
Arash tiba di sekolah Attar, laki-laki itu turun dari mobil dengan tergesa, karena khawatir dengan sang anak dan juga sang pujaan hati.
Arash berjalan dengan santai, dengan kemeja putih yang digulung sampai siku, dan dua kancing atas yang sudah terbuka, memperlihatkan dadanya yang bidang dan juga bulu-bulu halus yang tumbuh di area dada.
Semua perempuan yang melihat pemandangan itu tanpa sadar membuka mulut mereka karena mendapat tontonan hot dari duda 1 anak itu.
Sementara sang pelaku hanya berlalu dengan cuek seolah-olah tidak ada siapapun yang melihat kearahnya.
Sesampainya di ruang guru Arash langsung menatap keadaan anak dan pujaan hatinya. Laki-laki itu bernafas lega karena keduanya dalam keadaan baik-baik saja tanpa terluka sedikitpun.
"permisi.." ucap Arash masih mengerti tentang nilai kesopanan.
Pak Burhan berdiri dan berucap "tuan Arash, silahkan masuk dan silahkan duduk" ucapnya mempersilahkan selaku kepala sekolah.
"terimakasih, tapi saya sedang tidak ada waktu untuk berbasa-basi" ucap Arash namun tetap duduk dihadapan sang kepala sekolah.
"bisa langsung ke intinya saja?" tanya Arash dengan nada datar setelah duduk dihadapan pak Burhan.
Pak Burhan terlihat menelan ludah sebelum menjawab "sebenarnya ibu itu menuntut pertanggungjawaban karena maaf Attar anak anda telah mendorong temannya hingga lututnya berdarah" ujar Pak Burhan menjelaskan langsung ke inti masalahnya sebelum Arash marah.
"lalu?" Arash masih meminta penjelasan yang lebih.
"lalu saudari Ziana ini yang ingin bertanggungjawab, namun ibu itu," sambil menunjuk ibu dari temannya Attar "tidak setuju karena merasa bahwa nona Ziana tidak berhak"
Satu alis Arash terangkat sambil menoleh kepada ibu-ibu itu sambil menyeringai "kata siapa bahwa dia" menunjuk Ziana dengan matanya " tidak berhak?" lalu kembali menatap ibu-ibu itu dengan tatapan tajam, membuat ibu itu bergidik ngeri.
Namun sebisa mungkin ibu itu tidak memperlihatkan bahwa dirinya tidak gentar dengan tatapan tajam yang di layangkan oleh seorang Arash Wijaya.
"karena dia bukan bagian dari anggota keluarga anda" ucapnya merasa menang.
"wahh.. sepertinya anda sangat tahu tentang keluarga saya rupanya" ucap Arash sarkas. Sementara Ziana hanya diam menyaksikan tindakan apa yang akan dilakukan laki-laki itu.
Si ibu itu tersentak karena telah melakukan kesalahan, namun sebisa mungkin mencoba tetap tenang.
"biar kuberi tahu satu hal, bahwa dia" sambil menunjuk Ziana "adalah calon istri saya" ucap laki-laki itu tanpa dosa.
Ziana terkejut, perempuan itu terdiam ditempatnya sambil melotot tajam kearah Arash, yang tidak tahu malunya telah mengatakan suatu kebohongan, sementara sang pelaku hanya santai sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Ziana.
Sama halnya dengan Ziana si ibu itupun ikut terkejut mendengar ucapan Arash 'tidak..ini tidak mungkin' batin ibu itu sambil menggeleng pelan.
Saat semua orang terdiam Attar dan Dita diam-diam malah tersenyum mendengar ucapan Arash barusan.
Sementara itu di kota S, Lucas dan kedua rekannya yaitu Tristan dan Fero baru saja sampai.
Tanpa membuang waktu ketiganya langsung ke titik lokasi yang dikirimkan oleh detektif Jo. Mereka pergi setelah menyusun rencana dan tidak lupa ketiganya melakukan penyamaran untuk berjaga-jaga jika situasi disana seperti dengan dugaan terburuk mereka.
"lo yakin ini alamatnya?" tanya Tristan setelah mereka sampai didepan sebuah gedung tua yang terlihat sudah lama tidak beroperasi, karena terlihat tidak terawat.
"jika dilihat dari maps harusnya sih sudah bener ini alamatnya" jawab Lucas sambil memperhatikan keadaan sekitar yang terlihat sepi.
"nah itu ada orang lewat, coba kita tanya dulu sama mereka" tunjuk Fero yang melihat 2 orang pemuda yang kebetulan lewat.
"permisi mas mau numpang nanya boleh" ucap Lucas dengan sopan.
"iya mas ada apa?" tanya salah satu dari mereka.
Lucas lalu memperlihatkan alamat yang sudah ditulisnya pada secarik kertas, lalu memperlihatkannya kepada kedua pemuda itu.
"apa ini benar alamatnya disini?' tanya Lucas lagi.
"iya benar mas, tapi kalau boleh saran sebaiknya jangan masuk kesana deh mas, bahaya" ucap nya.
Fero yang penasaran lalu bertanya "bahaya kenapa ya mas, kalau boleh tahu?"
"didalam sana tuh terkenal angker mas, dan juga sering dijadikan tempat persembunyian bagi para preman mas, kalau istilahnya sih, markas gitu mas" jelas pemuda tersebut.
"oowhh begitu yaa, makasih ya mas" ucap Lucas sambil tersenyum.
"iyaa Sama-sama, kalau begitu kami permisi" pamit keduanya membalas senyum Lucas.
Setelah kedua pemuda itu pergi, mereka kembali masuk kedalam mobil.
"jadi bagaimana? mau tetap sesuai rencana?" tanya Fero.
"kalau menurut gue mending kita ubah rencana deh, ini kayaknya gak akan mudah" jawab Tristan yang sedari tadi hanya diam.
"gue setuju, untuk sementara kita pantau dulu, kalau ada pergerakan yang mencurigakan baru kita bergerak, kita juga belu tahu seluk beluk dari gudang itu" ujar Lucas.
Keduanya mengangguk, setelah itu mereka meninggalkan tempat tersebut, dan kembali ke penginapan yang telah mereka sewa sebelumnya.
\*\*\*
Happy Reading 💞💞 💞