About Ziana

About Ziana
Chapter 165 : apakah dia waras



Berbeda dengan kedua temannya yang sedang bahagia, Bryan terlihat murung setelah melangkah keluar dari rumahnya.


Laki-laki berwajah tampan nan dingin itu membawa mobilnya membelah jalanan ibukota yang begitu padat.


Setelah bergelut dalam kemacetan panjang akhirnya Bryan tiba di kantor meskipun harus telat selama setengah jam.


Bryan turun dari mobil dengan ekspresi dingin dan datar seperti biasa, sehingga membuat para karyawan yang berpapasan dengannya menjadi gugup setengah m*mpus.


Bahkan Naysilla yang sedang bergosip ria dengan salah satu staf kantor tidak melihat kedatangan bos dinginnya itu terkejut bukan main saat bentakan bernada dingin itu menusuk gendang telinganya


"Ini sudah masuk jam kerja, saya menggaji kalian disini untuk bekerja, bukan untuk bergosip" sarksasnya kemudian melengos begitu saja kedalam ruangannya.


Kenapa lagi sih beruang kutub satu ini


Naysilla membatin seraya mengusap-usap dadanya yang hampir saja copot akibat ulah dari si beruang kutub yang sayangnya adalah bosnya, sementara temannya yang tadi bergosip ria bersamanya sudah ngacir kembali ke ruangannya.


Bunyi dering telepon didepannya menggema membuat Naysilla buru-buru mengangkatnya sebelum kena semprot untuk yang kedua kalinya.


"Hal──


Belum sempat mengucap sepatah katapun, bos dinginnya sudah berteriak mengeluarkan makian dari seberang sana


("Cepat keruangan saya!!! atau gaji kamu bulan ini saya potong!!")


Tut


Lagi-lagi Naysilla mengusap dadanya seraya menghela nafas akibat kelakuan bos kulkas dua pintunya.


Astaghfirullahaladzim sabar Nay, sabar


Setelah membenarkan sedikit penampilannya dan menetralkan detak jantungnya, Naysilla kemudian meraih kenop pintu itu dan memutarnya.


Klek


"permisi pak, bapak memanggil saya?" meskipun begitu gugup melihat wajah dingin dari si bos beruang kutub nya itu, Naysilla tetap berusaha menampilkan senyum ketika berhadapan dengannya.


"Kamu punya tangan kan, kenapa tidak ketuk pintu dulu" kembali Bryan mencaci dan membentak hanya karena masalah sepele.


Ini orang maunya apa sih, tadi minta cepet, sekarang malah ngamuk maki Naysilla yang tentunya hanya bisa dia ucapkan dalam hati


"tidak usah memaki saya dalam hati, mau gaji kamu beneran saya potong?" sebuah ancaman yang begitu mengerikan bagi Naysilla lagi-lagi keluar dari mulut jahat Bryan.


Dengan cepat gadis itu menggeleng dan menunduk "maaf pak" ucapnya singkat, takut salah bicara yang malah akan membuatnya semakin salah di hadapan bos gilanya.


Entah sudah berapa banyak julukan yang Naysilla berikan untuk Bosnya pagi ini saking kesalnya dia dengan Bryan yang tiba-tiba memarahinya akibat masalah kecil yang dia besar-besarkan sendiri.


Naysilla masih terus berdiri di depan meja kerja Bryan, menunggu apa gerangan yang ingin dikatakan oleh mulut pedas pria dingin itu.


Namun hingga kedua kakinya kram pun bos kulkas dua pintu itu tidak kunjung buka suara, membuat Naysilla tidak sadar mendecakkan lidahnya keras "CK"


Sontak karena ulahnya itu Bryan menatapnya tajam dan lantas berdiri "apa kamu sudah bosan bekerja disini" dengan nada dinginnya Bryan berucap tanpa melepaskan tatapan matanya yang kian menusuk


Jika saja Naysilla tidak mengingat bahwa dirinya punya hutang pada Bryan mungkin saja dia lebih memilih untuk resign dari pada setiap hari harus senam jantung karena sikap pria dingin itu.


Ralat, bukan setiap hari juga sih, hanya sesekali namun jika sedang kumat, maka dipastikan tidak akan ada yang bisa lolos dari amukan beruang kutub jantan satu ini. Seperti pagi ini contohnya, hanya karena kedapatan mengobrol, itupun urusan pekerjaan, Naysilla harus siap mendapat amukan dari si beruang kutub yang menatapnya seperti seorang predator yang siap menerkam mangsanya.


"maaf pak" Setelah menimbang, sepertinya hanya kata itu yang pas untuk Naysilla ucapkan, untuk saat ini.


"maaf maaf maaf terus, apa tidak ada kata lain" bentak Bryan lagi untuk kesekian kalinya, membuat Naysilla tersentak kaget, perempuan itu ketakutan hingga hampir menangis.


