About Ziana

About Ziana
Chapter 171



Lyan berlari kesana-kemari seperti orang gila, melewati semua lorong namun tidak kunjung menemukan keberadaan Ziana.


Hingga beberapa saat langkahnya terhenti di sebuah lorong yang menuju taman belakang. Samar-samar pria itu mendengar suara pertarungan dari ujung sana.


Tanpa membuang waktu lagi, Lyan kembali berlari menghampiri asal suara yang diyakininya adalah seseorang yang sejak tadi ia cari.


Bagh bugh Bagh bugh


Semakin dekat, semakin jelas pula suara tersebut. Dan sesuai dugaannya, Ziana sedang bertarung di taman belakang sana. Sebuah pertarungan yang tidak seimbang, antara 4 orang pria berbadan kekar melawan 2 orang perempuan.


Tidak tinggal diam, tanpa aba-aba Lyan segera melesat maju dan mengambil alih 2 orang preman untuk dia lawan seorang diri.


Ziana bersyukur akan kehadiran asisten pribadinya itu, karena jujur sakit kepalanya kembali kambuh, akibat ia lupa meminum obatnya seharian ini.


Jika kalian bertanya kemana Fero, tentu saja laki-laki itu sudah tergeletak sejak awal. Fero bukanlah tipe petarung seperti Jessica, bahkan basic bertarung pun ia tidak punya.


Ini adalah kali pertama Fero terjun langsung ke lokasi dan ikut mengambil peran, selama ini laki-laki itu hanya stay di markas dan memantau rekannya dan memberi aba-aba dari belakang monitor saja.


Berkat kehadiran Lyan akhirnya keempat pria yang tidak diketahui siapa dan apa motifnya menyerang Ziana itu akhirnya berhasil di lumpuhkan hingga mereka tidak sadarkan diri lagi.


Setelah menghubungi Sammy, yang masih berada di kantor polisi untuk mengurus pria-pria yang tadi menyerang di ruangan Dian, Lyan lalu memanggil suster untuk membantunya membawa Fero dan sekretaris Dita yang tidak bisa berjalan dengan benar.


Kedua lutut Dita masih bergetar usai menyaksikan Ziana dan Jessica bertarung melawan 4 pria yang memiliki postur tubuh dua kali lipat dari postur mereka.


"sayang apa yang terjadi?" Ziana langsung di sambut dengan pertanyaan bernada cemas yang dilontarkan oleh Arash.


Melihat istrinya pucat dan seperti menahan sakit tentu saja membuat laki-laki bucin itu khawatir setengah mati. Meskipun Ziana merupakan seorang mantan ketua mafia, namun bagi Arash istrinya tetaplah seorang wanita yang butuh perlindungan dan perhatian darinya.


Ziana berusaha menampilkan senyum terbaiknya saat Arash sudah beberapa centi saja darinya. Laki-laki itu sedang memeriksa tubuhnya apa ada luka atau tidak.


"aku baik-baik saja" Ziana mulai merasa jengah lantaran Arash yang tidak kunjung selesai memeriksa dirinya.


"biar aku benar-benar yakin, sayang" alasan saja, sebab yang sebenarnya terjadi adalah Arash yang hanya ingin mengambil kesempatan, bukan Arash namanya jika tidak memiliki banyak ide untuk mencuri kesempatan demi bisa selalu berdekatan dengan sang istri.


Ziana yang sudah hafal sifat suaminya hanya memutar bola matanya malas "Mas hentikan!! aku harus melihat kondisi Dita dulu, dia masih shock, kamu juga kan masih harus beristirahat" ujar Ziana sedikit keras, karena jika tidak seperti itu maka Arash tidak akan berhenti hingga dia merasa puas.


Dengan terpaksa Arash menghentikan kegiatannya "maaf.." persis seperti anak kecil yang di marahi ibunya, laki-laki itu meminta maaf sambil menunduk.


Ziana menghela nafas panjang, ada rasa bersalah sebenarnya telah membentak suaminya, namun juga ada sedikit perasaan puas telah berbuat demikian.


Ziana suka geleng-geleng kepala sendiri dengan kelakuan ajaib suaminya. Bahkan, terkadang lebih susah menghadapi Arash daripada Attar.


Entah kenapa wanita itu tiba-tiba teringat oleh Attar. Ziana mengecek jam tangan yang melingkar di pergelangannya yang menunjuk angka 12 Dia pasti sudah tidur batinnya.


