
Keesokan harinya ketika matahari masih malu-malu menampakkan sinarnya, Ziana telah pergi untuk bertemu dengan seseorang yang dihubunginya semalam.
Sebelum pergi Ziana telah menghubungi sekertarisnya untuk mengabari bahwa dirinya tidak masuk, karena ada hal penting yang harus diurusnya.
Dita sempat menawarkan bantuan jika ada hal penting yang harus diurus, namun Ziana menolak karena tidak ingin melibatkan sahabatnya itu dalam masalah yang berhubungan dengan dunia gelap (mafia) cukup orang terdekatnya yang sudah terlibat.
Sesampainya di tempat janjian Ziana dan orang tersebut langsung berdiskusi sebelum berangkat ke bandara untuk menyusul Lucas dan kedua rekannya ke kota S tanpa sepengetahuan siapapun.
Setelah 1 jam penerbangan mereka akhirnya tiba di kota S. Mereka langsung mencari penginapan terdekat dari lokasi yang diduga tempat penyekapan mantan asisten dari seorang Alex Fernandez.
Sebenarnya Ziana tidak ada masalah dengan Alex namun perempuan itu mengetahui sepak terjang pria tersebut dan Ziana ingin membongkar kejahatannya.
Ziana tidak suka jika ada orang yang berbuat curang dalam dunia bisnis, karena itu akan sangat merugikan. Dimata Ziana, seseorang yang tidak bisa jujur dan selalu melakukan perbuatan curang untuk kepentingan pribadi, tidak lebih dari sebuah sampah yang harus di basmi.
Ziana membenci orang-orang munafik, orang-orang serakah, dan petinggi-petinggi yang sering memakan uang rakyat, karena itulah Bloody Rose tercipta untuk membasmi orang-orang seperti itu.
Selama memimpin Bloody Rose sudah banyak sekali kasus yang berhasil dia pecahkan, bahkan sudah banyak pula aparat dan petinggi yang telah dia bongkar kejahatannya.
Hampir seluruh pejabat negara mengetahui tentang Bloody Rose dan mereka takut kepada geng tersebut.
Namun selama 3 tahun belakangan ini setelah Ziana tidak lagi memimpin, mereka kembali berulah, bahkan lebih parah dari yang dulu. Karena itulah perempuan itu mengajak Dian, calon pemimpin baru yang sudah ditunjuk langsung oleh Regan.
Dian adalah adik dari sekertaris Dita, namun Dita tidak mengetahui bahwa adiknya tersebut memilih terjun kedunia gelap (mafia).
Ziana yang awalnya dikenalkan pada Dian pun kaget, karena tidak menyangka bahwa adik dari sahabatnya merupakan salah satu dari anggota Bloody Rose miliknya.
Namun setelah mengetahui fakta tentang gadis itu yang memilih dunia gelap, Ziana akhirnya mau menerima dan mengajarkan banyak hal kepada gadis yang terlihat polos itu.
Dian ternyata bukan anak kandung dari ibu Dewi dan suaminya, melainkan adalah anak dari seorang pengusaha yang bernama Arman Dirgantara dan istrinya yang bernama Widyastuti.
Namun karena suatu hal pasangan itu menitipkan Dian yang baru lahir kepada ayahnya Dita yang merupakan supir pribadi mereka.
Dian mengetahui identitas aslinya dari ayah Dita sebelum beliau meninggal dunia. Karena itulah Dian memutuskan masuk dunia gelap dan menjadi mafia demi mengetahui tentang siapa yang ingin menghancurkan keluarganya dan mencelakai ayahnya Dita hingga meninggal.
Malam harinya saat jam sudah menunjuk angka 10 Ziana dan Dian mulai bergerak untuk mencari tahu tentang bangunan tua tersebut.
Mereka berdua mengendap-endap untuk masuk kesana setelah mengintai dan melihat seorang pria gondrong pergi beberapa saat yang lalu.
Sesampainya didalam keduanya berpencar karena bangunan tua itu sangatlah luas. Setelah hampir satu jam menelusuri bangunan tersebut, Dian mendengar suara seseorang yang sedang mengobrol.
Dian langsung mengabari Ziana dan memanggil perempuan itu untuk datang.
*Bagh*
*Bugh*
Suara pukulan terdengar saat kedua perempuan itu memukul leher bagian belakang kedua pria yang sedang mengobrol tadi sambil bermain handphone.
Hanya sekali pukulan keduanya langsung pingsan. Namun si gondrong yang tadi sudah kembali lagi.
