About Ziana

About Ziana
Chapter 157



Keesokan harinya Ziana terbangun dengan 2 tangan yang masih melingkar di perut ratanya.


Tangan besar adalah milik Arash dan yang kecil adalah milik Attar.


Semalam kedua laki-laki berbeda usia itu tidak ada yang ingin mengalah, keduanya berebut ingin tidur di samping Ziana.


Attar yang pernah di tinggal selama beberapa hari untuk berbulan madu, tidak ingin lepas dari pelukan Ziana, sementara Arash yang sudah tidak bisa tidur tanpa memeluk istrinya pun sama tidak ingin mengalah nya,


(dasar bucin akut).


Ziana yang merasa pusing dengan kelakuan anak dan ayah itu pun memutuskan untuk tidur di tengah agar mereka tidak memperebutkan dirinya lagi.


Akhirnya malam itu mereka tidur bertiga di kamar Arash.


Dengan gerakan pelan, Ziana melepaskan diri dari kedua laki-laki beda generasi itu.


Setelah cuci muka dan gosok gigi Ziana menuruni tangga, tujuannya adalah dapur.


sama seperti wanita pada umumnya saat berada di rumah mertuanya, Ziana langsung turun kebawah setelah memastikan kedua laki-laki jagoannya masih terlelap.


Ketika sampai di dapur ternyata sudah ada mama Arianna yang bergelut dengan alat-alat dapur "selamat pagi Ma.." sapa Ziana kepada mama mertuanya.


Mama Arianna yang sedang fokus dengan bahan-bahan di depannya tidak menyadari keberadaan Ziana yang sudah berdiri di belakangnya.


"Loh.. Zi kok sudah bangun, ini kan masih sangat pagi nak.." ucap Mama Arianna setelah menoleh dan mendapati menantunya berdiri di belakang.


"Zi emang terbiasa bangun pagi kok Ma.."


"mama mau bikin apa biar Zi bantu" tanya Ziana lagi sambil menatap bahan-bahan


yang ada di atas meja.


"Mama mau bikin sop ayam kampung, ayam goreng kremes, sama perkedel jagung.." jawab mama Arianna, dan terlihat Ziana mengangguk-angguk mengerti.


Keluarga Wijaya memang penyuka makanan rumahan, jadi tidak heran jika setiap hari mama Arianna selalu menyediakan makanan ala rumahan.


"kamu mau bantuin mama?" tanya Arianna yang langsung di jawab anggukan.


Mama Arianna tersenyum "yasudah kamu tolong bersihkan sayuran itu ya.." ucap mama Arianna menunjuk ke arah sayuran yang berada di atas meja.


"baik Ma.."


Pagi itu Ziana dan mama Arianna memasak bersama untuk pertama kalinya. Mama Arianna tidak menyangka bahwa ternyata seorang Ziana Calista Lavanya yang merupakan CEO dari Callista Group perusahaan terbesar di kota itu bisa memasak, dan gerakannya sama sekali


tidak terlihat kaku.


Meskipun tidak terlalu jago, namun mama Arianna merasa beruntung karena memiliki menantu yang bisa memasak. Karena di masa sekarang sangat jarang seorang perempuan muda yang mau belajar memasak, contohnya adalah Aruna.


Disaat mama dan Ziana sudah hampir menyelesaikan masakannya, gadis itu masih asyik bergelut dengan selimutnya.


Aruna sangat jarang membantu mama Arianna di dapur, gadis itu selalu bangun terlambat, sehingga ia selalu terburu-buru berangkat ke sekolah.


Seperti pagi ini, Aruna menuruni tangga dengan tergesa-gesa, bahkan seragamnya masih terlihat berantakan.


"selamat pagi semuanya.." sapa Aruna kepada seluruh anggota keluarganya yang sudah duduk dengan tenang di kursi mereka masing-masing, bersiap untuk melakukan sarapan bersama.


"ya ampun Aruna.. itu baju kamu di kancing dulu yang benar" tegur mama Arianna kepada putri bungsunya.


"nanti aja Ma di mobil, ini udah telat banget.." jawab Aruna seraya meraih segelas susu dan sepotong roti yang ada di atas meja.


