
Pagi menyapa, namun Ziana masih terlelap dalam tidurnya, perempuan itu baru bisa memejamkan matanya ketika pukul 5 pagi.
Ada banyak hal yang mengganggu pikiran perempuan itu, sehingga membuatnya terjaga hingga subuh.
Dita yang baru tiba dari kota A langsung menyambangi kamar Ziana, mengetuk-ngetuk pintu kayu yang masih tertutup itu hingga beberapa kali namun tidak ada sahutan.
Tangannya mulai terasa sakit namun Ziana tak kunjung membukakan pintu, karena merasa khawatir sekertaris Dita pun langsung membuka pintu yang ternyata tidak terkunci itu. Dita bernafas lega saat mendapati sang sahabat masih terbungkus selimut.
Perlahan Sekertaris Dita mendekat kemudian menggoncang bahu Ziana, sehingga membuat Ziana melenguh karena tidurnya merasa terganggu.
"eeennghh" lenguh Ziana.
"bangun kak, lo lupa kalau hari ini adalah jadwal opening Callista resort and spa" Ujar sekertaris Dita sambil menyibakkan gorden yang menghalangi cahaya matahari untuk masuk.
Mata Ziana mengerjap karena terkena sinar matahari pagi, perlahan mata itu terbuka dan menyesuaikan cahaya yang baru saja masuk kedalam indra penglihatannya.
Ziana bangun lalu meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja samping tempat tidurnya untuk mengecek jam. Kemudian meraih botol air yang selalu diisinya ketika hendak tidur.
Perempuan itu pun bangkit dari tempat tidurnya, kemudian sedikit meregangkan ototnya sejenak sebelum membersihkan diri.
"lo kapan datangnya?" tanya Ziana sembari meregangkan otot.
"barusan" jawab sekertaris Dita yang kini beralih merapikan tempat tidur Ziana. "udah sana cepetan mandi, nanti telat" sambung Dita lagi.
"ck iyaa iya bawel" dumel Ziana namun tak urung tetap melaksanakan perintah dari sekertaris Dita.
...----------------...
Sementara itu pagi-pagi sekali Regan sudah terbangun karena handphonenya yang terus berbunyi sedari tadi.
Saat melihat nama sang penelpon, Regan bangkit dan berjalan menuju balkon dan memilih duduk di kursi kayu yang memang tersedia di sana, karena tidak ingin sang istri mendengar obrolannya nanti, karena yang menelpon adalah detektif yang dihubunginya semalam.
Detektif tersebut menyampaikan bahwa Agler masih hidup dan pria itu kini membangun geng mafianya sendiri yang bernama Scorpion.
Regan terkejut mendengar kenyataan bahwa ternyata musuhnya yaitu Scorpion tidak lain adalah geng yang di pimpin oleh Agler sang mantan sahabat.
Regan tidak ingin ambil resiko, pria itu pun dengan segera menghubungi seluruh anggota Bloody Rose yang kini tersebar hampir di seluruh kota, untuk berjaga-jaga apabila Scorpion menyerang disaat dirinya dan Ziana sedang tidak berada di tempat.
Mereka dengan patuh mengikuti keinginan sang ketua yang telah dianggap seperti saudara sendiri.
"aku hanya sedang menikmati pemandangan disini" ujar Regan berbohong.
Gretha mengangguk percaya, kemudian berjalan mendekat kearah sang suami. Regan dengan cepat meraih tangan istrinya kemudian menuntun sang istri untuk duduk di pangkuannya.
...----------------...
Sementara itu dikediaman Wijaya seluruh anggota keluarga telah berkumpul untuk sarapan bersama seperti biasanya.
Mereka terbiasa makan dengan diselingi obrolan ringan seputar kegiatan masing-masing.
Seperti pagi ini Arnan yang semalam tidak ikut berpesta bersama kini bertanya "gimana Rash semalam, lancar?"
"Alhamdulillah lancar Pa" jawab Arash setelah menelan sandwich nya.
"apa CEO dari Callista group datang?" Arnan kembali bertanya sembari menikmati nasi goreng buatan sang istri.
Arash menggeleng "dia hanya diwakili oleh sekertarisnya, katanya lagi berada di luar kota jadi tidak bisa hadir" ucap Arash panjang lebar.
Arnan mengangguk "dia itu orang sibuk jadi wajar saja, bisa bekerjasama dengan perusahaannya saja kamu sudah termasuk beruntung Rash" kata Arnan.
"oh iya apa kamu sudah baca berita?" tanya papa Arnan lagi.
Arash menggeleng karena laki-laki itu belum sempat melihat ada berita apa saja pagi ini.
"hari ini adalah grand opening Callista resort and spa milik Callista Group di kota B, dan khusus hari ini dan besok dapat potongan harga 50% loh" ucap Arnan antusias.
"wahh Mama mau dong pah kesana" seru Arianna ikut antusias. "Aruna ikut" seloroh Aruna.
Arnan mengangguk mengiyakan permintaan istri dan anaknya. "nanti sore kita kesana bareng-bareng, setuju?"
"setuju" teriak mereka kompak kecuali Arash. Laki-laki itu hanya menggeleng melihat keluarganya begitu antusias. Sarapan pagi itu mereka lalui dengan penuh kebahagiaan.
*****
Happy Reading 💞💞 💞