"woii..siapa kalian" teriak pria gondrong tersebut.
Dian dan Ziana kompak menoleh "tidak penting siapa kami" sarkas Ziana sambil mendekat dan mengayunkan tinjunya kearah hidung pria itu.
Karena tidak sempat mengelak pria itu mengaduh kesakitan karena hidungnya berdarah saking kerasnya tinjuan tangan Ziana.
Pria itu ternyata masih bisa berdiri, kini gantian Dian yang maju dan menendang perut pria tersebut sehingga membuatnya mundur beberapa langkah kebelakang. Sementara Ziana hanya duduk di kursi sambil menyaksikan aksi anak muridnya.
Ziana mengakui bahwa meskipun masih belia namun kemampuan Dian sudah diatas rata-rata. Dan perempuan itu merasa lega jika kelak Bloody Rose akan dipimpin oleh orang seperti Dian yang memiliki tekad dan kemauan yang kuat.
Tidak ingin membuang waktu Ziana dan Dian langsung masuk kedalam ruangan yang diyakininya adalah tempat pria bernama Lyan itu disekap.
Setelah mendobrak pintu keduanya langsung masuk dan benar saja, didalam sana ada seorang laki-laki yang di rantai dengan kondisi yang memprihatinkan.
Laki-laki tersebut duduk bersandar di tembok dengan darah di beberapa bagian wajah, dan tubuh yang sangat kurus dan kucel.
Dian memeriksa kondisi laki-laki tersebut dan masih hidup namun denyut jantungnya sudah sangat lemah.
Dengan cepat kedua perempuan itu membuka rantai tersebut dan segera membawa laki-laki itu kerumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan.
Keesokan harinya Lucas dan kedua rekannya yaitu Tristan dan Fero baru sampai di gedung tua tersebut dan kaget saat mendapati tiga orang laki-laki yang masih tergeletak dilantai.
Dan yang membuat mereka tambah kaget bahwa ternyata kedua laki-laki itu adalah orang yang kemarin mereka tanyai.
Ternyata kedua orang itu adalah komplotan yang melakukan penyekapan dan dengan bodohnya mereka bertiga tidak kepikiran sampai kesana.
Karena merasa kesal telah dibohongi, Tristan langsung menendang mereka berdua secara bergantian.
"bangun lo berdua" ucap Tristan dengan nada marahnya.
Keduanya melenguh secara bersamaan. "eeennghh"
"Bangun" Tristan menarik kerah baju laki-laki yang bertubuh agak pendek itu lalu mengangkatnya hingga laki-laki tersebut berteriak. Sementara temannya yang berusaha menolong ditahan oleh Fero sedangkan Lucas hanya diam menyaksikan.
Lucas tidak ingin mengotori tangannya untuk orang yang sedang terluka, lagipula kedua rekannya tersebut sudah sangat mampu untuk menghabisi preman itu.
"siapa yang sudah melakukan ini semua, jawab?" kata Tristan sambil melotot membuat preman itu takut.
"ampun bang saya tidak tahu" jawab preman tersebut.
"jawab atau gue patahin leher lo" ancam Tristan.
"sumpah bang kita beneran gak tau, semalam kita cuma main hp disini namun tiba-tiba ada yang memukul leher kami sampai tidak sadarkan diri" jawabnya takut-takut.
"jangan bohong" kata Tristan tidak percaya.
"saya berani bersumpah bang, kalau saya berkata jujur" ucapnya lagi.
Saat ketiganya fokus kearah Tristan dan preman tersebut, laki-laki berambut gondrong itu sadar dan langsung merogoh saku celananya kemudian menelpon seseorang.
"sudahlah Tris sepertinya dia berkata jujur" ucap Lucas yang sedari tadi diam menyaksikan.
"tapi---"
"woi ngapain lo" sela Fero yang melihat si gondrong mendekatkan handphone kerah telinganya.
Tristan langsung melepaskan preman yang sedari tadi diangkatnya lalu menghampiri pria berambut gondrong tersebut diikuti oleh Lucas dan juga Fero.
"to..long ada penyusup.." ucap pria tersebut sebelum Lucas meraih ponsel tersebut lalu membantingnya.
Sementara itu Alex yang baru mendapat telepon dari anak buahnya yang dia tugaskan untuk menjaga Lyan, langsung mengumpulkan semua bawahannya untuk berangkat ke kota S sekarang juga.
"bodoh..menjaga satu orang saja tidak becus" teriak Alex sambil mengepalkan kedua tangannya.
\*\*\*\*
Happy Reading 💞💞 💞