About Ziana

About Ziana
Chapter 164



Di sisi lain tepatnya di kediaman keluarga Wijaya, terlihat mama Arianna sudah sibuk menyiapkan berbagai macam masakan untuk menyambut kedatangan anak dan menantunya.


"selesai.." ujarnya lega setelah semua menu sudah tertata dengan rapi di atas meja.


Wanita paruh baya itu berkacak pinggang, menatap puas hasil kerja kerasnya sejak pagi tadi, bersama dengan beberapa art yang turut membantunya.


"kalian boleh beristirahat" ucapnya kepada para art yang sudah membantu dirinya.


"baik, Nyonya" sahut mereka kompak


Setelah itu, mama Arianna berjalan menuju kamarnya untuk memperbaiki penampilannya sekaligus mengambil handphonenya untuk menghubungi sang anak.


Jari jemari mama Arianna dengan lincah mulai berselancar pada benda berbentuk persegi itu, mencari kontak sang anak


Anak nakal


begitu menemukan kontak Arash, segera jari lentiknya menekan ikon call yang berwarna hijau


Mama Arianna berdecak keras kala terdengar suara operator yang menyatakan bahwa nomor Arash sedang diluar jangkauan


"CK..dasar anak nakal, ditelpon malah gak aktif" dumelnya sambil mengutak-atik ponselnya mencari kontak yang bisa dihubungi.


Ah iya sekretaris Jhon


Segera setelah nama sekretaris sang anak terbesit dalam pikirannya, Mama Arianna kembali berseluncur mencari kontak si sekretaris tersebut.


Sekretaris kaku


Dengan cepat mama Arianna menekan tombol call setelah menemukan nama sang sekretaris kaku.


Saat sekretaris Jhon sedang fokus mengemudi tiba-tiba ponsel yang berada disaku kemejanya bergetar.


Dengan malas sekertaris Jhon meraih ponsel tersebut dan melihat nama yang tertera.


Sekretaris Jhon melirik Arash sejenak sebelum berucap "maaf Tuan, nyonya besar menelpon"


Mendengar bahwa mamanya yang menelpon, Arash buru-buru menyudahi aktivitas ber manjanya kepada sang istri.


"angkat saja" ucapnya cuek "loud speaker" sambungnya lagi dengan nada tegas


"Baik tuan" setelah berucap demikian pria itu segera mengusap tombol hijau pada layar persegi miliknya lalu menyerahkannya kepada sang tuan.


("Arash mama tahu kamu ada disitu kan?") cerca mama Arianna tanpa basa-basi.


wanita itu sudah hafal jika anaknya dan sekertaris Jhon sudah seperti prangko yang selalu menempel satu sama lain.


"ada apa sih, Ma? kan mama bisa nelpon ke nomor aku, kenapa malah nelponnya ke sekretaris aku"


("dasar anak nakal, mama sudah menghubungimu berkali-kali tapi gak bisa-bisa") dengan suara lantang dan semangat 45 mama Arianna mengomeli Arash yang sudah menutup kedua telinganya tanpa sepengetahuan sang mama.


Ziana hanya diam dan kembali fokus dengan pekerjaannya, memilih untuk tidak ikut campur urusan antara anak dan ibu itu jika ingin hidup tenang di rumah utama.


"sayang bantuin.." seraya memegang lengan sang istri, Arash merengek membuat Ziana memutar bola matanya malas.


Semenjak menikah, sifat Arash berubah 180 derajat berbanding terbalik dengan sifatnya yang dulu sebelum mengenal Ziana.


Menghela nafas kasar, Ziana meraih ponsel sekretaris Jhon yang ada tergeletak di atas paha sang suami


"Assalamualaikum, Ma" ucapnya sopan kepada wanita yang sudah melahirkan dan membesarkan suaminya itu


("Wa'alaikumsalam sayang, kalian ada dimana? kalian jadi kan, pulang hari ini?") Dengan lembut mama Arianna bertanya kepada menantunya, sangat berbeda ketika ia berbicara dengan sang anak.


"Iya Ma, ini udah dijalan kok, sebentar lagi nyampe" beritahu Ziana apa adanya.


"Oh yasudah kalau begitu Mama tutup ya telponnya, kalian hati-hati dijalan" setelah berucap demikian sambungan telepon pun berakhir


Ziana menyodorkan kembali ponsel milik sekretaris Jhon namun dengan cepat sang suami posesif dan bucinnya itu merebut benda berbentuk persegi tersebut dari tangannya. "Sayang biar aku saja"


Lagi dan lagi Ziana hanya bisa menghela nafasnya dengan tingkah laku Arash.


