About Ziana

About Ziana
Chapter 156



Di sepanjang perjalanan menuju rumah Arash, Ziana hanya diam seraya menatap ke arah luar.


Lampu jalanan menerangi sepanjang perjalanan, namun bukan itu yang menjadi fokus Ziana.


Wanita itu terlihat seperti sedang berpikir, entah apa yang ia pikirkan tidak ada yang tahu.


Laki-laki bucin yang duduk di sebelahnya pun memberanikan diri untuk bertanya seraya menggenggam lembut tangan Ziana hingga membuat wanita itu mendongak dan menatap kearahnya, hingga pandangan keduanya bertemu.


"jangan berpikir terlalu keras sayang.." ucap si laki-laki bucin yang tidak lain adalah Arash, seraya menatap kedalam mata bening berwarna coklat milik sang istri.


"sekarang kamu punya aku, aku suami kamu, jadi kalau ada masalah apapun jangan pernah sungkan untuk membaginya juga dengan ku" lanjut Arash tanpa melepas tatapannya.


Mendengar penuturan lembut dari suaminya membuat Ziana merasa bersalah karena telah melupakan keberadaan suami bucinnya itu, tanpa sadar Ziana menunduk sehingga memutus tatapan mereka "maafkan aku.." ucapnya pelan.


Terbiasa mandiri sejak kecil membuat Ziana kerap melupakan keberadaan Arash yang sudah mengikat ikrar suci dengannya.


Arash memegang dagu Ziana sehingga membuat wanita itu kembali mendongak, hingga tatapan keduanya kembali bertemu "tidak perlu meminta maaf seperti itu sayang, aku mengerti.." ucap laki-laki itu bijak.


mendapat perlakuan semanis itu dari sang suami membuat Ziana langsung menghambur kedalam dekapan hangat milik Arash "terimakasih sudah ada untukku" kata Ziana dengan nada serak


Ziana yang sebelumnya memang tidak pernah mendapatkan perhatian tulus seperti itu seketika menjadi mellow sendiri


Bagai mendapat sebuah jackpot, Arash begitu bahagia mendapatkan pelukan tak terduga, dengan senyum lebarnya Arash membalas pelukan Ziana, laki-laki itu tidak menjawab? ucapan istrinya, hanya dekapannya yang semakin erat di tubuh mungil itu.


Jiwa jomblo sekertaris Jhon berontak melihat kemesraan bosnya melalui kaca spion. Pria yang sudah mapan untuk menikah itu hanya mampu menelan ludah dan pura-pura tidak melihat kebucinan yang dipertontonkan oleh bosnya tersebut.




Setelah kepergian Arash dan Ziana ruangan Gretha yang tadinya ramai seketika berubah menjadi hening.



Wanita yang baru melahirkan itu kini membelakangi Regan yang duduk di kursi samping brankar, dia masih betah dengan diamnya. Rupanya rasa kecewa masih bersarang di dalam hatinya yang rapuh. Ditambah lagi dia telah kehilangan calon anaknya, sehingga membuat wanita itu semakin rapuh.



Kebohongan yang telah di lakukan oleh Regan ternyata begitu fatal baginya hingga


ia sulit untuk memberikan maafnya.



Jika sedari awal Regan berkata jujur mungkin ia akan lebih bisa menerima, dan mungkin saja ia tidak akan kehilangan calon anak mereka, namun Regan tidak melakukan itu, hingga Gretha justru harus mengetahui kebenaran itu dari orang lain, yang notabenenya adalah adik tirinya, oleh sebab itulah dia merasa begitu kecewa.



"katakan aku harus apa agar kamu mau memaafkan aku lagi?" tanya Regan dengan nada yang terdengar putus asa namun Gretha masih tetap dengan mode diamnya seraya menutup kedua matanya, berpura-pura seolah dirinya sedang tidur.



Regan tahu itu, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa, pria itu terlihat menghela nafas kasar, seraya mengepalkan kedua tangannya, hingga urat-urat ototnya terlihat menonjol.



Setelahnya pria itu berdiri, ia memilih menarik diri dan memberikan wanita itu waktu untuk berfikir dan menerima semua kenyataan adalah pilihan terbaik yang akan dipilihnya.



Karena pada dasarnya kehilangan seseorang dalam hidup adalah suatu hal yang menyakitkan bagi yang ditinggalkan, terlebih jika sudah beda dunia, sakitnya akan berkali-kali lipat, oleh karena itulah Regan memberikan waktu untuk istrinya pun untuk dirinya sendiri.



Disini bukan hanya Gretha yang merasakan sakit akan kehilangan itu, tapi Regan pun sama, dan sepertinya pria itu pun butuh waktu sendiri, setidaknya untuk malam ini saja sebelum ia harus kembali menjadi


Regan yang kuat agar bisa melindungi orang-orang yang dicintainya.




Setelah memastikan semuanya aman barulah Regan pun meninggalkan kawasan rumah sakit itu dengan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.



Pria yang sedang kalut itu terus berkendara tanpa tahu akan kemana ia pergi. Dia butuh seseorang saat ini, namun karena tidak ingin membuat para sahabatnya cemas, Regan pura-pura baik-baik saja di hadapan mereka.



Sementara itu di rumah sakit, setelah tidak merasakan lagi keberadaan suaminya, Gretha membuka matanya secara perlahan.



Wanita itu menatap ke segala arah, melihat tidak ada siapa-siapa di ruangan itu selain dirinya membuat tangis yang sedari tadi di tahannya luruh.



Bahkan disaat seperti ini pun tidak seorangpun dari keluarganya yang peduli.



Sejak kecil Gretha selalu mendapat perlakuan berbeda dari keluarganya sebab statusnya yang merupakan anak tiri.



Ibunya meninggal saat ia masih berusia 5 tahun, dan beberapa bulan setelah ibunya meninggal, ayahnya menikah lagi dengan seorang janda muda yang ditinggal mati


oleh suaminya.



Pada 3 bulan pertama semua baik-baik saja, namun lambat laun wanita yang menjadi ibunya mulai memperlihatkan sifat aslinya. Sementara ayahnya yang jarang berada dirumah karena sibuk bekerja tidak mengetahui perbuatan jahat dari istri barunya kepada Gretha.



Semenjak saat itulah Gretha yang periang berubah menjadi pendiam.



Tanpa sadar wanita itu terisak ketika ia mengingat masa lalunya yang menyedihkan.



"kenapa tuhan tidak pernah adil padaku, aku hanya ingin hidup bahagia walau hanya sekali, tapi kenapa tuhan? kenapa kau


selalu mengambil apa yang menjadi kebahagiaanku.." ucap lirih Gretha.



Wanita itu terus saja menangis hingga ia terlelap setelah kelelahan.



Sementara itu di suatu tempat, Regan memilih untuk menghabiskan malamnya bersama dengan beberapa botol minuman keras yang ia bawa, minuman memabukkan yang selama ini sangat jarang ia sentuh rupanya menjadi opsi utama bagi pria itu untuk mengalihkan pikirannya yang kalut.



Regan terus meracau tak jelas setelah botol-botol itu berserakan di sekitarnya.



Perlahan-lahan Regan mulai kehilangan kesadaran, Regan tertidur setelah ia menghabiskan semua minuman memabukkan itu.



\*\*\*\*