About Ziana

About Ziana
Chapter 135



Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Arash sudah datang kerumah sakit bersama dengan Attar. Arash menenteng kantong plastik berisi makanan untuk Ziana yang sengaja disiapkan oleh mama Arianna.


Sesampainya didalam, terlihat Ziana masih tertidur di sofa panjang yang ada didalam ruangan Zara. Melihat Ziana tidur, Attar langsung membangunkan Ziana dengan cara mencium kedua pipi dan dahi Ziana.


Ziana menggeliat dan membuka sedikit matanya, dia tersenyum ketika melihat sang pelaku yang sudah mengganggu tidurnya.


Dengan masih pura-pura tidur, Ziana menarik bocah laki-laki itu hingga jatuh kedalam pelukannya, Attar langsung berteriak, karena Ziana yang menggelitiknya.


Saat keduanya asik bercanda, Arash malah sibuk menyiapkan bekal yang tadi dibawanya, sambil sesekali melirik keduanya. Ada rasa iri terbersit dihatinya, melihat kedekatan yang terjalin antara Attar dan Ziana namun perasaan itu dia tepis sejauh mungkin.


Tidak.. aku tidak boleh iri, Attar adalah anakku dan akan jadi anak Ziana juga nantinya. batin Arash.


"kok ada bau makanan ya?" ucap Ziana karena mencium aroma masakan. Ziana tidak melihat keberadaan Arash, karena dia sedang asyik dengan Attar.


"tuuuhh.." ujar Attar menunjuk kearah sang Daddy, Ziana mengikuti arah yang ditunjuk Attar dan melihat Arash sedang menata makanan diatas meja.


Ziana langsung bangun dari sofa.


"good morning my future wife" ucap Arash lembut, membuat kedua pipi perempuan itu merona.


"ishh Daddy alay" celetuk Attar. "biarin kan emang calon istri Daddy wlee.." balas Arash me meletkan lidahnya kearah Attar, membuat bocah laki-laki itu mendengus karena kelakuan daddynya yang seperti anak kecil.


Ziana hanya menggeleng seraya bangkit dari duduknya "aunty cuci muka dulu ya" ucapnya sebelum berlalu menuju kamar mandi, kedua laki-laki beda generasi itu hanya mengangguk mengiyakan.


Beberapa menit kemudian Ziana kembali dengan wajah yang sudah fresh, tidak lupa dengan rambutnya yang ia cepol secara asal, membuat Arash tersenyum melihatnya.


"kenapa? ada yang aneh ya di wajahku" tanya Ziana panik karena melihat Arash tersenyum sendiri. Mendapat pertanyaan seperti itu Arash langsung menggeleng "enggak.." ucapnya.


Ziana mengangkat kedua alisnya bingung, kemudian duduk dihadapan Arash dan meja dihadapan mereka sudah tersedia beberapa macam makanan "lalu?" Ziana kembali bertanya. "kamu cantik" bisik Arash supaya Attar tidak mendengarnya.


Blush.. pipi Ziana merona.


"apa sih.." ucap Ziana berusaha menetralkan perasaannya. Perempuan itu mengalihkan pandangannya ke arah makanan yang sedari tadi sudah menggoda indra penciumannya.


"ayo makan.. mama sengaja masak ini semua buat calon menantunya" ujar Arash tertawa kecil. Ziana yang mendengarnya ikut tertawa.


Keduanya pun menikmati makanan buatan mama Arianna, sedangkan Attar sudah fokus dengan mainan mobil-mobilan yang dibawanya, karena tadi bocah itu memang sudah sarapan dirumah, berbeda dengan Arash yang sengaja ingin sarapan di ruumah sakit bersama Ziana.


Karena terlalu asyik dengan kegiatan mereka masing-masing, hingga tanpa mereka sadari bahwa tangan Zara bergerak, dan wanita itu pun sudah membuka matanya.




Sementara itu seorang perempuan terlihat berjalan dengan wajah ditekuk. Dia adalah Naysilla.



Bagaimana tidak, Sudah berapa perusahaan, cafe bahkan tempat laundry yang dia datangi, namun tidak ada satupun yang membutuhkan jasanya.



Naysilla yang selama ini tidak pernah bekerja, terpaksa harus mencari pekerjaan karena dia dan ibunya diusir oleh ayah kandungnya sendiri, karena sang ayah yang lebih memilih istri barunya dan anak haramnya, dibandingkan dengan naysilla dan ibunya yang sudah menemani dari nol.



Mengingat itu semua membuat Naysilla tambah kesal saja.



Satu fakta yang baru diketahuinya setelah hidup miskin bahwa ternyata selama ini ibunya mengidap penyakit kanker dan mau tidak mau Naysilla harus bekerja untuk membiayai pengobatan sang ibu, sebagai bentuk baktinya kepada wanita yang telah berjuang melahirkannya ke dunia ini.



