About Ziana

About Ziana
Chapter 71



Sore harinya seperti yang telah di janjikan pagi tadi, kini Arnan beserta keluarganya tengah bersiap untuk datang ke Callista resort and spa yang terletak di sekitar pegunungan yang berada di kota B.


Para perempuan nampak begitu antusias, sedangkan para laki-laki terlihat sangat santai termasuk Attar.


Bocah laki-laki itu sebenarnya juga antusias, mengingat kota yang akan mereka kunjungi adalah kota B, dimana saat ini seseorang yang dirindukan juga berada di kota tersebut, namun karena menjaga imagenya sebagai seorang laki-laki, Attar memilih menyembunyikan perasaannya.


~~


Sementara itu di kota B Ziana baru saja beristirahat setelah grand opening yang sangat melelahkan menurutnya.


Maklum saja, ini adalah kali pertama Ziana mau mengikuti acara seperti ini, jadi perempuan itu terlihat sedikit kelelahan.


Sebenarnya acara belum berakhir, namun karena sekertaris Dita yang melihat bosnya mulai lelah dan mungkin sedikit jenuh, akhirnya sekertaris Dita meminta Ziana untuk beristirahat sejenak disebuah kamar yang memang dikhususkan untuk pemilik resort jika sedang berkunjung.


Malam harinya, setelah bangun dari tidurnya Ziana memutuskan untuk mandi dan berganti pakaian, setelah sebelumnya menghubungi sang sekertaris yang juga merangkap sebagai asisten yaitu Dita, untuk membawakannya baju ganti.


Selesai berganti baju, Ziana lalu keluar dari kamarnya untuk mengisi perut yang mulai meminta untuk diisi. Ziana tidak sendiri tetapi ada sekertaris Dita yang mendampingi.


Saat tengah asik menikmati makanannya tiba-tiba saja terdengar suara teriakan yang sangat di kenalnya menggema memanggilnya "Aunty Zi..."


Ziana menoleh dan seketika itu tersenyum lebar saat melihat siapa yang datang. Perempuan itu berjongkok dan merentangkan kedua tangannya menyambut sang pemilik suara yaitu Attar.


Bocah laki-laki itu segera berlari dan


Bruk


karena terlalu bahagia sampai bocah laki-laki itu tidak sengaja tersandung oleh kakinya sendiri.


Ziana dan Arash dengan cepat berlari menghampiri Attar yang sudah menangis karena lututnya sedikit lecet.


"hiks..hiks.. sakit"


Arash dan Ziana bersamaan meniup luka Attar yang sudah mengeluarkan darah segar.


"jangan menangis boy" kata Arash sambil mengusap-usap punggung anaknya yang bergetar karena tangisnya.


Ziana merasa gemas dengan tingkah laku Attar yang menurutnya sangat menggemaskan itu, dengan sengaja Ziana mengusap kepala Attar menggunakan tangannya yang bebas.


Aruna dan Arianna saling melirik, mereka senang bisa melihat pemandangan seperti ini tersaji di hadapannya. Bahkan semua pengunjung disana hampir semuanya memperhatikan kebersamaan antara Attar Arash dan Ziana, yang nampak seperti keluarga sempurna.


Tanpa sadar pipi Arash memerah mendengar bisikan-bisikan dari para pengunjung "sungguh pasangan yang sangat serasi, suaminya ganteng, istrinya cantik, anaknya juga ganteng banget" begitulah bisik-bisik yang didengar oleh Arash hingga membuat detak jantungnya menggila.


Sementara Ziana hanya acuh mendengar ucapan dari para pengunjung yang sama sekali tidak penting menurutnya.


Perempuan itu menuntun Arash yang masih menggendong Attar untuk duduk di mejanya saja bersama dengan sekertaris Dita.


"selamat datang pak Arash, silahkan duduk" sapa Dita ketika melihat Ziana dan Arash berjalan kearahnya.


"terimakasih sekertaris Dita" kata Arash sebelum duduk di kursi yang masih kosong, dengan Attar yang masih berada di dalam gendongannya.


Sementara Ziana pergi ke bagian resepsionis untuk meminta obat merah untuk mengobati luka Attar agar tidak infeksi. Sebenarnya jika mau Ziana hanya menelpon sang resepsionis itu pun pasti sang resepsionis akan segera mengantarkannya.


Tapi bukan Ziana namanya kalau tidak turun tangan sendiri apalagi kalau cuma hal kecil seperti ini. Selagi perempuan itu mampu, maka dia tidak akan merepotkan orang lain.


Setelah mendapat kotak obat perempuan itu berjongkok dihadapan Attar dan mengoleskan obat merah setelah sebelumnya dibersihkan menggunakan air mineral dan juga tissue.


Tanpa sadar kelakuan Ziana berhasil membuat Arash hanya diam membeku ditempatnya duduk.


"Selesai" kata Ziana setelah selesai menempelkan plester pada kain kasa yang digunakan untuk membalut luka Attar.


"terimakasih aunty Zi" ucap Attar setelah Ziana bangkit dari posisi jongkoknya.


"sama-sama sayang" jawab Ziana mengusap kepala Attar yang masih berada dipangkuan Arash.


****


Happy Reading 💞💞 💞