
HPL atau Hari Prediksi Lahir Ziana sekitar 2 minggu lagi, dan Arash tidak mengizinkan istrinya untuk masuk kerja lagi.
Meskipun sempat menentang keputusan Arash, namun wanita hamil itu tetap mengikuti perintah sang suami. Ziana sadar bahwa Arash melarang demi kebaikannya dan juga anak yang sedang ia kandung.
3 hari yang lalu Arash mempekerjakan sepasang suami istri berusia sekitar 30 tahunan bernama mbak Yuni yang akan membantu pekerjaan rumah, dan mas Malik yang akan mengantarkan Ziana kemana-mana, sebab Arash melarangnya untuk berkendara.
3 hari Ziana lalui dengan baik, meskipun sakit kepalanya semakin sering kambuh. Kehadiran mbak Yuni sangat membantunya yang mulai kesulitan untuk melakukan banyak pergerakan.
Semenjak mengetahui bahwa dirinya hamil, Ziana tidak pernah lagi mengkonsumsi obat untuk meredakan sakit kepalanya. Mungkin karena itulah sakitnya semakin sering datang.
Seperti siang ini, saat sedang berjalan menuju dapur untuk mengambil air putih, Ziana pingsan karena sudah tidak kuat menahan sakit kepalanya yang semakin hari semakin bertambah.
Mbak Yuni yang baru datang dari minimarket samping rumah segera berlari ke dalam rumah, begitu mendengar bunyi pecahan gelas yang tadi Ziana bawa.
"Astaghfirullahaladzim.. ibu..ibu bangun bu.." jerit mbak Yuni mendapati sang majikan terkulai seraya memegangi perutnya. Yang membuat mbak Yuni semakin histeris adalah adanya darah yang mengalir dari paha hingga menetes sampai ke lantai.
"Mbak..telpon..mas..Arash.." dengan setengah kesadaran yang dimilikinya, Ziana meminta mbak Yuni untuk menghubungi suaminya.
Mbak Yuni mengangguk, kemudian berlari ke luar, memanggil Malik suaminya untuk mengangkat Ziana dan mengantarkan mereka ke rumah sakit.
_______________________
Di tengah rapat dengan klien, Arash izin untuk mengangkat panggilan telepon dari art yang baru beberapa hari ini bekerja di rumahnya.
Resah gelisah sudah sejak tadi laki-laki itu rasakan, namun ia mencoba untuk tetap tenang dan berusaha menepis pikiran-pikiran buruknya.
Namun melihat nama yang tertera pada layar ponselnya membuat Arash semakin tidak tenang.
Praaaaannggg
Bagai di sambar petir di siang bolong, bahkan ponsel di tangan Arash jatuh dan pecah, hingga pecahannya berserakan di atas ubin.
Sekretaris Jhon bersama papa Arnan berlari menghampiri "Astaghfirullahaladzim.. Arash! apa yang terjadi, Nak?" Papa Arnan terkejut saat mendapati putra sulungnya duduk histeris bersama dengan kepingan ponselnya yang terlihat berserakan.
Dengan dibantu sekretaris Jhon, papa Arnan membuat Arash berdiri kembali "sebenarnya apa yang terjadi?" Tanyanya heran. Sebab baru kali ini ia melihat putranya selemah dan serapuh ini.
"Ziana pa.." laki-laki dewasa itu mengadu seperti anak kecil di hadapan sang papa, dengan air mata yang mengalir tanpa bisa di cegah.
"Kenapa dengan Ziana? Apa yang terjadi dengan menantu papa?" Tanyanya beruntun.
Seolah tersadar, Arash buru-buru menyeka air matanya dengan kasar, dan melepaskan tangan papa Arnan yang menopangnya "aku harus ke rumah sakit pa.." ucapnya berlalu pergi meninggalkan sang papa dengan langkah lebarnya.
Papa Arnan terkejut dan mengejar kepergian putranya, diikuti oleh sekretaris Jhon "Arash..tunggu.." teriaknya namun tidak diindahkan oleh Arash.
"Cepat kamu kejar anak itu!" perintah papa Arnan kepada mantan sekretarisnya yang kini menjadi sekretaris putranya.
Sekretaris Jhon mengangguk dan segera berlari. Tanpa rasa takut, ia mencekal lengan Arash dan menghalaunya untuk pergi.
