About Ziana

About Ziana
Chapter 172



"Nona muda masih berada dalam ruangan tersebut, dan masih ditangani dokter, Tuan" tunjuk salah seorang anak buahnya pada sebuah ruangan.


Kakek Abian mengangguk kecil "hmmm.. kalian pergilah, cari dan bawa mereka yang telah membuat cucuku terluka" ucap pria tua itu dengan nada datar dan dinginnya.


"sama satu lagi, kerahkan semua anak buah kalian dan segera temukan cicitku yang mereka bawa!! dan ingat, jangan kembali sebelum kalian menemukannya, mengerti!!" tegas dan tidak terbantahkan memang merupakan ciri khas dari seorang Abian Ravindra sewaktu muda dulu.


"baik Tuan, kalau begitu kami mohon undur diri" pamitnya.


"Hmm.."


Setelah kedua anak buahnya pergi, kakek Abian menoleh kebelakang, dimana Robin setia berdiri "Dan kau, Robin, pergilah ke markas, kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan?" Kakek Abian bertanya seraya menatap Robin.


"tapi bagaimana dengan Anda tuan? saya tidak mungkin pergi dan membiarkan Anda tetap disini sendirian" asisten pribadinya nampak ragu untuk pergi.


"apa yang kamu khawatirkan, Robin? lihatlah, di sana ada menantuku" tunjuknya kepada Arnan yang terlihat mondar-mandir di depan ruang operasi "dan lihat, kita sedang di rumah sakit, disini ada banyak dokter maupun suster yang siap menolong jika suatu hal terjadi padaku, bukan?" Kakek Abian berbicara panjang lebar demi untuk meyakinkan Robin bahwa dirinya akan baik-baik saja.


Robin terdiam, dalam hati dia membenarkan ucapan tuannya "maafkan saya yang telah khawatir berlebih Tuan, kalau begitu saya permisi" pada akhirnya dia kalah dengan argumen kakek Abian, dan pamit untuk melaksanakan bagiannya.


Setelah kepergian Robin, kakek Abian berjalan mendekat kala ia melihat seorang dokter yang baru saja keluar dari dalam ruangan tersebut.


Dari jarak yang hanya beberapa meter saja, samar-samar dapat kakek Abian dengar apa yang membuat pria yang mengenakan piyama itu nampak marah dan memaki.


Bisa pria tua itu simpulkan bahwa saat ini, cucunya sedang dalam keadaan kritis dan membutuhkan donor darah secepatnya. Namun melihat kekesalan Arnan, dapat Abian tebak jika stok darah yang cocok dengan cucunya saat ini sedang kosong.


Akhirnya tanpa sepengetahuan siapapun, kakek Abian melakukan suatu hal yang akan membuat cucunya tetap hidup.


________________________


Keesokan harinya, Arash baru saja bangun dan mengaktifkan ponselnya yang semalam jatuh dan hilang ketika ia bertarung. Beruntung sang istri lah yang menemukannya, dan mencharger nya semalaman.


Jantung laki-laki itu berdetak kencang, perasaannya seketika berubah cemas ketika melihat ada banyak sekali panggilan tak terjawab dari papa, mama, dan juga Bryan.


apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka? kenapa perasaanku jadi tidak enak begini batin Arash bertanya-tanya dalam hati


Klek


Arash segera menoleh kaget, saat mendengar pintu terbuka. Setelah menetralkan detak jantungnya, laki-laki itu sontak berdiri dan bertanya kepada Ziana yang baru masuk "sayang, kamu habis dari mana?"


"Mas, kita harus segera kembali.." tanpa menjawab pertanyaan sang suami, Ziana mulai sibuk memasukkan ponselnya kedalam tas tangan yang semalam ia bawa.


"ada apa sayang? apa yang terjadi?" Arash mulai panik, di tambah dengan pikiran-pikiran yang sejak tadi menghantuinya.


Ziana berbalik, diraihnya tangan Arash, perempuan itu menatap mata suaminya yang terlihat cemas, sambil berucap "janji dulu, mas gak boleh panik"


Laki-laki itu mengangguk, "iya, janji" meski terlihat tenang, namun percayalah perasaan Arash sedang tidak baik-baik saja saat ini. Bahkan sejak semalam pun dia sudah susah tidur, seperti mengkhawatirkan sesuatu tapi tidak tahu apa.


Ziana mengeratkan genggamannya dan mulai memberitahukan tentang kejadian semalam, di rumah utama, juga tentang keadaan Aruna.


Shock


satu kata itulah yang mungkin mendeskripsikan perasaan Arash, mendengar musibah yang menimpa keluarganya saat dirinya sedang tidak berada di rumah.


