
Ziana bangun jam 8 saat matahari sudah menjulang tinggi, dia kesiangan karena tidur larut, dan sialnya jam 9 nanti ada meeting penting yang harus dia hadiri.
Dengan terpaksa Ziana mandi kilat dan tanpa sempat melakukan sarapan dia berangkat menggunakan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Di dalam perjalanan sangat macet membuat Ziana berulang kali menghela nafas dan berkali-kali pula dia menggerutu.
Saat di lampu merah, Ziana tidak sengaja menoleh ke samping dan matanya ber sitatap dengan seseorang dari masa lalunya.
Dia adalah Agler seorang pria yang sudah dianggapnya sebagai kakaknya sendiri, namun pria itu malah mengkhianatinya.
Tampaknya Agler menyadari bahwa Ziana berada persis disebelah mobilnya, jadilah pria itu dengan cepat mengalihkan pandangannya kearah lain karena tidak ingin kembali berurusan dengan perempuan yang sampai saat ini masih belum bisa dia hilangkan dari hatinya.
Saat lampu telah berganti menjadi hijau, mobil Agler sudah melesat meninggalkan mobil Ziana yang masih belum bergerak.
Jika tidak ada meeting sudah bisa dipastikan apa yang akan terjadi selanjutnya, namun sayangnya perempuan itu harus hadir pada meeting kali ini.
Ziana sampai di kantor saat jam sudah menunjuk angka 08 : 53 yang artinya 7 menit lagi meeting akan segera dimulai.
Dita sudah mondar-mandir didepan ruangan Ziana karena bosnya tidak kunjung datang sementara waktu sudah semakin mepet.
Ziana berlari dari arah lift hingga sampai di depan ruangannya. Dita bernafas lega saat melihat kedatangan Ziana.
"akhirnya lo datang juga" ujar Dita merasa lega, Dita berucap tanpa menggunakan bahasa formal sehingga mengundang orang-orang yang lewat untuk ke ruangan rapat melirik kerah mereka.
Sementara Ziana langsung saja masuk kedalam ruangannya diikuti oleh Dita tanpa menghiraukan lirikan dari para anak buahnya.
Setelah drama bangun telat dan terjebak macet, akhirnya meeting pagi itu berjalan lancar tanpa ada kendala yang berarti.
🌹🌹🌹
Malam menjelang di negara NN Arash, Luis dan Nico saat ini tengah berada di sebuah pub yang tidak jauh dari kediaman Nico.
Mereka tengah berpesta miras, Arash yang berperan sebagai asisten Luis hanya bertugas untuk menuangkan alkohol untuk Nico dan Luis, sementara dirinya tidak minum sama sekali.
Luis yang memang jago minum sama sekali tidak merasakan apapun, sementara Nico yang tidak begitu kuat dengan alkohol sudah mulai meracau tidak karuan.
Melihat rencana mereka yang berjalan sesuai rencana, Luis pun memerintahkan Arash untuk segera pergi kerumah Nico untuk mencari bukti tentang keberadaan seseorang yang mereka cari.
Sementara Luis masih tetap stay di pub untuk mengorek informasi dari Nico yang terus saja meracau tidak jelas, syukur-syukur kalau pria tua itu mau membuka rahasianya.
"apa kau punya istri atau anak?" Luis memulai sesi tanya jawab dengan Nico yang sudah setengah sadar.
"seorang Nico tidak mungkin tidak memiliki perempuan disisinya bukan?" ucapnya dengan nada khas orang mabuk.
"kau benar, lantas dimana dia? kenapa kemarin saya tidak melihatnya?" tanya Luis lagi.
Nico tertawa seperti mengingat sesuatu "dia ada ditempat yang jauuhh.. sekali" ujarnya sambil membuka lebar kedua lengannya.
Sementara Luis mengerutkan keningnya namun kemudian dia hanya mengangguk "apa kau punya anak?" pertanyaan Luis berlanjut.
"tentu saja" jawabnya terkekeh.
"tapi dia sudah ku kirim ke panti asuhan karena dia sangat rewel haha aku pintar kan?" Nico berucap sambil memegang kepalanya kemudian tertawa karena menganggap dirinya pintar.
"ayo..ayo tambah lagi minumannya" kata Nico menyodorkan gelasnya yang sudah kosong kehadapan Luis, yang langsung dilaksanakan oleh Luis dengan suka cita.
Luis terus mengajak Nico berbicara, dan menanyakan pertanyaan yang menyangkut tentang seseorang yang sedang dicarinya bersama Arash.
Meskipun jawaban Nico membuatnya ingin sekali memukul pria tua itu, namun sebisa mungkin Luis mencoba meredam emosinya.
Sementara itu Arash mulai menyelinap masuk kedalam kediaman Nico yang penjagaannya tidak terlalu ketat.
Arash menggeledah kamar Nico namun tidak menemukan apapun, dia pun beralih keruang kerja Nico yang tadi siang sempat ia dan Luis masuki bersama dengan Nico tentunya, untuk membicarakan kerjasama yang Luis tawarkan.
Semua berkas Arash periksa, namun tidak mendapatkan hasil apapun, Arash hampir menyerah namun dia kembali mengingat pesan calon mertuanya malam itu.
Dengan semangat menggebu Arash kembali bangkit dan kembali mencari bukti mengenai keberadaan orang yang dicarinya.
Sampai dia tiba pada sebuah lemari yang terkunci, Arash curiga ada yang penting didalam lemari tersebut, karena hanya itu yang Nico kunci sementara yang lain tidak.
Susah payah Arash membuka kunci lemari tersebut menggunakan obeng karena tidak mendapatkan kuncinya.
Benar saja, Arash mendapatkan apa yang dia cari didalam lemari itu, yaitu alamat tempat orang itu di sembunyikan oleh Nico, dan juga ada sebuah kalung...
Setelah mendapatkan alamat tersebut Arash menghubungi Luis dan memintanya untuk berhenti menginterogasi Nico.
Setelah menerima telepon dari Arash, Luis meninggalkan Nico begitu saja di pub tersebut dalam keadaan mabuk berat.
Mereka kembali ke hotel tempat mereka menginap, untuk kembali menyusun rencana selanjutnya.
****
Happy Reading 💞💞 💞