
Tawa Melissa menggema setelah anak buahnya mengirimkan pesan kepada Ziana.
Nenek tua yang tidak ingat umur itu begitu bahagia karena rencananya untuk melenyapkan Ziana selangkah lagi akan terlaksana "kamu benar-benar pintar Melissa" ucapnya memuji dirinya sendiri.
Obsesinya terhadap harta dan kekuasaan yang dimiliki oleh seorang Abian Ravindra membuat Melissa menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan semuanya.
Tadinya Melissa pikir setelah dia dinikahi oleh Abian maka ia akan mendapatkan seluruh harta kekayaan itu.
Oleh sebab itu, Melissa menjebak Abian dengan cara mengatakan bahwa dirinya
hamil setelah melakukan cinta satu malam dengannya. Awalnya Abian mengusirnya, karena Abian merasa tidak pernah melakukan hal seperti itu dengan wanita lain selain dengan istrinya, tapi Melissa memberikan bukti agar pria itu mau menikahinya dengan cara memalsukan foto mereka ketika di atas ranjang.
Istri Abian yang kala itu tidak sengaja melihat foto tersebut memaksa suaminya untuk bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, meskipun ratusan kali Abian mengatakan bahwa semua itu bohong.
Namun istri Abian yang pada dasarnya memiliki hati selembut sutera itu merasa kasihan dengan Melissa yang dikiranya benar-benar hamil anak Abian, sehingga Rinjani, nama istri Abian meminta agar sang suami mau mempertanggungjawabkan perbuatannya, dengan cara menikahinya.
Akhirnya setelah melihat suaminya menikahi Melissa, pada malam harinya Rinjani pergi membawa serta anaknya yang saat itu berusia sekitar 2 tahun.
Melissa tersenyum lebar kala mengingat perjuangannya untuk mendapatkan harta Abian Ravindra.
"sebentar lagi, harta itu akan jadi milikku.. milikku.. hahahaha." Tawa wanita itu menggema di seluruh ruangan, Melissa tertawa seperti orang gila sehingga membuat para anak buahnya bergidik mendengarnya.
Sementara itu Ziana menghubungi Jessica dan memintanya untuk menghentikan pencarian terhadap Regan, kemudian Ziana meminta seluruh anggota Bloody Rose untuk berkumpul di markas.
Setelah panggilan terputus Ziana, Arash, dan Bryan segera menuju markas sedangkan Lucas dan Valerie diminta untuk tetap berada di rumah sakit untuk menemani Gretha
Setengah jam berlalu seluruh anggota Bloody Rose sudah terlihat berkumpul di markas, begitupun dengan Ziana, Arash, dan Bryan yang baru tiba beberapa saat yang lalu.
Tanpa berbasa-basi lagi Ziana langsung memberikan instruksi kepada mereka, sesuai dengan rencana yang telah disusun oleh Lucas ketika dirumah sakit.
Mereka mengangguk mengerti dengan instruksi yang diberikan, mereka kemudian bersiap dengan peralatan masing-masing setelah itu barulah mereka berangkat menuju lokasi yang telah dikirimkan oleh anak buah Melissa, kecuali Fero yang selalu mendapat pekerjaan dibelakang komputernya.
Lokasi itu berada di pinggiran hutan dan lumayan jauh dari pusat kota, butuh waktu sekitar 2 jam untuk bisa sampai disana.
Dan benar saja, didepan sana terlihat sebuah bangunan tua yang terlihat sudah berlumut dan berjamur.
"sepertinya kita sudah sampai.." kata Bryan menghentikan mobilnya, sementara mobil yang lain berhenti beberapa meter dari lokasi.
Ziana turun, dan akan masuk kedalam sana seorang diri sesuai permintaan sang penculik.
Setelah melihat seluruh rekannya mengambil posisi dengan senjata yang sudah ada dalam genggaman, Ziana berjalan secara perlahan memasuki halaman bangunan tersebut seorang diri.
Ziana sengaja berjalan pelan, agar Fero maupun Lucas bisa mengamati tempat tersebut melalui sebuah kamera yang berukuran sangat kecil yang terpasang di salah satu kancing baju yang dia kenakan.
Kamera tersebut terhubung dengan Lucas dan Fero
Sedangkan Arash terlihat gelisah di dalam mobil. Jika Bryan tidak mengunci mobilnya mungkin saja Arash sudah berlari mengikuti Ziana dan menghancurkan rencana mereka.
"Bry buka kuncinya, kalo enggak jangan salahin gue kalo mobil lo gue pecahin" berontak Arash karena Bryan mengunci
pintu mobilnya.