Naysilla terus berjalan, hingga dia berhenti didepan sebuah perusahaan yang bernama Alister Group. Alister Group merupakan perusahaan terbesar ketiga di kota itu setelah Callista Group dan Wijaya Group tentunya.



Mata perempuan itu berbinar saat melihat pengumuman lowongan kerja yang tertempel disana. Dengan senyum bahagia, Naysilla melangkah mendekati satpam yang berjaga.



"permisi pak mau nanya, apa benar disini lagi buka lowongan pekerjaan?" tanya Naysilla sopan.



"iya neng benar" jawab satpam itu ramah.



"kalau saya mau daftar gimana caranya ya pak?" tanya Naysilla lagi, karena ini adalah pertama kali baginya. Dulu ia sama sekali tidak pernah berfikir untuk bekerja, karena ada sang ayah yang selalu menyediakan semua yang ia butuhkan tanpa harus dirinya mengeluarkan keringat lagi. Tapi sekarang tidak lagi, dirinya harus bekerja untuk biaya pengobatan ibu dan juga kehidupan sehari-harinya.




"begini saja neng, eneng masuk saja kedalam lalu temui resepsionis" usul satpam tersebut. "oh seperti itu, baik pak kalau begitu saya masuk dulu ya, terimakasih" jawab Naysilla sopan.



"sama-sama neng.." sahut satpam itu lagi.



Setelah mengucapkan kata terimakasih kepada satpam, Naysilla lalu masuk dan menemui resepsionis sesuai arahan yang diberikan oleh satpam tadi. Sesampainya didalam, ternyata sudah ada beberapa orang yang seperti ingin melamar pekerjaan juga seperti dirinya.



Naysilla diminta untuk menunjukkan surat lamaran kerja, CV (*Curriculum Vitae*) ijazah terakhir serta berkas-berkas lainnya yang nanti akan diperlukan.



"baik mba, silahkan duduk disebelah sana dulu, saya akan memeriksa berkas-berkas anda terlebih dahulu setelah itu kita akan langsung melakukan interview dilantai atas" ucap resepsionis tersebut dengan sangat ramah, sangat berbeda dengan resepsionis yang ada di novel-novel yang sering dibacanya.



Tapi tunggu dulu, apa katanya tadi? interview? oh tidak.. Wajah perempuan itu langsung terlihat panik setelah mengingat perkataan mba resepsionis tadi, yang mengatakan bahwa dirinya akan langsung melakukan interview hari ini juga.



"mari ikuti saya.." ucap resepsionis yang tadi, dia mengajak Naysilla dan juga beberapa calon pendaftar yang sudah menunggu lebih dulu darinya.



Naysilla dan yang lainnya lalu mengikuti mba-mba resepsionis itu memasuki lift yang akan mengantar mereka untuk sampai di ruangan bos yang akan melakukan interview.



Selama didalam lift tidak ada yang bersuara, mungkin karena sama-sama gugup dan lagi mereka tidak saling mengenal satu sama lain. Lift berhenti dan pintu lift tersebut terbuka dengan sendirinya, satu-persatu dari mereka keluar dari dalam lift, pun dengan Naysilla.



Disana mereka sudah disambut dengan mba-mba yang perutnya sedikit menonjol, sedangkan mba-mba resepsionis tadi yang Naysilla ketahui bernama Tasya itu pun kembali memasuki lift setelah berbicara sebentar dengan mba-mba yang perutnya agak sedikit menonjol.



Mba-mba itu ternyata bernama Tari, Tari merupakan sekertaris bos yang akan melakukan interview, dan bos tersebut sudah menunggu didalam ruangannya.



Satu-persatu dari keenam perempuan yang akan diinterview itu pun masuk kedalam ruangan bos. Mereka masuk sesuai urutan mereka datang tadi.



Kelima diantaranya sudah masuk dan ditolak oleh bos yang berada didalam, membuat Naysilla ingin menyerah saja, karena dirinya sama sekali tidak punya pengalaman kerja sebelumnya.



"Naysilla.. sekarang giliran kamu" ucap Tari yang membuat Naysilla dilanda panik.



"jangan gugup, rileks saja, bos orangnya baik kok, beliau hanya irit bicara saja, jadi kamu tidak perlu takut. Semangat" ujar Tari menyemangati Naysilla yang sudah terlihat pucat.



"terimakasih mba, saya akan melakukan yang terbaik" sahut Naysilla sebelum melangkah kearah pintu. Dengan tangan gemetar, Naysilla meraih kenop pintu tersebut kemudian membukanya.



*Cklek*



Pintu tersebut terbuka dan terlihatlah wajah bos yang berada didalam sana.



"kamu.." ucap Naysilla dan bos tersebut secara bersamaan.



\*\*\*\*\*