About Ziana

About Ziana
Chapter 28



Sesuai yang telah di sepakati, kini Arash berjalan ke sebuah cafe yang telah di tentukan oleh kedua sahabatnya.


"permisi mba, reservasi atas nama Bryan di sebelah mana ya?" tanya Arash kepada seorang resepsionis.


"oh tuan Arash ya?" tanya resepsionis itu sopan.


"iya benar"


"mari saya antar"


Arash berjalan tepat di belakang sang resepsionis.


"terimakasih mba" ucap Arash ketika sampai di meja pesanan Bryan.


"terimakasih cantik" seloroh Lucas sambil mengedipkan sebelah matanya kepada sang resepsionis.


Bryan yang jengah melihat kelakuan Lucas, menendang kaki temannya itu di bawah meja membuat sang empu meringis.


"sama-sama tuan, saya permisi" resepsionis itu pun berlalu dengan wajah merona karena kedipan maut yang di beri Lucas.


"gila lu Bry, sakit tau" keluh Lucas memegangi kakinya.


"makanya gak usah tebar pesona"'ledek Arash yang kini duduk di dekat Bryan.


"Btw sorry gue telat, tadi ada meeting dulu" ucap Arash merasa tak enak.


"gak apa-apa, udah biasa kan seorang Arash Wijaya yang selalu telat karena kesibukannya" seloroh Lucas.


"lumayan bisa cuci mata, disini ceweknya cantik-cantik" lanjut Lucas lagi mencairkan suasana.


"Cewek mulu yang lo pikirin" tukas Bryan.


"realistis aja sih bry, kita tuh laki-laki gak bisa hidup tanpa ah uh ah uh" ujar Lucas sambil tertawa puas tanpa dosa.


plak


Sebuah buku menu mendarat di bahu Lucas.


"hahaha lagian kalian berdua serius amat sih" bukannya marah, pria tampan itu malah semakin tertawa.


"udah stop.. gue lagi banyak kerjaan hari ini, jadi bisa to the point aja langsung, hal penting apa yang mau kalian omongin" ucapan Arash menghentikan tawa Lucas dan aksi Bryan yang hendak kembali memukul sahabat lucknutnya itu.


Bryan menghela nafas terlebih dahulu sebelum buka suara.


"Cas tunjukin"


"lo liat ini dulu" ucap Lucas mengarahkan laptop miliknya kepada Arash.


"jadi.." belum sempat Arash menyelesaikan perkataannya Lucas sudah memotongnya.


"yap sesuai dugaan lo kemaren" seloroh Lucas.


"kalian udah punya rencana?" tanya Arash setelah terdiam beberapa saat.


Bryan menggeleng.


Arash memang sudah memprediksi akan hal ini, namun tetap saja Arash sedikit terkejut, karena prediksinya ternyata benar, apalagi dalang di balik mereka adalah Scorpion.


Scorpion merupakan geng mafia yang paling berbahaya dan di takuti oleh mafia manapun di negeri ini.


Bahkan The Braves sendiri belum mampu untuk melawan Scorpion.


"gue punya ide" cetus Lucas tiba-tiba setelah selesai mengutak-atik layar handphonenya.


Bryan dan Arash menoleh secara bersamaan.


"apa?" tanya keduanya lagi-lagi hampir bersamaan.


Lucas membisikkan rencana yang di maksud kepada kedua sahabatnya.


"dari geng mana?" tanya Bryan.


"apa lo yakin ada yang mau?" kini Arash yang bertanya.


"udah kali ini kalian percaya sama gue"


"gue banyak koneksi dari beberapa geng mafia, jadi kalian tenang aja" ucap Lucas lagi, meyakinkan keduanya.


akhirnya Arash dan Bryan mengangguk mengiyakan rencana Lucas.


Lucas memang paling bisa berfikir cepat bahkan dalam keadaan terdesak, pria itu masih bisa berfikir cepat dan tepat.


