About Ziana

About Ziana
Chapter 120



Selesai makan Arash mulai membuka obrolan dan mengutarakan tujuan utamanya mengajak Ziana keluar.


Arash meraih tangan Ziana, lalu kemudian menggenggamnya erat, membuat perempuan itu sedikit kaget karena dia sedang fokus dengan ponsel miliknya.


Ziana menatap Arash, begitupun sebaliknya.


"sayang.." Panggil Arash dengan nada lirih, dengan pandangannya yang terus menatap Ziana lekat.


Melihat Arash yang menatapnya serius membuat Ziana meletakkan ponselnya dan mengalihkan seluruh atensinya kepada laki-laki itu.


"iya" jawab Ziana balas menatap Arash.


"aku mau ngomong sesuatu sama kamu" ucap Arash yang diangguki oleh Ziana.


"aku tau, kamu pasti masih dongkol sama aku soal yang kamu lihat di kantor beberapa hari lalu."


Ziana diam, memberikan waktu bagi Arash menyelesaikan penjelasannya, karena memang penjelasan inilah yang ingin didengarnya dari kemarin-kemarin.


"namanya Tamara, dia adalah ibu kandungnya Attar.." Arash menjeda ucapannya karena ingin melihat reaksi Ziana.


Jujur saja Ziana begitu terkejut mendengar pernyataan Arash namun bukan Ziana namanya jika tidak pintar menyembunyikan keterkejutannya.


Setelah melihat ekspresi perempuan dihadapannya yang terlihat biasa-biasa saja, Arash pun melanjutkan ceritanya.


Arash menceritakan semuanya tentang kejadian hari itu tanpa ada yang dikurangi atau pun dilebihkan, dan tanpa sadar Ziana menghela nafas lega setelah mendengar semua penjelasan Arash.


Malam itu semua perasaan marah dan kesal yang dirasakan Ziana beberapa hari ini pun luruh, tergantikan oleh perasaan malu dan rasa bersalah kepada Arash karena telah bersikap kekanak-kanakan dengan pergi begitu saja tanpa mengucap dan mendengarkan apapun.


Sedangkan Arash sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu, menurutnya wajar saja jika Ziana salah paham.


"jadikan ini sebagai pelajaran untuk kita kedepannya" ujar Arash yang tiba-tiba bijak.


Ziana mengangguk "maafin aku ya.." cicitnya sembari menunduk malu.


Sungguh Ziana yang saat ini sedang duduk dihadapan Arash tidak terlihat seperti seorang ketua mafia, membuat Arash tidak tahan untuk tidak terkekeh.


Ziana mengangkat kepalanya karena mendengar suara kekehan Arash.


"kok kamu ketawa sih?" tanyanya heran.


"siapa suruh kamu lucu" celetuk Arash yang langsung membuat Ziana mengerutkan keningnya.


Karena tidak ingin membuat Ziana kembali marah Arash pun berkata "udah gak usah minta maaf terus, kamu gak ada salah apa-apa"


"tapikan--


"shuutt.. udah sayang" sela Arash.


"udah malem nih pulang yuk, kamu kan masih harus banyak istirahat" ajak Arash dengan lembut, setelah mengecek jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"ayo, aku emang udah ngantuk sih" celetuk Ziana membuat Arash tertawa kecil.


Mereka pun pulang dengan senyum yang menghiasi wajah keduanya.



"sayang.." panggil Lucas setelah memasuki kamarnya bersama Valerie.



Pria yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah itu tersenyum kecut setelah mendapati istrinya yang sudah terlelap.



Hanya bisa menghela nafas kasar dan mencoba bersabar dengan kelakuan istri dan calon anaknya yang sama-sama hobi menyiksa dirinya.



Lucas pun memutuskan untuk mandi terlebih dulu sebelum bergabung bersama sang istri diatas ranjang.



Selesai mandi dan berganti pakaian Lucas naik ke atas tempat tidur dengan hati-hati karena tidak ingin mengganggu tidur nyenyak Valerie.



Dikecupnya kening sang istri dengan lembut sebelum ikut merebahkan tubuhnya, namun karena ulahnya malah membuat Valerie terbangun.



"kamu sudah pulang.." tanya Valerie sembari mengusap matanya.



"sayang..maaf kamu jadi kebangun gara-gara aku" kata Lucas dengan nada menyesal.



Valerie tersenyum "jam berapa sekarang?" tanya perempuan itu lagi.



"jam 11 yang"




"aku taruh di dapur, soalnya aku liat kamu udah tidur"



Valerie bangun dan menguncir rambutnya asal, kemudian bersiap untuk pergi.



"mau kemana?" tanya Lucas menarik tangan Valerie.



"aku mau ngambil rujak yang kamu beliin"



"biar aku aja, kamu tunggu disini saja"



"gapapa sayang aku bisa ambil sendiri kok, kan papa udah capek nyariin rujaknya" ucap Valerie manja.



Lucas selalu tersenyum lebar setiap kali mendengar istrinya itu memanggilnya dengan sebutan papa.



"yaudah tapi harus hati-hati ya sayang"



"siap papa" kata Valerie yang meniru suara anak kecil membuat Lucas hanya tertawa melihat kelucuan istrinya.



Hening tidak ada obrolan didalam mobil, membuat Arash menoleh ke kiri dan mendapati Ziana sudah tertidur.


Laki-laki itu hanya tersenyum seraya menggeleng, 'bisa-bisanya dia tertidur dengan posisi duduk seperti itu' batin Arash.


Sesampainya di depan apartemen Ziana langsung bangun karena merasakan mobil sudah berhenti.


"udah sampai ya?" tanya Ziana sambil mengusap matanya yang masih mengantuk.


"udah sayang, kok kamu bangun sih?"


"mobilnya berhenti jadi aku kebangun" jawab Ziana apa adanya membuat Arash terkekeh.


"yaudah aku jalanin mobilnya lagi, biar kamu bisa tidur lagi" canda Arash disambut tawa renyah oleh Ziana.


Arash keluar dari mobil kemudian memutar untuk membukakan pintu untuk Ziana, namun perempuan itu tidak kunjung turun.


"kenapa sayang? pusing ya?" tanya Arash.


Ziana mengangguk kemudian mengangkat kedua tangannya meminta digendong, dengan senang hati Arash menuruti permintaan perempuan itu.


Arash menggendong Ziana ala bridal style membuat Ziana langsung mengalungkan lengannya di leher Arash.


Beruntung sudah larut malam jadi tidak ada orang lain didalam lift jadi tidak ada yang melihat kelakuan mereka.


Ziana menempelkan Access card sebelum memasuki unit apartemen miliknya.


Arash menggendong Ziana hingga kedalam kamar perempuan itu lalu membaringkannya diatas tempat tidur.


"obat kamu mana?" tanya Arash.


"di laci itu" tunjuk Ziana sambil bangun.


Arash membuka laci tersebut untuk mengambil obat Ziana, setelah dapat Arash lalu membukanya dan memberikannya kepada Ziana, bersama dengan segelas air putih.


Ziana dengan patuh meminum obat yang disodorkan oleh Arash.


Setelah selesai Arash kembali membaringkan tubuh Ziana dan menyelimutinya hingga sebatas dada.


Dikecupnya kening Ziana "aku pulang dulu ya, kamu istirahatlah"


Ziana tersenyum sambil mengangguk "kamu hati-hati pulangnya"


Arash mengangguk "siap sayang"


Setelah itu Arash pun meninggalkan apartemen Ziana setelah mengecup kening perempuan itu sekali lagi.


****


Happy Reading 💞💞 💞