
Ziana naik keatas, dimana Dian, Aruna dan Leon di sekap. Sementara Jessica dan Bryan menyiapkan surprise seperti yang diinginkan oleh Ziana.
Mereka di ikat di secara terpisah didalam satu ruangan. Dian yang melihat kedatangan Ziana menunduk hormat, sementara Aruna dan Leon belum sadarkan diri karena pengaruh obat bius.
Ziana melepaskan ikatan Dian lebih dahulu baru kemudian beralih melepaskan Aruna, sementara Dian membantu membuka ikatan Leon.
"eeennghh" Leon melenguh.
"kak Ziana.." ucap Leon setelah membuka matanya dan melihat Ziana.
"saya dimana?" tanyanya.
Ziana mengisyaratkan agar Leon jangan bertanya banyak dulu dan segera keluar dari sini.
Leon mengikuti instruksi Ziana, sambil menggendong Aruna mereka turun kelantai dasar.
Dibawah sana Jessica sudah menunggu kedatangan mereka. Rencananya Jessica yang akan mengantarkan mereka bertiga untuk pulang, sementara Ziana dan Bryan Alan tetap disini untuk melihat siapa orang yang sudah menculik anggota Bloody Rose.
Leon langsung meletakkan Aruna di jok belakang, lalu dia pun ikut duduk setelahnya, sementara Dian duduk didepan bersama dengan Jessica.
Dian berterimakasih kepada Jessica karena telah datang dan menyelamatkan mereka dari para penjahat itu.
"saya hanya membantu sedikit, queen lah yang mengalahkan para penjahat itu" kata Jessica masih fokus dengan kemudinya.
"tetap saja, kak Jess ikut andil dalam menyelamatkan kami" ucap Dian.
"kau ini selalu merendah, padahal gue yakin, tanpa kami pun kamu sebenarnya bisa mengatasi mereka" ujar Jessica.
"kak Jess ngomong apa sih" Dian berusaha menampik ucapan Jessica karena ada Leon yang mendengar obrolan mereka di jok belakang.
Jessica yang juga baru menyadari ucapannya pun tersenyum kikuk.
Leon yang tergolong pintar bisa langsung mengerti bahwa sebenarnya ada yang disembunyikan oleh kedua perempuan yang duduk didepannya itu, namun karena masih sedikit pusing jadilah Leon tidak ingin bertanya terlalu jauh dulu.
Kembali ke rumah tadi, sang pelaku yang mendalangi penculikan Dian, Aruna dan Leon telah memasuki rumah tersebut.
Semua nampak biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa disini, membuat keempat lelaki itu tenang-tenang saja memasuki rumah tersebut.
"dimana mereka?" tanya salah satu dari mereka kepada ketua penjahat yang telah dihajar oleh Bryan dan Jessica tadi.
"mereka ada diatas bos" ucap sang ketua dengan gugup.
"kerja bagus.. ini bayaran kalian, ambil dan pergilah dari sini" kata pemuda itu lagi yang Ziana ingat bahwa dia adalah orang yang sama yang mengeroyok Leon malam itu.
"ba..baik bos terimakasih" ucapnya lalu menyuruh semua temannya untuk meninggalkan rumah itu.
Pemuda yang biasa di sapa Gerald itu memimpin ketiga temannya untuk naik keatas dimana korban sanderanya berada.
Tanpa mereka sadari bahwa bahaya sudah berada didepan mata, karena sebenarnya diatas sana yang berpura-pura menjadi sandera adalah Ziana dan Bryan.
Cklek
Gerald membuka pintu yang tidak dikunci lalu mulai memasuki kamar tersebut diikuti oleh ketiga temannya tadi.
Tanpa aba-aba Gerald membuka kain hitam yang digunakan untuk menutup kepala kedua sanderanya.
Alangkah kagetnya mereka ketiga yang berada didepannya bukanlah Aruna dan Leon melainkan orang lain.
"ss..siapa kalian?" tanya Gerald takut-takut.
Sementara yang ditanya hanya menatap keempat pemuda dihadapannya yang sudah pucat dan berkeringat dingin.
"kita yang harusnya bertanya siapa kalian, dan apa alasan kalian menculik kami" kata Bryan.
"ka..kami---
Ziana malas membuang-buang waktu lagi "sepertinya kalian tidak mendengarkan ucapan saya malam itu ya?" ujarnya tersenyum miring.
"sebenar-benarnya kami---
"sebenarnya apa hah?" bentak Bryan yang sudah hilang kesabaran, karena ulah keempat pemuda itu Bryan jadi menunda waktu tidurnya.
"merepotkan saja" dengus Bryan bangkit dari duduknya dengan wajah kesalnya.
"saya peringatkan kepada kalian, berhenti mengganggu Aruna dan kedua temannya, mengerti?" ucap Ziana dengan penekanan.
"mengerti kak.. tolong maafkan kami" Davin bersuara.
"maaf? setelah apa yang kalian lakukan terhadap adik perempuan saya, kalian masih berani meminta maaf?" emosi Bryan menendang kursi yang tadi didudukinya.
Gerald dan ketiga temannya kaget melihat Bryan meluapkan emosinya.
"sayang sekali kalian masih dibawah umur, karena jika tidak kalian tidak tahu apa yang akan teman saya lakukan" Ziana menakut-nakuti keempat pemuda itu.
"ini terakhir kalinya kalian mengganggu adik saya dan teman-temannya, berani kalian mengusik mereka lagi, jangan salahkan saya jika kalian hanya akan tinggal nama" ancam Bryan membuat Gerald dan ketiga temannya gemetar karena ketakutan.
Setelah mengucapkan itu Bryan keluar dari kamar tersebut diikuti oleh Ziana.
🌹🌹🌹
Arash baru saja merebahkan tubuhnya di kasur hotel saat panggilan masuk dari John menghentikan aktivitasnya.
"halo, ada apa John?" tanya Arash tanpa basa-basi.
mereka mengobrol sebentar tentang pekerjaan, John melaporkan masalah pekerjaan hari ini kepadanya, lalu kemudian Arash mematikan sambungan telepon tersebut karena merasa lelah setelah seharian melakukan penyamaran bersama dengan Luis.
Hari ini usaha mereka cukup membuahkan hasil positif, dan sebentar lagi sepertinya usaha mereka akan menemukan keberadaan orang yang dicarinya.
Sebelum memejamkan matanya tidak lupa Arash mengirim pesan singkat kepada Aruna untuk menanyakan keadaan Attar. Namun Aruna tidak kunjung membalas pesannya.
"mungkin dia sibuk belajar" gumam Arash.
Kemudian dia beralih membuka galeri foto ponselnya, dia memandangi foto Ziana yang terlihat dari samping.
Arash menatap lekat foto tersebut sambil tersenyum sendiri, lalu tanpa sadar Arash mulai memejamkan matanya dan tertidur begitu saja.
****
Note : yang inget nama kekasih emak kandungnya Ziana tolong komen dong, othor lupa mungkin karena faktor U 🥲 Terima kasih 🙏
Happy Reading 💞💞 💞