
Arash terbangun setelah tidur selama 2 jam lamanya.
Karena tidak ingin membuang-buang waktu, hari ini juga Arash akan mulai mencari seseorang yang sudah diberikan alamatnya oleh Bagas malam itu.
Selesai mandi dan mengisi perut Arash memesan taxi dan memberitahukan alamat yang akan di tujunya.
Jarak dari hotel dan alamat tersebut lumayan jauh, mungkin sekitar 2 jam. Karena merasa bosan Arash merogoh ponselnya yang berada di saku celana.
Sebelum mengaktifkan ponselnya tidak lupa dia mengganti SIM card nya dengan yang baru, agar Ziana tidak bisa menghubungi dirinya selama berada di negara NN.
Untuk menghilangkan rasa bosannya, Arash membuka galeri foto dan melihat semua hasil potret Ziana yang berhasil di ambilnya secara diam-diam.
"baru sehari sudah kangen aja.." gumamnya pada diri sendiri sambil mengusap foto Ziana, didalam foto tersebut terlihat Ziana sedang duduk menyamping, foto tersebut diambil malam hari.
Arash menertawakan dirinya yang sebegitu bucinnya terhadap perempuan yang usianya terpaut 7 tahun di bawahnya.
🌹🌹🌹
Malam harinya di kota A, Ziana sedikit gelisah karena sedari pagi tadi Arash tidak menjawab satupun pesannya, bahkan tidak biasanya nomor laki-laki itu tidak aktif seperti ini.
Ziana nampak berfikir, lalu dia mengingat papanya, ya terakhir kali Arash bertemu dengan papanya, Ziana mengetahui itu dari foto yang dikirimkan oleh mama Cla malam tadi.
"apa menghilangnya Arash, ada hubungannya dengan papa?" gumam Ziana bertanya pada diri sendiri.
Ziana menggeleng "tidak mungkin" batinnya.
Dia teringat Bryan, Bryan adalah sahabatnya Arash, jadi kemungkinan besar pria itu tahu kemana perginya Arash.
Ziana meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja kerjanya, dia pun mulai mendial nomor telepon Bryan, dan.. terhubung.
("Halo.. siapa ya?") tanya Bryan to the point
"halo, ini gue Ziana"
("ohh iyaa ada apa Zi?") tanya Bryan lagi.
"gue mau nanya, apa Arash lagi sama lo?" tanya Ziana tanpa basa-basi.
Sementara diseberang sana Bryan mengernyitkan dahinya sebab sudah 2 hari ini dirinya sedang berada di kota C untuk melaksanakan sebuah misi. (" tidak, emang dia kemana?")
Menghela nafas Ziana pun menjawab "tidak kok, yasudah aku matiin ya, bye" setelah mengucapkan itu Ziana mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.
Membuat Bryan tambah mengernyit bingung diseberang sana.
pertanyaan pertanyaan mulai muncul di kepala Ziana. Sebenarnya apa yang Arash dan papanya bicarakan malam itu? kemana perginya Arash? apa yang sedang mereka berdua rencanakan?
Memikirkan itu membuat kepala Ziana menjadi pusing, entahlah jika berurusan dengan Arash, Ziana mungkin agak sedikit berlebihan.
Perempuan itu bangkit dari kursi kerjanya menuju dapur untuk membuat secangkir coklat panas untuk merilekskan pikirannya yang sedikit kacau seharian ini.
🌹🌹🌹
Di markas utama Bloody Rose Regan baru saja mendaratkan bokongnya di kursi kerjanya setelah pulang dari menyelesaikan misi.
Fero dan Tristan datang keruangan tersebut secara bersamaan untuk melaporkan hasil kerja masing-masing.
tok..
tok..
tok..
"permisi bang" ucap keduanya bersamaan.
"masuk" jawab Regan dari dalam ruangannya.
"silahkan duduk" Regan mempersilahkan kedua rekan kerjanya untuk duduk.
"ada apa?" lanjut Regan.
"saya kesini membawakan data-data yang abang minta" sambil berbicara Fero menyodorkan sebua flashdisk yang berisikan data yang diperlukan oleh Regan.
"Kerja bagus terimakasih Fer" ucap Regan mengapresiasi.
"terimakasih bang, saya izin pamit dulu"
setelah kepergian Fero giliran Tristan yang menyampaikan hasil laporannya.
