About Ziana

About Ziana
Chapter 128



"bagaimana apa kamu sudah bertemu dengan anakmu?" tanya Luis setelah meletakkan cangkir berisi kopi yang sisa setengah.


Zara yang mendengar pertanyaan Luis langsung memasang wajah sedihnya.


"maaf tidak bermaksud membuatmu sedih, tapi mau sampai kapan kamu bersembunyi seperti ini terus?"


"aku tahu, tapi aku belum siap menerima penolakannya" sahut Zara tertunduk.


"kamu terlalu pesimis" seru Luis gemas dengan sikap Zara yang menurutnya sangat pesimis.


"dulu aku yang meninggalkannya, dan tidak pernah menjadi ibu yang baik untuknya, jadi bukan tidak mungkin kalau dia akan membenciku" ucap Zara dengan suara tercekat.


"perasaan seseorang itu bisa berubah, jika kamu tidak mencobanya, maka selamanya kamu akan terus dihantui rasa bersalah padanya, selamanya kamu hanya akan menjadi pecundang"


perkataan Luis sukses membuat Zara menangis, air mata yang sedari tadi ditahannya pun luruh, pertahanan wanita itu runtuh, hanya dengan satu kalimat yang dilontarkan oleh Luis.


Luis merutuki mulutnya sendiri yang sudah membuat wanita itu menangis.


"maafkan aku" sesal Luis yang sudah berlutut dihadapan Zara.


Zara mengangkat kepalanya lalu tersenyum kearah Luis "terimakasih, karena sudah menyadarkan aku" ujarnya.


Mereka saling pandang selama beberapa detik, sebelum Zara mengalihkan pandangannya kearah lain.


Luis bangkit, kemudian berjalan kembali ke kursi yang tadi ia duduki.


"aku akan menemuinya" ucap Zara optimis, sungguh kehadiran Luis membuat wanita itu merasa mempunyai kekuatan lebih untuk menjalani hidup.


Mendengar itu membuat Luis tersenyum bangga, karena wanita dihadapannya itu sudah berani menghadapi kesalahan yang pernah dia perbuat di masa lalu.



"Kamu yakin ini alamat kakek kamu?" tanya Arash memastikan, dan lagi-lagi Ziana mengangguk mantap.



"terimakasih sudah mengantarku, kau kembali lah" ucap Ziana bersiap turun.



"sayang kamu mengusirku?" tanya Arash dengan raut kecewa.



Ziana menghentikan gerakan tangannya yang sudah bersiap membuka pintu mobil, ia kemudian menoleh "aku tau kau banyak pekerjaan, aku hanya tidak ingin kamu menunda rapat karena ku" tutur Ziana lembut.



Didalam hatinya Arash membenarkan ucapan Ziana. "tapi kalau kamu ingin menemaniku masuk, aku pun tidak keberatan sama sekali" ujar Ziana lagi seraya tersenyum manis.



"benarkah?" Seru Arash.



Ziana mengangguk, namun sebelum mereka turun handphone Arash berdering membuat Ziana kembali menoleh.



"kenapa tidak diangkat?" celetuk Ziana melihat Arash menolak panggilan itu dan memasukkan ponselnya kembali kedalam saku celananya.



"tidak perlu itu hanya.." ucapan Arash terpotong karena lagi-lagi ponselnya berbunyi.



"angkatlah dulu, aku akan menunggu diluar" saran Ziana.




"katakan, ada apa kau menelpon ku?" tanya Arash tanpa basa-basi.



"Apa? tidak bisakah kamu mengurus masalah ini sendiri?" raut wajah yang semula lempeng itu berubah menjadi marah, setelah mendengar penjelasan sekertarisnya di ujung sana.



"baik saya segera kesana" setelah mengucapkan itu Arash mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.



Laki-laki itu pun turun untuk memberitahu Ziana bahwa dia tidak bisa ikut masuk karena di kantor sedang ada masalah, yang membuat Arash harus turun tangan sendiri.



"sayang.. maaf sepertinya aku tidak bisa menemanimu kedalam, di kantor sedang ada masalah jadi aku harus segera kesana" ucap Arash penuh sesal.



Ziana tersenyum lalu meraih kedua tangan Arash "tidak apa, sebagai seorang CEO ini adalah tugasmu, jadi pergilah" kata Ziana.



Sebagai sesama pimpinan di sebuah perusahaan, membuat Ziana mengerti pekerjaan Arash, jadi ia sama sekali tidak mempermasalahkan semua itu.



Setelah berpamitan mobil yang dikendarai Arash pun meninggalkan halaman rumah kakek Abian.



Ziana menghela nafas lega setelah mobil Arash tidak terlihat lagi, jujur saja Ziana belum siap untuk memperkenalkan Arash kepada kakek Abian.



Tapi Ziana berjanji akan secepatnya mempertemukan keduanya, namun sebelum itu dia harus berbicara empat mata dengan sang kakek.



Wijaya Group


Sesampainya di kantor Arash sudah disambut oleh sekertarisnya, siapa lagi jika bukan Jhon.


"bagaimana?" tanya Arash.


Saat ini mereka tengah berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai atas, dimana ruangan Arash terletak.


"kami sudah menemukan penghianat nya tuan" Lugas Jhon.


" kerja bagus, dimana dia?" tanya Arash lagi, yang kini melangkah masuk ke dalam lift diikuti oleh sekertaris Jhon.


"dia berada di ruangan saya tuan bersama ketua divisinya" terang Sekertaris Jhon.


"bawa dia keruangan saya" titah Arash, bertepatan dengan pintu lift yang terbuka.


"baik tuan" sahut Jhon yang menyanggupi permintaan Arash.


Keduanya berpisah disana dan masuk kedalam ruangan mereka masing-masing.


Bersambung~~~


Happy Reading 💞💞 💞