About Ziana

About Ziana
Chapter 121



Usai mengantar Ziana kembali ke apartemennya Arash pulang dengan wajah yang tidak pernah berhenti tersenyum.


Mama Arianna yang hendak ke dapur untuk mengambil air minum tidak sengaja melihat kedatangan anak sulungnya itu.


"baru pulang kamu Rash?" tanyanya kepada sang anak.


"iya ma, kok mama belum tidur sih?" tanya Arash balik.


"ini mau ambil air minum dulu di dapur" kata Arianna memperlihatkan gelasnya yang kosong. "kayaknya ada yang lagi bahagia nih" sindir Arianna yang sejak tadi memperhatikan raut wajah Arash.


Arash mengusap lehernya sendiri, karena itu sudah menjadi kebiasaannya sejak masih kecil selalu mengusap leher bagian belakangnya jika sedang malu atau salah tingkah.


"mama turut bahagia jika masalah kamu sama Ziana sudah selesai" ucap Mama Arianna tulus.


Arash mendekat dan langsung memeluk sang mama tercinta "makasih banyak ya ma, ini semua berkat saran dari mama"


Mama Arianna mengangguk sembari membalas pelukan Arash dan mengusap punggung sang anak dengan lembut.


"Kamu abis dari mana sih, kok bau bangkai gini" celetuk mama yang langsung membuat pelukan mereka terlepas.


Raut wajah Arash langsung berubah karena tidak terima dengan ucapan sang mama.


Arash mencium keteknya sendiri "hidung mama yang bermasalah kali orang wangi gini dibilang bau bangkai" dengusnya.


"eh.. kualat kamu ya ngatain orang tua" nyolot sang mama.


"hehe bercanda Ma" cengir Arash "yasudah kalau gitu Arash ke kamar dulu mau mandi biar gak bau bangkai lagi" pamitnya kemudian sambil menekankan kata bangkai membuat Arianna tertawa cekikikan.


Setelah Arash pergi tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang melingkar di perutnya membuat Arianna kaget.


"ishh papa tuh ya ngagetin aja" omelnya ketika mengetahui pemilik tangan tersebut.


"Abisnya papa cariin ternyata lagi disini gangguin anaknya" balas Arnan semakin mengeratkan pelukannya "ayo balik ke kamar" ajak Arnan kemudian.


"iya papa sayang nanti mama balik setelah ngambil air minum"


"sini biar papa aja yang ngambilin" kata Arnan seraya melepaskan pelukannya lalu meraih gelas Arianna dan berlalu pergi menuju dapur.


Arianna hanya tersenyum menerima perhatian kecil dari sang suami.


"makasih ya pa.. Mama duluan ya ke kamarnya" teriak Arianna setelah Arnan hampir sampai di dapur.


"iya sayang.. tapi ini gak gratis ya" jawab Arnan ikut berteriak.


Arianna yang mendengar teriakan suaminya itu mendengus sebal "dasar aki-aki itu, alamat begadang lagi deh" gerutunya sembari berjalan menuju kamarnya.




Sementara itu setelah melihat mobil Arash meninggalkan area apartemennya Ziana bersiap untuk pergi ke markas Bloody Rose.



Sebenarnya sedari tadi Regan sudah mengirim pesan kepadanya untuk datang ke markas karena ada hal penting yang harus mereka diskusikan.



Setelah bersiap Ziana meraih kunci motornya dan pergi. Entah kenapa malam ini Ziana tiba-tiba ingin mengendarai motor yang sudah lama tidak pernah ia gunakan.



Karena jalanan yang lengang jadi tidak butuh waktu lama bagi Ziana untuk bisa sampai ke markas.



Ia memarkirkan motornya di sebelah mobil Regan, membuat semua anggota Bloody Rose yang sedang bersantai di teras menatap tajam kearahnya.



Pasalnya parkiran motor dan mobil disana di pisah, namun Ziana dengan lancangnya malah memarkirkan motornya di tempat parkir khusus untuk mobil.



"hai.. maaf Anda ini siapa ya? dan kenapa anda memarkirkan motor disini? ini area parkir khusus untuk mobil" Tegur salah seorang laki-laki yang bernama Panji.