_


_


_


Selama perjalanan Arash banyak diam, pun dengan Ziana yang terlihat sibuk sendiri dengan ponselnya, membuat Arash sesekali menoleh untuk melihat apa yang lebih menarik di ponsel sang istri hingga membuatnya terabaikan. Bikin kesal saja, bukannya nenangin suami malah sibuk sendiri batinnya kesal.


Lalu tanpa ba-bi-bu, Arash menancap gas, membawa mobilnya ngebut ngebutan di jalan raya.


Ziana menoleh kaget, bukan, bukan karena kecepatan mobilnya, namun karena penyebab yang membuat Arash ngebut "mas, ada apa?" tanyanya heran, pasalnya tidak biasanya laki-laki itu berbuat demikian.


Namun jangankan dijawab, untuk menoleh saja tampaknya Arash enggan sehingga membuat Ziana bertanya-tanya dalam hati ya Tuhan, gue salah apa lagi sih


Baru ingin bertanya, ponsel Ziana kembali bergetar pertanda jika sebuah pesan, baru saja masuk. Dan, seolah pesan tersebut lebih penting dari sang suami, Ziana segera mengecek ponselnya dan tidak memperdulikan sikap Arash, wanita itu kembali fokus dengan ponselnya lagi.


Membuat Arash berdecak dan menambah kecepatan mobilnya CK..gini nih *r*esiko punya istri mantan mafia


Jika biasanya, perempuan akan langsung histeris atau teriak-teriak apabila dibawa ngebut ngebutan, namun itu tidak berlaku bagi seorang Ziana Callista Lavanya, istrinya, yang notabenenya adalah seorang mantan ketua dari geng mafia no 1 pada masanya.


Arash yang kesal sendiri segera ngerem mendadak, membuat kepala Ziana mencium dashboard mobil mewah Arash.


"kamu tuh sebenernya kenapa sih, Mas?" tanya Ziana lagi, meski sudah mulai kesal, namun wanita itu masih mencoba merendahkan nada suaranya didepan sang suami.


"tanya pada diri kamu sendiri!!" Arash lepas kontrol dan untuk pertama kalinya laki-laki itu berbicara dengan nada tinggi di hadapan istri tercinta.


Ziana terhenyak, tapi ini bukanlah waktu yang tepat untuk saling menyalahkan "apa maksud kamu, Mas? Zi benar-benar gak ngerti" wanita itu mencoba tenang dan bertanya dengan nada yang di buat selembut mungkin, terkesan jengah dengan kelakuan Arash.


"kamu kira mas gak liat, sejak tadi kamu sibuk sama ponsel? chatting sama siapa kamu sampai suami sendiri di anggurin?" sebuah tuduhan tak berdasar yang Angga lontarkan membuat Ziana beristighfar dalam hati.


Astaghfirullahaladzim


"apa serendah itu, aku dimata kamu, Mas? padahal kamu yang mengenalku lebih dari siapapun" pertanyaan tak kalah menohok yang membuat Arash merasa tertampar oleh makhluk tak kasat mata detik itu juga.


Hanya karena merasa terabaikan, Arash tega menyakiti hati dari wanita yang menyandang gelar istri, dengan tuduhan yang hanya menurut asumsinya saja tanpa ada bukti yang menyertai.


"enggak..bu..bukan gitu maksud aku.." dia yang memulai dia sendiri yang akhirnya takut dan gelagapan sendiri.


Ziana menghela nafas, memang salahnya sejak awal karena tidak memberitahu tentang Attar, yang di bawa kabur oleh para pejabat yang menyerang rumah utama semalam.


Wanita itu bermaksud baik sebenarnya, semata agar sang suami tidak terlalu banyak pikiran. Namun jika kebaikannya akan berdampak buruk untuk hubungan mereka, maka lebih baik jika ia jujur sejak awal dan tidak harus berbalas pesan seperti ini dengan Robin dan juga Bryan.


Entah bagaiman awalnya, hingga kedua pria yang sama-sama dingin itu bekerja sama dalam kasus ini.


Ziana akhirnya memberitahukan yang sebenarnya terjadi, dan memperlihatkan isi chatting nya bersama kedua pria dingin tersebut, yang menjadi rekannya dalam mencari Attar. Terlalu malas rasanya jika dirinya harus menjelaskan semuanya dari awal, di tambah mood wanita itu masih sedikit buruk setelah tuduhan Arash barusan.


Drama cemburu yang di mulai oleh Arash selesai, dan berakhir laki-laki itu yang terus meminta maaf kepada sang istri sepanjang jalan pulang yang mereka lalui.


******


Like dan komen sebanyak-banyaknya ya.. karena author suka bacain komentar komentar kalian🤸🤸