
"Pantas saja lokasinya mengarah kesana, ternyata dia meninggalkan kalungnya disana" kata Luis menggenggam kalung yang ditemukan Arash.
"jadi ini adalah kalung yang kau maksud?" tanya Arash memastikan.
Luis mengangguk "bisa jadi si tua bangka itu curiga bahwa didalam kalung ini ada GPS yang sengaja saya sematkan" paparnya.
"Kalau begitu, bisa jadi Nico juga telah memprediksi bahwa akan ada seseorang yang datang untuk mencari orang itu" ujar Arash, 'orang itu' yang dimaksud disini adalah seseorang yang sedang mereka cari.
"ya kurasa kau benar" timpal Luis.
keduanya terdiam selama beberapa detik hingga kemudian..
"berarti.." keduanya kompak berteriak dan saling tatap.
Sepertinya apa yang mereka pikirkan sama kali ini.
"kita harus cepat, sebelum Nico sadar" ujar Arash berdiri
"ya kau benar" timpal Luis ikut berdiri
"ayo.. kali ini biar saya yang menyetir" lanjut Luis lagi kemudian meraih kunci mobil yang tadi diletakkan di atas meja oleh Arash.
Arash hanya berjalan mengikuti Luis sambil menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun lagi.
🌹🌹🌹
Siang harinya Agler memilih menikmati makan siangnya di restoran cepat saji dari pada harus pulang kerumah kakek Abian.
Semenjak saat itu, saat dimana Robin membawanya kabur dari ruang tahanan bawah tanah di markas The Braves, Agler tidak diizinkan lagi oleh Kakek Abian untuk pergi kemana-mana.
Bahkan Robin dan Abian menghapus geng Scorpion yang sudah susah payah di buatnya, kemudian menghancurkan markas mereka.
Seorang waiters datang dan menyajikan pesanan Agler membuat pria itu tersadar dari lamunannya.
setelah waiters selesai dengan pekerjaannya Agler mengucapkan terimakasih, lalu waiters tersebut pun berlalu.
Agler telah kembali seperti dirinya yang dulu berkat asuhan kakek Abian dan tangan kanannya yang gila itu, siapa lagi jika bukan Robin.
Agler mengatai Robin gila karena pria itu tidak segan melakukan hal nyeleneh jika Agler tidak mematuhinya.
Pernah suatu ketika Agler mencoba kabur dari rumah kakek Abian ketika kakeknya itu sedang keluar untuk mengecek pekerjaan.
Agler yang mengira bahwa kakek Abian pergi bersama Robin waktu itu pun berencana untuk kabur. Namun aksinya tersebut digagalkan oleh Robin yang ternyata mengawasinya melalui kamera cctv yang terpasang di seluruh sudut rumah.
Alhasil dirinya mendapat hukuman untuk membersihkan seisi rumah sedangkan para art hanya menontonnya, jika menolak maka Robin akan memukul bokong Agler menggunakan tongkat baseball.
pernah juga ia di ikat kemudian di gelitiki oleh para anak buah Robin.
Abian tidak menghentikan aksi Robin, kakeknya itu hanya menontonnya saja sambil menertawakan ide gila sang asisten pribadinya.
Karena itulah Agler tidak berani lagi untuk membantah kakeknya maupun Robin.
Agler tersenyum kecut kemudian menggelengkan kepalanya ketika mengingat semua kejadian itu.
Dengan cepat dia membalikkan badannya dan berjalan kearah toilet, sebelum Ziana melihatnya disini.
Bukan bermaksud untuk menghindar, namun dia merasa malu kepada perempuan itu setelah apa yang telah diperbuatnya selama ini terhadap Ziana dan Bloody Rose.
Setelah melihat Ziana dengan temannya telah duduk dan sedang berbicara dengan seorang waiters Agler pun memanfaatkan situasi itu untuk segera keluar dari sana.
Beruntung Ziana duduk agak pojok dan membelakangi pintu masuk, jadi Agler bisa pergi dari sana tanpa terlihat oleh perempuan itu.
Sementara itu, Ziana dan Dita sedang terlibat obrolan ringan tentang keadaan ibu Dewi yang sudah diperbolehkan untuk pulang.
"sorry ya Dit gue belum sempet jenguk ibu"
"gapapa kak, ibu ngerti kok kalo lo sibuk" timpal Dita.
"sampaikan salam gue ke ibu ya" ujar Ziana.
"iyaa nanti gue sampein"
Mereka terus mengobrol hingga makanan pesanan mereka selesai dihidangkan oleh waiters.
🌹🌹🌹
Luis mengemudi seperti orang kesetanan membuat Arash berpegangan sambil menahan nafas.
Sementara Luis hanya menertawakan Arash yang terlihat pucat, setelah turun dari mobil.
Luis adalah seorang mantan pembalap jadi tidak heran jika dia sangat handal dalam mengemudikan mobil.
Prestasinya di dunia balap tidak diragukan lagi, karena beberapa kali Luis menyabet gelar juara satu, terbukti dari banyaknya piala yang berjejer di dalam ruang kerjanya yang pernah Arash lihat.
"ayo, kita harus bergerak cepat" kata Luis.
Arash mengangguk kemudian mereka pun, mulai berjalan mengendap-endap.
Ternyata rumah itu dijaga oleh tiga orang pria berbadan besar, Arash dan Luis saling tatap kemudian mengangguk secara bersamaan.
Perkelahian pun tak terelakkan, namun Arash yang merupakan mantan ketua geng mafia sama sekali tidak kesulitan menghadapi dua orang sekaligus.
Ketiga orang itu berhasil di taklukkan oleh Arash dan Luis, keduanya lalu berpencar untuk memeriksa seluruh ruangan itu.
Setelah hampir satu jam, Arash mendengar teriakan Luis dan mengatakan bahwa dirinya telah menemukannya.
Arash dengan cepat berlari menghampiri Luis, namun salah seorang pria yang tadi sempat dikalahkan oleh Arash kembali bangun dan mencekal kakinya, sehingga Arash kesulitan untuk bergerak.
Arash menendang pria itu menggunakan salah satu kakinya yang bebas, membuat pria itu terguling hingga kebelakang. Arash memanfaatkan kesempatan itu untuk pergi secepatnya menyusul Luis.
****
Happy Reading 💞💞 💞