Papa Arnan hanya menggeleng melihat kelakuan putrinya yang mirip sekali dengannya sewaktu muda dulu.


"kamu pasti habis begadang lagi.." tuding mama Arianna yang memang benar.


"Aku lupa kalau hari ini udah mulai masuk sekolah lagi.." jawab Aruna sambil nyengir setelah menghabiskan roti dan susunya.


Ya, ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur tahun baru dan Aruna melupakan hal itu semalam.


"Aku pamit.." ucap Aruna lagi seraya mencium tangan semua orang yang berada di meja makan itu, pagi ini ia akan diantar oleh supir.


"kak Zi masih punya utang ya sama aku.." teriak Aruna setelah berjalan beberapa langkah lalu kembali menoleh ke arah Ziana.


Mendapat pernyataan seperti itu membuat semua orang menatap ke arah Ziana sedangkan Aruna sudah berlalu setelah membuat mereka semua bingung.


"sayang.. hutang apa yang bocah nakal itu maksud" tanya Arash seraya menatap Ziana yang duduk diantara dirinya dan Attar.


Kedua orangtuanya yang juga penasaran ikut menatap Ziana dengan tatapan penasaran


Ziana yang melupakan tentang hutang yang dimaksudkan oleh adik iparnya itu hanya mengangkat kedua bahunya seraya menampilkan ekspresi bingung.


Mama dan papa terlihat menghela nafas "sudah tidak usah terlalu di pikirkan ucapan anak nakal itu.." ujar mama Arianna kepada Ziana.


"iya Ma.."





Akhirnya Ziana dan Arash mengurungkan niat mereka untuk ke kantor, dan segera ke rumah sakit dimana Gretha dirawat. Tidak lupa Arash juga menghubungi kedua sahabatnya, Lucas dan Bryan.



Sekitar 30 menit, mobil Arash tiba di pelataran rumah sakit. Ziana segera turun di susul oleh Arash, keduanya lalu masuk.



Sesampainya didepan ruangan Gretha, ternyata semua teman mereka sudah berkumpul disana.



"bagaimana, apa sudah ada kabar?" tanya Ziana menatap dingin kepada semua anggota Bloody Rose secara bergantian.



"Belum queen" jawab mereka secara serempak.



"Apa semua tempat yang sering dia datangi sudah kalian periksa?" tanya Ziana lagi.



Mereka semua menunduk seraya menggeleng.



"sekarang kita berpencar, kita harus segera menemukan Regan sebelum ada pihak musuh yang mengetahui masalah ini" titah Ziana secara tegas



"baik queen.." ucap mereka lagi secara serentak kemudian pamit untuk melakukan pencarian.



Sementara itu didalam ruangan, Gretha yang mendengar suara ribut-ribut di depan ruangannya memaksakan diri untuk berdiri dan menguping pembicaraan.



Samar-samar wanita itu mendengar jika Regan menghilang dan tidak bisa di hubungi.


Jujur saja ia merasa bersalah dengan kejadian itu.



Gretha yang masih lemas tidak mampu menjaga keseimbangannya sehingga membuat ia terjatuh.



*Bruuukk*



Ziana, Arash, Bryan, Lucas dan dokter Valerie yang masih berada di depan ruangan saling pandang kemudian secara kompak menoleh ke arah pintu.



*Cklek*



Bryan yang posisinya paling dekat dengan pintu menjadi orang pertama yang berhasil membuka pintu itu.



Ketiga laki-laki itu segera membantu Gretha kemudian membaringkannya di atas brankar, sementara Ziana segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Gretha.



Meskipun ada Valerie yang juga merupakan seorang dokter di rumah sakit itu, namun dia tidak bisa seenaknya memeriksa, sebab Gretha bukan pasiennya. Apalagi Lucas memberinya syarat jika ingin tetap bekerja maka dia tidak diperbolehkan untuk mengambil pasien lebih dari tiga dalam sehari, dan Valerie sudah menyetujuinya asalkan dia bisa tetap bekerja, sebab Valerie tidak suka jika ia harus berdiam diri di rumah tanpa melakukan apapun.



\*\*\*\*\*