Fero yang dengan cepat memberikan pertolongan sehingga Lucas tidak harus kehilangan banyak darah.
Selesai dipindahkan keruang perawatan, Valerie dengan cepat masuk terlebih dahulu, karena tidak diperbolehkan terlalu banyak yang masuk, jadi yang lain harus menunggu diluar, menunggu giliran masuk.
"hai.." sapa Valerie setelah berada didalam ruangan Lucas. Perempuan itu duduk di samping brankar Lucas.
Dengan tangan gemetar karena menahan isak, Valerie menyentuh dahi Lucas, lalu tangannya berpindah dan mengusap wajah Lucas yang terlihat sedikit pucat.
Cukup lama Valerie terdiam sambil menatap wajah Lucas yang meskipun pucat namun masih tetap tampan. Kemudian perempuan itu berpindah dan menggenggam tangan Lucas.
"lo harus bertahan, lo gak boleh pergi gitu aja setelah apa yang lo lakuin ke gue" ucap Valerie sambil menitikkan air matanya.
Perempuan itu lalu mendaratkan kepalanya di dada Lucas sambil memaksakan senyumnya. Kemudian perempuan itu kembali menegakkan tubuhnya.
Setelah menenangkan diri, Valerie lalu mengusap wajahnya yang basah karena tangis. Kemudian perempuan itu bangkit dari duduknya setelah menatap Lucas cukup lama.
Kini giliran Ziana yang masuk setelah Valerie keluar. sama seperti Valerie, Ziana pun mengambil duduk di kursi yang berada di samping brankar Lucas.
Ziana hanya terdiam melihat keadaan Lucas, perempuan itu masih diliputi rasa bersalah karena gagal melindungi lelaki itu, hingga harus terbaring seperti ini.
"maafin gue, gue lagi-lagi gagal" ucap Ziana lirih.
Lucas yang mendengar suara Ziana langsung membuka matanya secara perlahan. Karena menunduk jadi Ziana tidak melihat itu.
"ini bukan salah lo kok, jadi berhenti menyalahkan diri sendiri, queen" ujar Lucas sangat pelan.
Ziana langsung mengangkat kepalanya dan menatap Lucas "lo udah sadar? sebentar saya panggil dokter untuk---
"jangan" sela Lucas memotong ucapan Ziana, sementara perempuan itu terlihat bingung.
Lucas menggeleng "jangan beritahu siapa-siapa dulu kalau gue udah sadar" ucapnya pelan, karena luka di perutnya.
Sebenarnya beberapa menit yang lalu, tepatnya setelah dipindahkan keruangan ini, Lucas sudah sadar, namun karena melihat perempuan yang disukainya masuk, jadilah lelaki itu pura-pura, untuk melihat hal apa yang akan dilakukan oleh perempuan itu.
Lucas pun memberitahu alasannya berpura-pura kepada Ziana, dan meminta Ziana untuk tetap berakting sedih. Perempuan itu pun mengangguk mengikuti keinginan aneh dari Lucas.
Karena merasa bahwa Lucas masih harus beristirahat, akhirnya Ziana keluar dari sana dengan ekspresi sedih seperti yang diinginkan Lucas.
Sesampainya di luar Ziana dibuat terkejut karena tiba-tiba saja ada seseorang yang memeluknya dengan sangat erat.
Perempuan itu hanya terpaku, tidak sempat berontak karena masih dalam keadaan kaget dengan situasi yang sedang terjadi.
"kamu baik-baik saja kan? tidak ada yang luka?" tanya Arash beruntun, yang merupakan pelaku utama yang telah memeluk Ziana tanpa izin.
Ziana yang telah sadar sepenuhnya itu pun berontak didalam pelukan Arash. Sungguh perempuan itu sangat kesal karena dengan kurang ajarnya laki-laki itu telah memeluk dirinya tanpa izin.
Dengan sekali hentakan Ziana terlepas dari rengkuhan erat Arash. Kemudian perempuan itu memukul Arash hingga membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan.
Seolah belum puas, Ziana terus memukul Arash hingga laki-laki itu berlari untuk menghindari pukulan. Aksi kejar-kejaran pun tak terelakkan.
Tanpa sadar mereka berdua menjadi tontonan para pengunjung rumah sakit itu. sedangkan Valerie hanya menatap mereka berdua tidak suka.