Sedangkan sekretaris Jhon yang duduk dibelakang kemudi hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah tuannya.


Dasar Tuan, bucin akut



Benar saja, tidak butuh waktu lama kini mobil yang dikemudikan oleh sekretaris Jhon telah memasuki halaman keluarga Wijaya.




Buru-buru wanita paruh baya yang masih energik itu setengah berlari menuju pintu untuk menyambut kedatangan anak dan menantunya.



Para asisten rumah tangga pun sudah berbaris rapi untuk ikut menyambut kedatangan anak majikannya yang baru keluar dari rumah sakit.



"Welcome back home" dengan serempak mama Arianna dan para art berucap setengah berteriak, saat kaki jenjang Arash dan Ziana tiba di depan pintu utama rumah itu.



"Thank you, Ma" Arash tidak menyangka mama Arianna akan melakukan semua ini hanya untuk menyambut kepulangannya



Laki-laki itu merasa terharu dengan perlakuan sang mama, segera laki-laki itu memeluk sang mama yang telah melahirkannya ke dunia ini.



Meskipun selama ini mereka sering berdebat, namun sebenarnya keduanya saling menyayangi satu sama lain.



Ziana yang melihat itu pun ikut tersenyum, dirinya ikut bahagia melihat kedekatan yang terjalin antara suami dan ibu mertuanya.



Setelah beberapa saat Mama Arianna melerai pelukannya "udah gak usah mewek, ayo masuk mama udah masak banyak buat kalian" ledek mama Arianna yang sudah kembali ke mode ngeselin menurut versi Arash.



Arash memberengut dengan ledekan sang mama, namun tidak ada yang bisa diperbuat oleh laki-laki itu selain menuruti permintaan dari wanita kesayangannya.



Arash meraih tangan Ziana dan menggenggamnya, menuntun sang istri untuk mengikuti langkah mama Arianna yang sudah masuk lebih dulu, sementara sekretaris Jhon meminta izin untuk kembali ke kantor setelah mengantar kan barang-barang Arash ke dalam kamar.



Kabar baik lainnya datang dari pasangan Regan dan Gretha.


Semenjak kepulangan Regan pasca penculikan tempo hari, Gretha akhirnya memutuskan untuk memaafkan dan menerima Regan kembali.


Keduanya telah sepakat untuk memulai kembali hubungan mereka dan berjanji untuk saling terbuka dan tidak ada lagi rahasia diantara mereka.


Regan akhirnya bisa bernafas lega sebab masalah keluarganya sudah terselesaikan, meskipun ia harus kehilangan buah cintanya bersama sang istri, namun laki-laki itu sudah mengikhlaskan, begitu pun dengan Gretha.


Hari-hari berikutnya mereka lalui dengan penuh cinta dan kasih sayang.


Regan tidak pernah sekalipun beranjak dari rumah sakit, laki-laki itu begitu setia di samping Gretha, menjaga dan merawat Gretha yang sedang dalam masa pemulihan.


Hingga pada keesokan harinya, perempuan itu akhirnya diperbolehkan untuk pulang setelah dokter selesai memeriksa kondisinya.


"Terimakasih banyak atas bantuannya, dok" ucap pasangan itu secara bersamaan.


Dokter tersebut tersenyum dengan kekompakan pasiennya "itu sudah menjadi kewajiban saya sebagai dokter, permisi" setelah berucap demikian dokter tersebut berlalu dari ruang perawatan Gretha.


Setelah itu, Regan segera mengemas barang-barang mereka


Selang beberapa saat "ayo sayang.." dengan senyum yang tidak pernah hilang dari bibirnya, Regan mengulurkan tangan kehadapan sang istri setelah semua barang sudah rapi, dan siap untuk dibawa pulang.


Dengan senang hati Gretha meraih tangan kokoh itu dan memegangnya erat, seolah takut jika Regan akan pergi lagi.


Mereka keluar dari ruangan tersebut dengan Gretha yang bergelayut manja di lengan kanan sang suami, sementara di lengan kirinya, Regan membawa sebuah tas yang berisi barang-barang milik Gretha dan barang miliknya.


Dari kejauhan, sepasang mata terus mengamati mereka dengan tatapan marah dan tangan yang terkepal erat.


Breng**k tidak akan kubiarkan kalian hidup bahagia setelah apa yang kalian perbuat terhadap keluargaku.


****