Bryan hanya bisa berdecak kesal melihat Arash "lo bisa diam bentar gak" bentak Bryan yang sudah kepalang kesal
"gimana gue bisa diem saat ngeliat istri gue dalam bahaya" ucap Arash menggebu
Sedangkan Bryan tidak menanggapi, dia sibuk menatap kedepan, memperhatikan punggung Ziana yang semakin masuk, seraya menunggu aba-aba dari Fero melalui alat yang mirip seperti earphone yang terpasang di telinga mereka semua.
Karena kesal Bryan tidak kunjung membuka kunci mobilnya, Arash berinisiatif meninju kaca mobil milik Bryan.
"lo jangan gila.." seloroh Bryan melihat kelakuan Arash yang sangat keras kepala.
"lo yang gila.. gue harus turun, istri gue dalam bahaya didalam sana" sewot Arash
"gue ngerti perasaan lo, tapi lo juga harus tenang, tidak akan terjadi apa-apa sama
istri lo.." kata Bryan melirik Arash melalui
kaca spion.
Arash mengangguk lemah "sorry.. gue hanya terlalu khawatir"
Sementara itu anak buah Melissa yang bertugas menjaga di depan pintu langsung melapor ketika melihat kedatangan seorang perempuan yang tidak lain adalah Ziana.
Mendengar itu, Melissa langsung menatap layar yang tersambung dengan cctv yang terpasang di depan pintu "bagus, target sudah datang, kamu periksa apa benar dia datang sendiri atau bersama dengan seseorang" perintah Melissa kepada salah satu anak buahnya, sedangkan yang tadi melapor sudah kembali lagi ke depan.
Sementara itu di markas, Fero yang melihat sebuah cctv yang terpasang di atas pintu bangunan tersebut langsung meminta salah satu rekannya yang seorang sniper untuk membidik ke arah cctv tersebut.
Dengan sekali bidikan cctv tersebut langsung hancur, beruntung Ziana telah melewati pintu tersebut, setelah penjaga yang berdiri didepan mengantarkannya masuk untuk menghadap nyonya mereka.
Melissa kini berdiri menghadap jendela, jadi dia tidak memperhatikan jika gambar di layar menghilang berganti menjadi warna abu-abu.
Ziana kini berdiri didepan sebuah ruangan "ayo masuk, nyonya sudah menunggu dari tadi!" Bentak pria berambut gondrong itu
Ziana tidak menanggapi pria gondrong itu, tanpa ragu Ziana meraih gagang pintu dan membukanya.
Cklek
Mendengar suara pintu terbuka Melissa tersenyum lebar karena selangkah lagi rencananya akan berhasil.
Sementara itu di luar, setelah mendapat aba-aba dari Fero, para fighter berlarian masuk begitupun dengan Arash dan Bryan.
Sedangkan 3 orang sniper mengambil posisi di belakang bangunan tersebut untuk berjaga-jaga jika mereka kabur melalui
pintu belakang.
Kembali kedalam ruangan
Prok..prok..prok
Melissa membalikkan badannya seraya bertepuk tangan, mengapresiasi keberanian Ziana yang dikiranya benar-benar datang sendirian.
"wah..wah..wah.. saya benar-benar salut dengan keberanian mu, tidak salah bila suamiku yang bodoh itu mengangkat mu menjadi cucu"
Ziana tidak bergeming melihat siapa yang berdiri di hadapannya saat ini
Ziana tidak menyangka jika seseorang yang selama ini dia hormati berani berbuat seperti itu. Sedari dulu Ziana sudah tahu jika istri dari kakek Abian tidak menyukai dirinya dan juga Regan, namun Ziana tidak menyangka jika wanita yang sudah berusia setengah abad itu akan bertindak sejauh ini.
"kenapa hanya diam? oh kamu pasti tidak menyangka jika yang menculik temanmu itu adalah aku. Hahaha" tebak Melissa yang diakhiri dengan tawa yang menggema
"sayang sekali ya, hidup kalian harus berakhir seperti ini gara-gara pria bodoh itu.."
"Jika saja Abian tidak berniat memberikan semua harta kekayaannya padamu, mungkin kalian tidak akan berakhir di tanganku dengan cara seperti ini.."
"sayang sekali Abian bertindak bodoh dan membahayakan nyawa dari cucu kesayangannya" ucapnya berpura-pura memasang wajah iba
Setelah berbicara panjang lebar, Melissa memberi kode kepada anak buahnya untuk membawa Regan kehadapannya.
Pria berbadan besar itu pun mengangguk kemudian pergi.
Tanpa dia sadari jika diluar dirinya telah ditunggu oleh beberapa orang yang sudah bersiap untuk menghajarnya.
*****