Setelah berdiskusi kini mereka bersiap untuk pulang ketempat masing-masing.


Arash keluar lebih dulu di susul Bryan sementara Lucas ke toilet terlebih dahulu.


Sementara itu di tempat yang sama, Aruna yang melihat keberadaan kakaknya langsung berjongkok di kolong meja untuk bersembunyi.


Tadi sepulang sekolah Aruna sengaja mengajak Leon untuk ke cafe terlebih dulu.


"kenapa berhenti?" tanya Bryan.


"Lo barusan denger gak ada orang yang nyebut nama Aruna?"


"iya, terus?" tanya Bryan tak mengerti.


"jangan-jangan adek gue ada disini" Arash mulai celingak-celinguk menatap sekeliling.


"yang namanya Aruna banyak kali bro, bisa aja kan itu orang lain"


"iya sih.. tapi.."


"udah yuk ah, lo tuh jadi kakak gak usah terlalu posesif"


"dia itu saudara gue satu-satunya, gue cuma berusaha lindungin dia" ucap Arash


"iya gue paham, tapi adek lo itu udah bukan anak kecil lagi" ujar Bryan menasehati.


Arash mengangguk menerima nasehat dari Bryan.


sementara itu masih di bawah meja, Aruna memberi kode untuk pacarnya supaya diam.


setelah melihat punggung Arash sudah berada di luar cafe barulah Aruna bisa bernafas lega.


"woiii" Ujar seseorang berteriak dari arah belakang sambil memukul punggung Aruna.


"ehh anjriiitt" spontan Aruna karena kaget.


"bwahahaha" orang itu tertawa kencang.


"iiihhh kak Lucas ngagetin aja" Aruna memonyongkan bibirnya.


"nyari apaan sih disitu" tanya Lucas masih sambil tertawa.


sebenarnya dia sudah dari tadi melihat adik dari sahabatnya itu.


"eehhh..eemm lagi nyari.." Aruna berusaha mencari jawaban yang masuk akal.


"udah bangun, kakak lo udah pergi noh" Lucas meraih tangan gadis itu dan membantunya berdiri.


"kak.." ujar Aruna kini menunduk.


"hemm, duduk dulu" pinta Lucas.


Aruna menurut.


"jangan bilang-bilang ya" pinta Aruna memelas.


Leon yang sedari tadi merasa di abaikan kini berdehem.


"sebenarnya ini ada apa?" tanya Leon setelah dari tadi hanya menonton.


Lucas menoleh menatap Leon.


"ok, gue gak akan bilang, tapi bisa jelasin dulu, dia siapa?" Lucas menatap Aruna dan Leon secara bergantian.


"Leon, kenalin ini kak Lucas, temannya kakak aku"


"Kak kenalin ini Leon pa..pacar gue" ucap Aruna gugup.


"haha gak usah gugup gitu, gue bukan Arash kali" Lucas tidak bisa tidak tertawa melihat adik sahabatnya itu.


gadis yang biasanya cerewet dan gak bisa diam itu kini terus menunduk hanya karena ketahuan pacaran.


"tapi saran gue nih ya, lebih baik lo jujur sama Arash, dari pada nanti dia taunya dari orang lain" Lucas menatap adik sahabatnya yang telah dia anggap sebagai adiknya juga.


"tapi.."


"percaya sama gue, Arash gak akan marah, dia itu sayang banget sama lo, dia bukannya ngelarang lo buat pacaran, dia cuma gak mau lo terluka sama seperti yang dia alami" nasihat Lucas.


Aruna mengangguk setelah mencerna masih Lucas.


"makasih ya kak sarannya"


"sama-sama, ya udah gue cabut ya"


"jagain princess gue, jangan sampai lecet" kini Lucas menatap Leon.


"siap kak" tegas Leon.


"haha kak Lucas apa sih, Aruna bukan anak kecil lagi"


Lucas pun berlalu dari sana menyusul kedua sahabatnya untuk menjalankan rencana.


*******