"Lepasin gue Jhon..gue harus cepat ke rumah sakit" berontaknya berusaha melepaskan diri dari cekalan sekretarisnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Ziana?" Tanya papa Arnan dengan nafas tersengal-sengal setelah berlarian.
"Ziana jatuh dan pendarahan. Sekarang sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit" Arash menjelaskan hanya dalam sekali tarikan nafas.
"Apa?? Kalau begitu papa ikut. Jhon kamu urus semuanya disini" ucap papa Arnan lalu ikut naik ke mobil yang sama dengan Arash.
~
~
~
Setelah mendapat kabar mengenai menantunya, wanita paruh baya itu langsung pergi dan meninggalkan teman-temannya yang sedang melakukan arisan, dengan berbagai macam pertanyaan di benak mereka.
"Pak kita ke rumah sakit, sekarang!" Perintah mama Arianna tegas setelah masuk ke mobil dan mengejutkan supirnya yang sedang telponan dengan istri dan anaknya di kampung.
segera supir tersebut mematikan sambungan teleponnya "baik Bu" dan tanpa menunggu perintah dua kali, supir yang sudah lama mengabdi kepada keluarga Wijaya itu langsung tancap gas.
"Ngebut pak..ngebut.." titah mama Arianna tidak sabaran.
Pak Handi, supir tersebut hanya mengangguk pelan menanggapi perintah majikannya dan tetap fokus dengan jalanan yang syukur alhamdulillahnya tidak terlalu macet karena masih jam kerja.
~
~
~
Mama Arianna tiba di dekat ruangan yang di beritahu oleh suaminya dengan terengah-engah, setelah berlari dari parkiran.
"Bagaimana keadaan menantuku?"
Pertanyaan itu membuat papa Arnan dan Arash kompak menoleh, mencari asal suara.
Mama Arianna mendekat dan mulai mengatur nafasnya.
"Masih ditangani oleh dokter, Ma" jawab papa Arnan merengkuh tubuh sang istri yang sedang panik "tenangkan dirimu, Nak. Dan jangan lupa untuk libatkan Tuhan dalam segala keadaan" pesan papa Arnan seraya menepuk-nepuk bahu putranya.
Arash mengangguk, kemudian mendudukkan dirinya pada kursi tunggu, diikuti oleh kedua orangtuanya.
Tolong selamatkan lah istri dan anakku ya Tuhan. Lancarkan lah operasi yang sedang istriku jalani pinta Arash dalam diam.
Beberapa menit berlalu, namun suara tangisan bayi yang Arash tunggu tidak juga terdengar, sehingga membuat laki-laki itu gelisah.
Riuh suara langkah kaki di sepanjang koridor mengalihkan perhatian mama Arianna dan papa Arnan, namun tidak dengan Arash yang sama sekali tidak melepas pandangannya dari pintu kayu yang berdiri kokoh.
Di ujung lorong sana muncul Bryan, Lucas dan istrinya lalu di susul oleh Regan dibelakang mereka.
Arash lantas berdiri begitu melihat kedatangan para sahabatnya, menatap bingung sebab dirinya merasa belum menghubungi siapapun terkait keadaan sang istri. Bahkan mertuanya pun belum sempat Arash kabari.
Melihat raut kebingungan di wajah Arash, membuat Bryan maju dan menceritakan tentang kedatangannya ke kantor Wijaya groupΒ untuk urusan bisnis "begitu gue tahu dari sekretaris Jhon, gue langsung hubungin Lucas sebelum nyamperin kesini" jelasnya.
"Kalo gue tadi mampir ke rumah kalian, karena ada sesuatu yang mau gue bahas sama Zi. Tapi kata mbaknya Zi dilarikan ke rumah sakit karena terjatuh dan mengalami pendarahan" timpal Regan menghilangkan raut bingung di wajah Arash.
Arash hanya manggut-manggut saja dengan penjelasan Lucas dan Regan. Kemudian laki-laki itu kembali duduk dengan gelisah.
Regan dan Lucas ikut duduk di samping kiri dan kanan Arash dan menguatkannya. Kedua pria itu tahu bagaimana perasaan Arash, sebab keduanya pernah berada di posisi Arash saat ini.
******
Happy Reading ππ