About Ziana

About Ziana
Chapter 175



**Hai salam kenal..


Saat kamu membaca surat ini, saya pasti sudah tidak ada. Haaahh.. sayang sekali, padahal kita belum sempat bertemu dan bertatap muka secara langsung juga berkenalan lebih dekat.


Kamu mungkin bertanya-tanya tentang siapa saya? yah ini memang agak sedikit membingungkan untukmu, dan saya tidak tahu harus memulai dari mana.


Ada banyak hal yang ingin saya sampaikan, namun tanganku sedikit bergetar saat menulis surat ini. Dan melalui surat ini, saya hanya ingin mengatakan satu hal padamu yaitu, "jangan menyalahkan dirimu sendiri atas apa yang terjadi dengan saya" karena semua ini telah menjadi takdir yang terindah untuk saya.


Harus kamu tahu Nak, bahwa apa yang saya lakukan untukmu tidaklah sebanding dengan kesalahan yang pernah saya lakukan di masa lalu, terkhususnya kepada ibumu.


Jadi, maukah kamu berjanji kepada pria tua ini, untuk melanjutkan hidupmu dengan bahagia, dan tidak menyalahkan takdir ini, cucuku?


^^^♡Salam sayang kakek untuk kalian♡^^^


"Kakek?.." Aruna bergumam lirih, dan tangannya yang bergetar usai membaca isi dari surat tersebut.


"Aruna, ada apa Nak? apa isi suratnya?" Tanya sang papa beruntun, khawatir melihat keterdiaman Aruna usai membaca surat tersebut.


"Pa, Ma, Aruna mau melihat wajah orang itu untuk yang terakhir" pintanya menatap kedua orangtuanya dengan mata berkaca-kaca.


"Tapi kondisimu masih belum stabil, sayang" Sela mama Arianna.


"Aruna mohon Ma, Pa, Sekali ini saja" gadis itu memohon kepada kedua orangtuanya.


Sejak dulu ia ingin punya kakek sama seperti teman-temannya, sementara kakek neneknya dari sang papa sudah meninggal jauh sebelum dirinya lahir, sedangkan kakek dari mama pun katanya telah meninggal meski ia tidak pernah tahu dimana makamnya.


Setelah mengetahui fakta baru bahwa yang mendonorkan darah untuknya merupakan Kakek kandungnya, Aruna bersikeras ingin melihat rupa sang kakek untuk yang terakhir kalinya.


Papa Arnan yang tidak tega melihat kesedihan yang tergambar di mata sang putri pun akhirnya mengangguk, lagian tidak ada salahnya juga menuruti keinginan Aruna, toh biar bagaimanapun orang tersebut telah  menyelamatkan nyawa Aruna dan mengorbankan nyawanya sendiri.


~


~


Dengan dipandu oleh seorang perawat, ketiganya kini telah tiba di kamar jenazah, dimana mayat sang kakek terbaring kaku.


Meski sudah dilarang, Aruna tetap memaksa untuk berdiri dari kursi rodanya dan berjalan pelan menuju jenazah sang kakek yang hingga akhir pun tidak ia ketahui nama dan wajahnya.


"Silahkan di buka, ini adalah jenazah yang anda maksud" ujar perawat laki-laki tersebut menunjuk salah satu brankar yang tertutupi oleh kain.


Dengan tangan yang bergetar dan jantung yang berdebar cepat, Aruna mulai menyentuh kain penutup berwarna putih tersebut lalu membukanya pelan.


Aruna mengamati wajah pucat yang terlihat damai dalam tidur panjangnya. Meski sudah mengeriput namun masih terlihat tampan dengan alis tebal dan rahangnya yang tegas.


Jika diperhatikan, wajah pria tua itu memiliki kemiripan dengan kakaknya, Arash, meski lebih tampan sang kakek, menurut Aruna pribadi.


Pelan, Aruna menyentuh wajah pucat itu dengan tangan bergetar menahan tangisnya, lalu berpindah ke tangan keriput milik sang kakek dan menggenggamnya hangat *Hai Kek, sebelumnya salam kenal, ini aku Aruna, cucu kakek yang paling cantik. Sebenarnya aku ingin protes, kenapa kakek harus berkorban nyawa demi Aruna? dan Kenapa kita harus bertemu dalam keadaan seperti ini? Kakek tahu, dari dulu Aruna ingiiiinn banget punya kakek seperti teman-teman yang lain, tapi kata nenek, kakek sudah tidak ada.*


Aruna terus membatin, seolah sang kakek bisa mendengar suara hatinya, hingga pertahanan gadis itu runtuh, air mata yang sejak tadi ia tahan kini tak dapat lagi ia bendung.