Semenjak bekerja disini, entah sudah berapa kali Naysilla mendapat bentakan, namun ini yang paling parah hingga membuat mata gadis itu sedikit kabur karena sesuatu mendesak untuk keluar.


Bryan yang melihat sekretarisnya ketakutan, hingga matanya berkaca-kaca entah mengapa membuat pria dingin itu merasa sedikit bersalah "sudahlah, jam berapa rapatnya dimulai" ucapnya kembali duduk di kursi kebesarannya.


Naysilla sampai dibuat menganga tak percaya dengan apa yang terjadi, bahkan air mata yang hampir tumpah, menghilang dari pelupuk mati Ada apa dengannya, apakah dia masih waras? atau habis terbentur sesuatu?




Disisi lain terlihat seorang pria yang telah berusia senja nampak duduk termenung di dalam kamarnya seraya menatap keluar.



Pria tua itu meratapi nasibnya yang ternyata hidup dalam kebohongan selama bertahun-tahun, kebohongan yang diciptakan oleh istrinya sendiri selama ini.



Ralat, bukan istri lagi melainkan calon mantan istri, sebab setelah mengetahui semua kebusukan dari wanita itu, Abian telah menalaknya, dan meminta Robin mengirimkan surat perceraian kekediaman kedua orang tuanya, yang Abian yakini wanita itu bersembunyi disana.




Setelah mengetahui semuanya, jangan kan untuk melihat wajahnya, menyebut nama wanita itu saja bahkan Abian tidak sudi, dia jijiq.



Beberapa saat yang lalu wanita itu, Melissa datang dengan sendirinya tanpa perlu repot-repot lagi Robin mencari, Melissa memohon ampunan kepada Abian dan mengakui semuanya tanpa ada yang dia tutupi lagi.



Semua sudah berakhir, tidak ada gunanya lagi aku menutupi semuanya



batin Melissa yang sudah lelah dengan permainannya yang tidak pernah dan tidak akan membuahkan hasil.



Tangan keriput Kakek Abian mengepal, jika tidak malu dengan usia mungkin saja pria tua itu sudah meraung-raung akibat sesak yang terasa menghimpit dadanya, mendengar semua pengakuan Melissa



Selama hampir 80 tahun hidupnya, baru kali ini ia merasa benar-benar tidak berguna sebagai seorang laki-laki.



Marah? Sudah pasti, Menyesal? Apa lagi, namun semuanya sudah terlambat, kesalahan terbesarnya adalah dia yang tidak bisa menemukan jejak istri dan anaknya yang pergi malam itu.



"Robin..." Dengan lirih, kakek Abian memanggil sang asisten kepercayaannya.



"Saya, Tuan"



"Seret wanita itu keluar dari rumahku sekarang juga!!" titahnya dengan tegas, tanpa menoleh kebelakang dimana Melissa masih terduduk lemas di atas dilantai yang dingin.



"Baik, Tuan" tanpa menunggu perintah dua kali, Robin segera meraih pergelangan tangan Melissa dan menariknya secara paksa keluar dari kamar tuannya.



Tidak peduli meskipun wanita tua itu terus merintih dan memohon untuk dilepaskan, Robin seakan menulikan pendengarannya dan hanya fokus menjalankan sesuai apa yang diperintahkan oleh tuannya.



Bruuuk



"Lebih baik anda pergi dari sini, sebelum tuan berubah pikiran. Anda termasuk beruntung karena tuan tidak menghukum anda seperti yang selama ini beliau lakukan kepada musuhnya, dan jujur, saya sangat menyayangkan itu. Jika saya diposisi tuan, saya pasti akan mencincang tubuh anda lalu memberikannya kepada buaya" percayalah itu adalah kalimat terpanjang yang pernah Robin ucapkan selama hidupnya, dan itu semua keluar berkat Melissa.



Mendengar ucapan dari asisten tersebut membuat Melissa bergidik ngeri, namun juga membenarkan perkataan Robin yang mengatakan dirinya beruntung. Sedikit banyaknya Melissa tahu, bagaimana kejamnya Abian jika ada yang berkhianat padanya.



Tanpa membalas ucapan Robin lagi, wanita tua itu segera membawa kaki tuanya berlari kecil meninggalkan kawasan rumah yang pernah menjadi tempat tinggalnya, karena khawatir jika Abian akan berubah pikiran dan berbalik menghukumnya.



Melihat wanita jahat itu sudah pergi, Robin tersenyum tipis, seraya menghela nafas lega



Biang masalah telah selesai, saatnya menyelesaikan *masalah* lainnya



Robin membatin sambil menepuk kedua tangannya seolah menghilangkan debu yang menempel pada telapak tangannya.



\*\*\*\*