
Kala itu Arash sedikit mengebut untuk Sampai ke Calista Group.
Sesampainya di sana Arash langsung memarkirkan mobilnya dan disana juga sudah terlihat John yang sedang berdiri menunggunya.
setelah Arash datang barulah keduanya masuk.
mereka lalu di arahkan kesebuah ruangan oleh seorang karyawan.
sementara itu 30 menit yang lalu Ziana mendapat telepon bahwa lagi-lagi terjadi masalah di kota B.
Mau tidak mau perempuan itu harus turun tangan sendiri tanpa Dita mendampinginya.
Sebab hari ini akan ada pertemuan dengan pihak dari Wijaya Group yang akan bekerjasama dengan perusahaan mereka.
"permisi Bu, mobil sudah siap" kata Dita setelah selesai mempersiapkan untuk keberangkatan bosnya menuju kota B.
"iya makasih Dita"
"ibu beneran gapapa pergi sendiri" tanya Dita dengan raut wajah cemas.
"iya Dita" ucap Ziana singkat.
"tapi Bu pihak kita bisa kok membatalkan pertemuan hari ini dan saya bisa menemani anda kesana" ujar Dita memberi saran.
"terus kita dianggap tidak profesional begitu?" tukas Ziana.
"ehh ya enggak begitu maksud saya bu"
Ziana menghela nafas.
"kamu tidak perlu khawatir, saya bisa kok jaga diri" ucap Ziana menatap sahabat sekaligus sekertarisnya itu.
"maaf bu"
"yasudah saya pergi sekarang"
"baik bu".
kini Arash dan John telah masuk kedalam ruangan tersebut namun belum ada siapa-siapa disana.
Tidak lama kemudian pintu terbuka, muncullah seorang wanita.
"loh anda kan.." kata perempuan itu yang tidak lain adalah Dita, seperti mengingat ingat wajah Arash.
"iya.. saya minta maaf soal waktu itu" jawab Arash sembari minta maaf.
John yang berada disana mengernyit mendengar tuannya meminta maaf.
Alis Dita terangkat sebelah, namun kemudian perempuan itu berjalan kearah kursi dan duduk disana.
keduanya pun langsung duduk "terimakasih" ujar Arash.
"sebelumnya saya minta maaf, karena ibu Calista tidak bisa hadir dan saya yang mewakili beliau"
Ziana memang menggunakan nama Calista bukan nama depannya.
"tidak masalah"
"baiklah kita langsung mulai saja" ujar Dita.
beberapa menit berlalu akhirnya kesepakatan telah di dapatkan dan pertemuan itupun berakhir.
______________________________________________
Sementara itu di kediaman Wijaya, si kecil Attar kini tengah demam dan sedikit rewel.
Bocah laki-laki itu tidak berhenti menangis sebab nomor Ziana tidak bisa dihubungi.
Akibatnya Attar mogok makan.
Sudah berkali-kali Aruna mencoba menghubungi, namun tetap saja tidak bisa.
sudah puluhan pesan singkat yang dikirimnya namun hanya centang satu.
"Attar udah dong jangan nangis, mungkin Aunty Zi lagi sibuk"
"sekarang makan dulu ya" bujuk Aruna.
Namun Attar hanya menggeleng kemudian membalikkan badan memunggungi Aruna.
Aruna menghela nafas melihat kelakuan ponakannya itu.
"makan ya, biar nanti kalau nomor aunty Zi sudah aktif Attar punya tenaga buat ngobrol sama Aunty Zi" Aruna mengeluarkan jurus andalannya yaitu menggunakan nama Ziana.
Bocah itu terlihat berfikir, kemudian membalikkan badannya lagi kearah dimana Aruna duduk.
"yaudah kalo gak mau makan, nanti aunty aduin ke aunty Zi, kalau Attar gak mau makan" ucap Aruna lagi karena gemas sendiri dengan Attar yang tengah mogok makan itu.
akhirnya Attar mengangguk "Attar mau makan aunty"
Aruna berseru senang didalam hatinya, semenjak mengenal Ziana, Attar jadi lebih mudah di bujuk.
hanya dengan membawa nama Ziana bocah laki-laki itu akan menurut.
setelah selesai menyuapi sang ponakan dan memberinya obat akhirnya Attar tertidur.
*****