Ziana yang sadar akan tatapan tidak suka yang dilayangkan oleh Valerie pun memaklumi, dia pun mengambil duduk disebelah dokter muda itu, setelah mengakhiri aksi kejar-kejarannya.
"gue minta maaf Val, ini semua memang salah gue" ucap Ziana sambil berakting sedih seperti yang diinginkan Lucas.
Valerie yang sadar dengan tindakannya langsung memeluk Ziana, dan menumpahkan tangisnya kepada Ziana yang sudah dianggapnya seperti saudara sendiri.
"saya yang harus minta maaf, saya tidak seharusnya menyalahkan anda, maafkan saya queen" ucap Valerie dengan suara tercekat.
Ziana mengusap-usap punggung Valerie yang bergetar karena tangis "kamu tidak bersalah, jadi tidak perlu minta maaf, ini memang salah saya yang lagi-lagi gagal" lirih Ziana diakhir kalimat.
Arash tidak suka mendengar ucapan Ziana yang menyalahkan dirinya sendiri. Laki-laki itu berujar "ini adalah musibah, jadi berhenti menyalahkan dirimu sendiri, mengerti!!" Setelah mengatakan itu Arash pergi begitu saja.
Malam harinya Ziana kembali kerumah sakit setelah tadi pulang untuk mandi dan berganti pakaian.
Setelah menunggu setengah jam namun tidak ada tanda-tanda pria itu akan sadar, Ziana pun memutuskan untuk pulang ke penginapan, dan akan kembali lagi besok.
Namun di tempat parkiran langkah perempuan itu ditahan oleh cekalan tangan Arash pada lengannya.
"lepas" desis Ziana menatap tajam Arash.
"maaf..tapi saya mau bicara sesuatu penting sama kamu" ucap Arash setelah melepaskan tangan Aruna.
"saya tidak punya waktu untuk meladeni anda" ucap Ziana cuek karena masih kesal dengan tindakan Arash yang memeluknya tanpa izin, Ziana lalu bersiap untuk masuk kedalam mobil yang telah disewanya.
"ini soal Attar.." kata Arash tiba-tiba membuat Ziana menghentikan langkahnya.
"katakan" ucapnya tanpa menoleh.
Arash terlihat menghela nafas sejenak sebelum berkata "Attar sedang sakit, dan saat ini sedang dirawat di rumah sakit" jedanya.
"dia terus mencari kamu.." lanjut Arash lirih sambil menyugar rambutnya kebelakang, terlihat seperti orang yang sedang frustasi.
"aku sudah memesan tiket untuk kita ke kota A, tapi jika kamu tidak mau aku bisa cancel punya kamu" kata Arash kemudian berbalik ingin pergi.
Ziana menoleh dan melihat laki-laki itu telah beberapa langkah menjauh "aku ikut.." ujar Ziana sedikit berteriak.
Sementara itu di kota A, benar saja Attar sedang berada di rumah sakit. Bocah laki-laki itu terkena demam berdarah.
Karena merasa tidak nyaman sehingga Attar menjadi lebih rewel. Hal itulah yang membuat Arianna menghubungi Arash dan meminta anaknya itu untuk memanggil Ziana, berharap Attar akan menurut jika bersama dengan Ziana.
Dokter menyarankan agar Attar memperbanyak minum agar tidak dehidrasi, namun sedari tadi bocah laki-laki itu tidak ingin makan ataupun minum, bahkan Aruna yang paling dekat dengannya pun menyerah untuk membujuk sang keponakan.
"Attar mau Aunty Zi" ucapnya lemas.
"iya sayang sabar ya, Daddy kamu lagi jemput aunty Zi dulu ya" bujuk Arianna sambil mengusap kepala Attar.
"sekarang makan dulu ya, biar Oma suapin" bujuknya lagi berharap kali ini berhasil.
"Attar gak mau makan kalau gak ada aunty Zi" kata Attar kemudian menutup mulutnya sendiri dengan tangan.
"tapi sayang---
"Ma, sudah biarkan Attar istirahat" sela Opa Arnan yang sedari tadi duduk memperhatikan.
Arianna menghela nafas "yasudah sekarang kamu tidur dulu, nanti kalau aunty Zi sudah datang Oma bangunin"
Attar mengangguk kemudian menarik selimutnya hingga sebatas dada kemudian menutup matanya.
*****
Happy Reading 💞💞 💞