"Mas istirahatlah, aku mau keruangan Dita dulu ya.." pamitnya yang hanya dijawab anggukan kecil oleh sang suami.


__________________________


"Dok tekanan darah pasien menurun" ucap salah seorang suster kepada dokter, tidak lama setelah mereka baru selesai mengeluarkan peluru dari tubuh Aruna.


"Beritahu keluarga pasien, kita harus melakukan transfusi darah secepatnya!!"


"baik Dok" Suster tersebut pun berlalu, seusai mendapat instruksi dari dokter.


Cklek


Papa Arnan segera bangkit dari kursinya begitu melihat pintu ruang operasi terbuka.


"dengan keluarga pasien?" tanya suster tersebut kala melihat Arnan mendekat


"pasien kehilangan banyak darah, dan saat ini pasien membutuhkan donor darah secepatnya" jelas suster tersebut secara cepat.


"tolong lakukan yang terbaik, saya akan membayar berapapun asal putri saya selamat" ucap papa Arnan frustasi.


Hanya Arianna yang memiliki golongan darah yang sama dengan Aruna, sementara keadaan wanita itu tidak memungkinkan untuk melakukan donor darah saat ini juga.


"kami akan berusaha semaksimal mungkin" Suster tersebut berucap sebelum berlalu dari hadapan Arnan yang nampak kacau dengan piyama tidurnya.


_


_


_


Sementara itu di tempat lain


Terlihat kakek Abian keluar dari kamarnya dengan tergesa setelah menerima telepon dari orang kepercayaannya yang ia tugaskan untuk mengawasi rumah anak dan cucunya.


Ya, semenjak mengetahui semuanya, juga tentang Arianna yang merupakan anak kandungnya dari istri pertama, Abian memang meminta para anak buahnya untuk menjaga anak dan cucunya, dari jarak aman.


Namun sayang orang yang ia tugaskan lengah, tidak melihat para penjahat masuk ke rumah tersebut, sehingga membuat cucu perempuannya terkena tembakan dan harus segera mendapatkan perawatan medis.


"Anda mau kemana Tuan?" Robin yang masih berada di ruang tamu bertanya, merasa heran melihat sang tuan telah rapi, seperti hendak pergi ke suatu tempat.


"menurutmu? saya tidak mungkin hanya berdiam diri saja disini, sementara cucuku sedang berjuang antara hidup dan mati" Kakek Abian berjalan melewati Robin yang berusaha menahannya untuk tidak pergi.


"apa maksud anda, Tuan?" pura-pura tidak tahu, padahal pria dingin itu tahu semua hal yang terjadi.


"jangan berlagak bodoh, Robin" sindirnya melirik sang asisten yang terlihat menunduk.


"Maaf Tuan, tapi, apa tidak sebaiknya besok saja? ini sudah larut, saya khawatir akan kondisi kesehatan Anda" Robin tidak menyerah untuk menahan kakek Abian.


Akhir-akhir ini kesehatan pria tua itu sedang tidak fit. Kakek Abian banyak melamun setelah mengetahui semua kebohongan yang Melissa lakukan padanya.


"perasaan saya tidak akan tenang, sebelum melihat keadaan cucu saya secara langsung" Kakek Abian tetap pada keputusannya, berjalan meninggalkan Robin yang masih terpaku dibelakang sana.


"Tapi kondisi anda───


"cukup Robin!! berhenti menghalangiku!! atau kau akan ku pecat" Mengangkat satu tangan, memberi isyarat untuk diam. Pria tua itu sudah kehilangan kesabaran dan berakhir membentak asisten kepercayaannya.


Akhirnya dengan sangat terpaksa, Robin mengizinkan kakek Abian pergi, demi menghindari kemarahan tuannya juga masa depan pekerjaannya.


Karena tidak ingin sesuatu hal buruk terjadi, Robin sendirilah yang mengantarkan kakek Abian hingga ia tiba di rumah sakit.


"kita sudah sampai tu...an" ucapan Robin menggantung di udara sebab Kakek Abian yang sudah lebih dulu keluar, sebelum ia selesai berucap.


Sepertinya pria tua itu begitu khawatir hingga Robin pun kesulitan mengikuti langkahnya yang cepat.


Setibanya di depan pintu masuk, mereka sudah disambut oleh 2 orang pria


"dimana cucuku?" tanya kakek Abian tanpa basa-basi kepada dua orang tersebut yang merupakan anak buahnya.


"mari Tuan, kami akan mengantar Anda" kakek Abian pun mengangguk dan mengikuti keduanya tanpa banyak bertanya.


******