Ziana tidak menghiraukan perkataan laki-laki itu dan memilih turun dari motornya.



Panji mengepalkan kedua tangannya karena merasa diabaikan oleh tamu yang menurutnya tidak diundang itu.



"saya berbicara dengan Anda" suara laki-laki itu terdengar sudah mulai meninggi, namun apa Ziana merasa takut? tentu tidak, jangan lupa bahwa Ziana adalah pemilik sekaligus pendiri dari Bloody Rose jadi tidak ada hal yang merasa perlu ditakutkan olehnya di rumahnya sendiri.



Ziana hanya menyunggingkan senyumnya setelah itu berjalan meninggalkan Panji.



"hei.. pindahkan motor mu sekarang juga atau jangan salahkan aku jika motor ini akan ku rusak" teriak Panji dengan lantang.



Panji adalah anggota yang baru masuk Bloody Rose belum lama ini, dan ini adalah kali pertamanya bertemu dengan Ziana jadi wajar saja jika dia tidak mengetahui siapa Ziana sebenarnya.




Karena merasa kesal akhirnya Panji mengambil sebuah batu yang lumayan besar dan berniat menghantam batu tersebut ke motor Ziana.



Beruntung ada Fero dan Tristan yang melihat perbuatan Panji. "berhenti" teriak Fero menghentikan aksi Panji, jika tidak entah apa yang akan terjadi dengan motor Ziana.



"lo gila ya mau main rusakin motor orang" maki Fero setelah berdiri disebelah Panji.



"lo tau gak ini motor siapa?" cecar Tristan dengan nada dingin.



"Tahulah ini tuh motor orang gila yang baru aja masuk" ucap Panji bangga.



"dan orang yang lo bilang gila itu adalah ketua Bloody Rose, ngerti" ujar Tristan dengan penuh penekanan di setiap katanya.



"apa? ketua? Hahaha gue gak salah denger kan?" ucapnya sambil tertawa seperti orang gila.



"liat kan sekarang siapa yang gila?" Fero berbisik di telinga Tristan, membuat Tristan tersenyum tipis.



"eh kalian berdua gak usah bohongin gue, semua orang juga tahu bahwa ketua Bloody Rose adalah bang Regan, kakak ipar gue"



"asli ya kalau dia bukan saudaranya bang Regan udah gue hajar dari kemarin-kemarin" gantian Tristan yang berbisik di telinga Fero.



Yap Panji adalah adik tirinya Gretha dan sekarang menjadi adik iparnya Regan.



Panji mengancam akan memberitahukan kepada Gretha bahwa Regan adalah ketua kelompok mafia jika dirinya tidak dimasukkan ke dalam geng Bloody Rose. Karena itulah untuk saat ini Regan tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan Panji.



Bukan karena takut kepada Panji, namun Regan terpaksa mengiyakan mengingat bahwa saat ini istrinya sedang hamil besar, dan Regan tidak ingin membuat sang istri tercinta shock jika mengetahuinya sekarang, karena itu bukan hanya berdampak kepada si ibu, melainkan juga kepada calon anaknya.



"gak usah bisik-bisik lo berdua"



"eh bocah, kalo ngomong yang sopan dikit bisa kan?" tegur Fero geram dengan tingkah kurang ajar Panji.



Sementara Panji hanya tersenyum mengejek "kalau gue gak mau, kalian mau apa?"



"br\*ngs\*k" dengus Tristan namun berhasil di tahan oleh Fero.



"santai sob, udah yuk gak usah di ladenin orang kayak gitu" kata Fero mengingatkan.



"tapi dia udah keterlaluan, dia harus diberi pelajaran" kata Tristan emosi.



"udah gak penting ngurusin dia mah, yang penting sekarang kita masuk kedalam dulu karena queen dan bang Regan udah nungguin kita" kata Fero lagi.



Tristan menghela nafas "lo bener, gak ada gunanya ngurusin orang kayak dia" ucap Tristan yang langsung diangguki oleh Fero.



Keduanya pun berlalu meninggalkan Panji "Aarrghhh sial" umpat Panji yang merasa kesal.



\*\*\*\*



Happy Reading 💞💞 💞