"ini hasil penyelidikan saya tentang Arman Dirgantara" Tristan lalu menyodorkan sebuah amplop besar yang berisikan foto-foto Arman dan beberapa berkas tentang Arman Dirgantara.
Masih ingat siapa Arman Dirgantara? Yap dia adalah ayah kandung Dian adik dari sekertaris Dita.
Tanpa sepengetahuan Dian, Ziana meminta Regan dan yang lain untuk mencari tahu tentang orang tua kandungnya.
Dan hasil pencarian itu merujuk pada seorang pria bernama Arman Dirgantara yang kini tinggal di kota B sebatang kara karena istrinya yang bernama Widyastuti telah menghembuskan nafas terakhirnya beberapa tahun silam karena penyakit yang dideritanya.
"sama-sama bang, kalau begitu saya juga undur diri, permisi" pamitnya.
"ya" balas Regan singkat.
Setelah kepergian keduanya, Regan mengambil flashdisk yang tadi diberikan oleh Fero lalu menyambungkannya ke laptop.
Belum sempat melihat data-data tersebut dering ponsel yang berada di saku celananya menginterupsi kegiatan Regan.
Dia terlihat mengernyit heran lalu kemudian mengangkat panggilan tersebut.
"halo.."
"........."
"aa..apaa" kagetnya.
"......"
"baik saya segera kesana" ucap Regan dengan nada sedikit bergetar.
Panggilan pun berakhir, Regan lantas meraih kembali flashdisk tersebut dan memasukkannya kedalam laci beserta dengan amplop yang tadi di bawa oleh Tristan.
Lalu pria itu keluar dari ruangannya tergesa dengan ekspresi yang sulit diartikan antara panik dan takut.
🌹🌹🌹
Kembali ke negara NN dimana saat ini Arash telah berdiri didepan sebuah rumah bercat putih.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup membosankan, Arash akhirnya sampai di tempat yang ditujunya.
Setelah menekan bell tidak lama kemudian seorang laki-laki paruh baya membukakan pintu kayu bercat putih tersebut.
"permisi tuan" ucap Arash (menggunakan bahasa orang sana.)
"iya ada yang bisa saya bantu?" tanya orang tersebut.
"saya mau bertanya apa benar alamat ini disini?" tanya Arash sambil menyodorkan secarik kertas dengan tangan kanannya.
Pria paruh baya itu pun meraihnya dan membacanya "anda benar tuan, ini adalah alamat rumah ini" katanya.
Arash tersenyum lega mendengarnya, berarti pengorbanannya tidak sia-sia datang jauh-jauh kesini.
"kalau boleh saya tahu ada urusan apa anda mencari alamat ini?" tanya orang itu.
"saya kesini sedang mencari seseorang tuan" kata Arash kembali menyodorkan foto orang yang dimaksudnya.
"jangan panggil saya tuan panggil saja Luis" kata Luis sambil tertawa kecil.
"baik tuan Luis"
"no..no..no Luis saja, saya bukan seorang tuan" ujarnya sedikit bergurau.
"ayo silahkan masuk" ajak Luis setelah melihat foto yang diberikan oleh Arash.
Arash masuk dan mengikuti Luis dari belakang. "duduklah dulu, saya akan membuatkan minum" ucap Luis.
"tidak perlu repot.." cegah Arash
"sama sekali tidak repot, apa kau tahu istilah tamu adalah raja bukan?" kata Luis tersenyum.
Beberapa menit kemudian Luis kembali sambil membawa nampan yang berisi secangkir teh dan beberapa camilan "ayo silahkan diminum"
"terimakasih Luis maaf merepotkan mu" Ucap Arash sungkan.
"tidak perlu sungkan seperti itu anak muda" gurau Luis membuat Arash tersenyum lalu meraih cangkir teh tersebut dan meneguknya hingga beberapa teguk.
Setelah terdiam selama beberapa saat Luis akhirnya memulai pembicaraan "ada hubungan apa kamu dengan dia?" tanyanya sambil melirik foto tersebut.
"saya hanya di suruh oleh seseorang untuk menemuinya" Jawab Arash.
Luis mengangguk "kalau boleh tau siapa yang menyuruhmu?" tanya pria itu.
"Tuan Bagaskara" beritahu Arash.
"Bagaskara..." gumam Luis seperti mengingat-ingat sesuatu.
"dia..." ucapnya terjeda.
Arash yang bisa membaca dari raut wajah Luis pun mengangguk.
****
Happy Reading 💞💞 💞