Gadis itu menangis hingga membuat kedua bahunya bergetar dan mengundang rasa ingin tahu di hati kedua orangtuanya tentang siapa dan apa isi dari surat yang Aruna baca hingga membuatnya sesak dalam tangisnya.


Papa Arnan perlahan mendekat, dengan mama Arianna yang bergelayut manja di lengan kekarnya. Sejak tadi pagi wanita paruh baya itu sudah merasakan tidak enak dengan perasaannya, dadanya terus berdenyut kencang dan ia merasa sesak didalam sana.


Dokter yang memeriksa pun tidak menemukan gejala yang serius, ia hanya diminta untuk istirahat yang cukup dan jangan terlalu banyak berpikir.


"Tuan Abian.." gumam papa Arnan terkejut saat melihat wajah pucat dari malaikat penolong Aruna.


*Apa mungkin papa tahu sesuatu?* Batinnya menerka-nerka.


Sementara dibelakang mereka, mama Arianna sudah menegang, entah kenapa ia merasa semakin sesak melihat wajah pucat tersebut. Ingin rasanya ia menangis, namun karena tidak ingin membuat orang-orang disekitarnya khawatir, sebisa mungkin air matanya ia tahan agar tidak sampai jatuh.


"Siapa yang tidak mengenal beliau? Tuan Abian Ravindra, merupakan seorang pebisnis ternama yang sangat disegani. Papa tidak menyangka jika pria yang terkenal dingin sepertinya sampai rela mengorbankan nyawa demi seorang gadis seperti kamu"


Aruna mendengarkan kata perkata dari sang papa dengan saksama hingga papanya selesai berbicara "Pa, Aruna punya satu permintaan"


Arnan menatap kedalam mata putrinya "permintaan? Apa itu"


Ada keraguan dalam diri Aruna yang bisa ditangkap oleh papa Arnan "katakan, papa akan mengabulkan jika itu mampu" ujarnya meyakinkan.


"Aruna ingin kita mengadakan pengajian di rumah untuk Ka.. maksudnya Tuan Abian"


________________________


Bryan, Robin, dan beberapa anak buah Robin tiba di depan sebuah rumah yang terlihat besar dan megah.


Sebelum turun dari mobil, Bryan mengamati rumah tersebut dengan penuh tanda tanya *Sebenarnya apa motif orang tersebut menculik Attar?* Jika untuk memeras Arash dan keluarganya rasanya sangat tidak mungkin, dilihat dari rumahnya saja sepertinya kekayaan mereka hampir setara.


*Musuh dalam dunia bisinis?* Bryan menggeleng, sahabatnya itu sepertinya tidak memiliki musuh apapun dalam urusan pekerjaan, Arash tidak pernah berbuat curang, laki-laki itu bersih, Bryan mengakui hal itu.


Sembari menunggu kedatangan Ziana, pria itu terus menerka-nerka, hingga dering ponsel Robin yang cukup keras berhasil membuyarkan lamunannya.


"Saya angkat telepon dulu" pamit pria dingin itu sebelum keluar dari mobil.


"Hmm.."


~


~


~


Arash terus memacu kuda besinya kencang sesuai instruksi dari sang istri tentu saja.


Meski sering berbuat hal konyol di hadapan Ziana, namun jika dalam mode serius seperti sekarang, laki-laki itu bisa lebih gila daripada Ziana.


Waktu masa putih abu-abu, Arash sering kabur lewat jendela kamarnya untuk balapan liar, jadi keahliannya dalam mengemudi tentu tidak diragukan lagi.


Bahkan Ziana yang juga memiliki keahlian mengemudi di atas rata-rata berdecak kagum dengan kemampuan suaminya yang baru kali ini ia perlihatkan.


Beberapa menit kemudian, mobil yang sangat Ziana kenal sudah terlihat didepan sana.


"apa benar disini tempatnya?" tanya Arash ragu, laki-laki itu sangat tahu dimana mereka berada saat ini. Sebuah perumahan elit yang kebanyakan di huni oleh para pejabat negara dan politikus.


Jika dipikir-pikir rasanya sangat tidak mungkin jika Attar diculik oleh pejabat ataupun politikus, karena seingat Arash, dirinya tidak pernah bersinggungan dengan salah satu dari mereka.


"Di depan adalah mobil Robin, asisten pribadi milik kakek, dan didalam sana juga ada Bryan yang menunggu kita" jelas Ziana menunjuk mobil yang parkir didepan mereka.


Arash hanya bisa mengangguk dan mengikuti arahan dari sang istri sudah ikuti saja, toh perempuan kan selalu benar batin laki-laki itu sebelum turun, menyusul Ziana yang sudah beberapa langkah di depan sana.


******