
Saat di perjalanan pulang, Ziana menghubungi Jessica untuk menanyakan apakah dua preman yang semalam dibawanya sudah sadar atau belum.
"bagaimana keadaan mereka?" tanya Ziana.
"mereka tadi sudah sadar queen, tapi karena mereka terus berteriak dan memaki, jadi saya menyuntikkan obat bius dengan dosis rendah agar mereka bisa diam" beritahu Jessica.
Jessica lalu mengubah panggilan tersebut menjadi panggilan video agar Ziana bisa melihat langsung "anda bisa melihatnya queen" kata Jessica mengarahkan kamera ponselnya kearah dua preman yang tidak sadarkan diri akibat pengaruh obat bius.
"jika mereka sudah sadar, buat agar mereka mau mengaku. Dan ingat jangan sampai ada orang lain yang tahu soal ini" ucap Ziana kembali mengingatkan.
"baik queen" sahut Jessica cepat, setelah itu panggilan video itu pun berakhir karena Ziana telah sampai di depan apartemennya.
Setelah masuk kedalam unit apartemennya Ziana langsung mandi dan berganti pakaian, setelah itu Ziana kembali bersiap untuk kembali ke rumah sakit, karena tidak ingin membuat Attar menunggu dirinya. Ziana sudah terlanjur berjanji kepada Attar, jika dirinya hanya pergi sebentar.
Sementara itu dirumah sakit, Attar yang sudah bosan dengan mainan mobil-mobilan yang sedari tadi dimainkannya mulai rewel dan mencari keberadaan aunty Zi nya.
"boy, kan tadi aunty Zi udah bilang kalau dia mau pulang sebentar" ucap Arash.
"tapi ini udah lama dad perginya, kenapa aunty ndak pulang-pulang juga?" tanya bocah itu "mungkin saja aunty Zi masih di jalan, jadi sabarlah dulu" jawab Arash sambil mengacak rambut milik Attar, membuat bocah itu mendengus tidak suka.
"Daddy stop aku bukan anak kecil lagi" ujar Attar menepis tangan Arash yang berada di atas kepalanya, membuat Luis tertawa melihat respon bocah itu.
"kenapa kamu tertawa?" celetuk Attar yang ditujukan kepada Luis. "karena kamu sangat menggemaskan" ucap Luis seraya tersenyum.
"huh..kalian berdua sama saja" ucap Attar membuang pandangannya kearah lain, namun pandangan bocah laki-laki itu tidak sengaja menatap kearah Zara, dan betapa kagetnya dia ketika melihat mata itu terbuka.
"Daddy.." pekik Attar yang membuat Arash dan Luis langsung menoleh kearahnya secara bersamaan. "ada apa boy?" tanya Arash penasaran.
"itu.." baru saja bocah itu ingin berucap, namun Zara memberikan kode untuk diam, membuat Attar tidak melanjutkan perkataannya lagi.
"itu apa boy..?" tanya Arash lagi.
"hemmm.. tidak ada dad" ucap Attar sambil cengengesan membuat Arash dan Luis menggeleng dengan kompak.
Kedua laki-laki itu pun kembali melanjutkan pembicaraannya, setelah Attar memastikan bahwa Arash dan Luis tidak memerhatikan dirinya lagi, Attar pun melangkah perlahan menuju brankar Zara. Setelah sampai, terlihat keduanya berbisik-bisik agar tidak ketahuan.
Attar sudah tahu bahwa wanita yang sedang sakit itu adalah mama dari aunty Zi. "halo.." sapa Attar yang nampak bingung harus memanggil Zara dengan panggilan apa. "nenek.. panggil aku nenek" ujar Zara pelan, memberi saran.
"nenek.."
Sementara itu di markas Bloody Rose, tengah terjadi keributan yang disebabkan oleh Panji si anggota baru, dengan Dian. Bagaimana tidak, Panji mengatakan bahwa Dian ada main dengan kakak iparnya, ketika melihat Dian keluar dari dalam ruangan Regan.
Regan yang mendengar keributan itu keluar dari ruangannya, dan melihat Panji sudah tergeletak di lantai akibat pukulan Dian.
"ada apa ini? Dian ada apa? kenapa kamu memukulnya?" tanya Regan menghentikan aksi Dian. "maaf bang tapi sebaiknya anda tanya sendiri sama adik ipar ands, saya permisi" kata Dian lalu pergi meninggalkan keduanya, karena masih banyak hal penting yang harus dia urus, daripada harus meladeni mulut lemes Panji.
"kali ini lo bikin masalah apa lagi?" tanya Regan menatap sinis kearah Panji.
Regan mengernyit mendengar ucapan Panji "apa maksud lo?" tanyanya. "udah deh gak usah sok gak tau, lo ada hubungan kan dengan cewek tadi" tuduh Panji membuat Regan semakin bingung.
"hubungan?" tanyanya bingung.
"cewek itu sering masuk kedalam ruangan lo, lo pikir gue gak tau apa yang kalian lakuin didalam" kata Panji lagi sambil tersenyum miring.
Regan yang mulai mengerti kemana arah pembicaraan Panji hanya menggeleng tidak percaya dengan pikiran adik iparnya itu "gue emang ketua mafia, tapi gue bukan laki-laki bre\*\*sek yang suka main perempuan." ujar Regan seraya berjongkok di hadapan Panji.
Setelah itu Regan kembali berdiri dan berjalan menuju ruangannya. Namun belum sempat pria itu masuk, teriakan Panji kembali menghentikan langkahnya "gue akan bongkar perselingkuhan lo kepada Tata" ancamnya.
Tata adalah nama panggilan sehari-hari Gretha, istri dari Regan.
Regan hanya menoleh sesaat, kemudian melanjutkan langkahnya seraya menggeleng karena pemikiran adik iparnya itu, dia malas untuk meladeni Panji, yang selalu mencari perhatian, menurutnya.
"aaarghh.." teriak Panji kesal seraya memukul lantai. Dia kesal karena Regan sama sekali tidak perduli dengan perkataannya.
"lihat saja, aku akan membongkar hubungan gelap kalian" gumam Panji mengepalkan tangannya.
"Kamu mau kemana nak? kok sudah rapi pagi-pagi begini?" tanya ibu Lyan secara beruntun.
"ada pekerjaan yang harus aku selesaikan dulu Bu" Jawab Lyan. "aku pamit dulu, ibu istirahat ya" pamit Lyan meraih tangan ibunya, kemudian mencium tangan keriput itu.
"hati-hati nak, jangan melakukan hal berbahaya lagi, ibu tidak ingin kejadian yang waktu itu terulang kembali" peringat sang ibu. Ibu masih trauma dengan kejadian Lyan yang menghilang beberapa waktu yang lalu.
Ibu mana yang tidak khawatir setelah anaknya menghilang selama berbulan-bulan? perasaan itulah yang kini dirasakan oleh ibunya Lyan.
"Aku janji akan jaga diri, jadi ibu tidak perlu khawatir" kata Lyan mencoba meyakinkan sang ibu bahwa dirinya akan baik-baik saja.
Ibu mengangguk, meskipun ada perasaan takut, namun wanita itu tidak mau menghalangi pekerjaan anaknya.
Setelah berpamitan Lyan pun pergi dengan menggunakan mobil perusahaan atas perintah Ziana.
...****************...