About Ziana

About Ziana
Chapter 40



'tidak..tidak mungkin dia, dia kan sudah..'


"Well.. karena kalian sendiri yang datang kesini, jadi saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini" ucap orang tersebut membuyarkan lamunan Ziana.


"Serang" teriak pria itu menginstruksikan kawanannya untuk menyerang Ziana dan anggota Bloody Rose.


Perkelahian pun tak terelakkan, meskipun kalah jumlah namun Ziana dan gengnya mampu menumbangkan satu persatu dari anggota Scorpion.


Melihat anggotanya yang mulai berjatuhan pria itu kembali memberikan instruksi.


"Tembak" teriaknya lagi, dan entah dari mana datangnya tiba-tiba saja banyak orang-orang yang berlarian membawa senjata.


Seketika itu keadaan menjadi kacau, tapi itu tidak berlangsung lama, karena Regan dan anggota The Braves akhirnya sampai di waktu yang tepat.


Kini keadaan berbalik, karena hampir semua anggota The Braves ikut serta dan membawa senjata masing-masing.


Sang ketua dari Scorpion memberi instruksi untuk mundur kepada anggotanya karena keadaan mereka sudah tidak memungkinkan lagi untuk melawan.


Selain kalah jumlah anggota, persenjataan mereka pun kalah oleh anggota The Braves.


"Jangan sampai ada yang lolos" teriak Regan memberi peringatan kepada seluruh anggota Bloody Rose maupun The Braves.


"Jangan harap bisa lolos dariku" Ucap Arash setelah berhasil menjatuhkan ketua dari Scorpion dengan menendang punggungnya dari belakang.


Sementara itu Lucas yang tidak terlalu jago berkelahi hanya mengawasi dari sebuah sudut dengan memegang sebuah senjata jarak jauh (sniper).


Pria itu pun bangkit dan menyerang Arash dengan membabi buta, pria tersebut sangat kuat, terbukti dari Arash yang nampak kewalahan menahan serangan pria itu. maklum saja, Arash sudah lama meninggalkan dunia hitam, dan sejak saat itu Arash tidak pernah berkelahi lagi, bahkan akhir-akhir ini Arash pun jarang berolahraga.


Ziana yang tidak jauh dari Arash pun ikut membantu, setelah sebelumnya berhasil menjatuhkan seorang lelaki yang menjadi lawannya, Ziana juga menembak beberapa anggota Scorpion yang berniat menyerang Arash dari belakang.


"Ternyata keahlianmu meningkat" ucap pria dengan luka bakar di pelipis sebelah kiri sampai ekor matanya.


"Siapa kamu sebenarnya" kesal Ziana, karena pria itu seakan sangat mengenalnya, namun dirinya sama sekali tidak tahu siapa pria berwajah seram itu. Di tambah dengan kain yang diikat kebelakang menutup sebagian wajahnya, membuat Ziana sulit mengenalinya.


"Belum saatnya kamu tahu siapa saya" kata pria dengan luka bakar itu dengan senyum smirk nya.


Ziana terus menyerang di bagian wajah pria itu, target utamanya adalah kain penutup yang di kenakan oleh pria itu, Ziana sangat penasaran dengan wajah asli pria tersebut.


Namun pria itu meskipun memiliki postur tubuh yang tinggi dan agak besar, langkahnya sangat cepat dan lincah. Membuat seorang Ziana yang juga telah lama tidak bertarung sedikit kewalahan menghadapinya.


Bugh


Karena lengah, pria itu berhasil menendang dada Ziana dan membuatnya jatuh.


Bagaimana bisa seseorang yang di tendang dengan keras di bagian dada tidak kenapa-kenapa? apalagi Ziana adalah seorang perempuan. Meskipun kuat, namun tendangan pria itu tidak main-main.


"Awas" ucap Ziana ketika melihat pria itu ingin menyerang Arash dari belakang.


Ziana dengan cepat mendorong Arash ke sebelah kanannya dengan sekuat tenaga, alhasil karena tidak siap dengan dorongan yang tiba-tiba itu membuat Arash jatuh dengan posisi mencium lantai. Sedangkan Ziana berhasil menghindar dari tendangan yang diarahkan pria tersebut.


Arash yang tersadar langsung dengan cepat bangkit dari posisinya, dan bersiap untuk menyerang pria dengan wajah menyeramkan tersebut.


Namun lagi-lagi Arash terjatuh karena tidak mampu melawan pria itu.


Sementara pria itu kini mengarahkan sebuah pistol ke arah Arash yang telah tersungkur di lantai.


Bryan dan Regan yang melihat itu berteriak secara bersamaan "Arash awas" teriak keduanya.


Pria itu menarik pelatuknya sedangkan Arash sudah pasrah dan menutup matanya karena sudah tidak mampu lagi untuk bangun.


Namun sepersekian detik Arash tidak merasakan apa-apa hanya teriakan yang terdengar menggema di seluruh ruangan.


"Queen"


"Tuan"


Teriak semua orang yang ada disana dan menyaksikan kejadian itu.


Ziana yang tadi melihat pria itu mulai menarik pelatuknya, dengan cepat melompat ke hadapan Arash tanpa memikirkan dirinya sendiri.


Sementara Pria itu tertembak oleh senjata milik Lucas yang sedari tadi bersembunyi.


Regan dengan cepat berlari kearah Ziana. "Zi.. kamu harus bangun, aku mau kamu bangun Zi" Regan mengguncang tubuh Ziana.


Perempuan itu meringis dan membuka matanya dengan susah payah.


"Aku capek Re, ngantuk" ucap Ziana berusaha tersenyum.


"Enggak, kamu gak boleh tutup mata. Aku akan bawa kamu ke rumah sakit" ujar Regan kemudian mengangkat tubuh yang sudah sangat lemah itu.


Sementara Arash yang masih shock itu baru tersadar saat Bryan menepuk bahunya.


Kini mereka semua, anggota inti sudah dalam perjalanan ke rumah sakit. Sementara yang lain kembali ke markas masing-masing untuk beristirahat.


******