
Sore harinya Arash kembali ke apartemen Ziana untuk menjemput Attar sesuai kesepakatan mereka tadi siang.
Ziana yang sedang bermain dengan Attar bangkit untuk membukakan pintu "tunggu sebentar sepertinya ada yang datang" ucap Ziana sebelum pergi membuka pintu.
"iya Aunty" jawab Attar singkat karena masih fokus dengan mainan lego nya.
Ketika baru saja membuka pintu tiba-tiba wajah Ziana memerah saat mengingat kejadian tadi siang dimana Arash mengusap kepalanya dihadapan semua orang termasuk kedua orangtuanya.
"selamat sore" sapa Arash dengan senyum manisnya.
"sore" jawab Ziana pelan.
"tidak disuruh masuk nih tamunya" goda Arash sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Aunty Zi..kok lama" kata Attar sambil berjalan menuju pintu utama dimana Ziana dan Arash sedang berdiri.
"Daddy sudah datang" teriak Attar ketika melihat daddy-nya.
"iya boy, mau pulang sekarang?"
"ayo masuk dulu dad, Daddy harus lihat mainan Lego milik Aunty Zi, gedee banget" ajak Attar sambil menarik tangan sang Daddy.
Arash hanya pasrah ketika tangannya ditarik oleh Attar, sedangkan Ziana hanya mengikuti keduanya dari belakang.
Sesampainya didalam "lihat dad ini Attar yang buat, kalo itu" tunjuknya pada Lego yang disusun seperti kastil "itu punya aunty Zi, bagus kan dad" ucapnya bangga.
"wahh bagus banget boy, pinter banget kalian buatnya Daddy aja gak bisa" ujar Arash.
"iya dong" sahut Attar sambil ber tos ria dengan Ziana.
Tidak terasa sudah 2 jam Arash menemani Attar dan Ziana bermain Lego. Arash mengecek arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"boy.. ini sudah sore, ayo pulang" ajak Arash.
"yahh... dad" sahut Attar lesu.
"gak apa-apa, kan besok masih bisa main lagi kesini" ucap Ziana menghibur Attar.
"boleh Aunty?" tanya Attar dengan mata berbinar.
"boleh dong"
"makasih aunty" ucap Attar sambil berhambur kedalam pelukan Ziana.
Arash tersenyum lebar melihat kedekatan putranya dengan Ziana.
Setelah berpamitan, kedua laki-laki beda generasi itu pun meninggalkan rumah Ziana.
Bukan hanya hubungan Arash dan Ziana yang mengalami kemajuan, hal serupa pun tengah dirasakan oleh sang mantan cassanova yaitu Lucas dengan dokter Valerie.
Bahkan kini keduanya resmi menjalin hubungan asmara.
Lucas yang tidak ingin kehilangan Valerie, membuatnya bergerak cepat untuk menyatakan perasaannya kepada dokter muda nan cantik itu, sebelum keduluan oleh orang lain.
Bahkan tanpa sepengetahuan Valerie, diam-diam Lucas telah memesan sebuah cincin untuk melamar dokter Valerie.
Saat ini Lucas sedang dijalan untuk menjemput Valerie dari rumah sakit, niatnya Lucas ingin mengajak Valerie untuk makan malam.
Lucas telah memesan sebuah ruangan yang sudah dirancang seromantis mungkin khusus untuk dokter Valerie.
Setelah sampai di depan rumah sakit, Lucas menelpon Valerie untuk mengatakan bahwa dirinya sudah diluar.
15 menit kemudian barulah Valerie keluar sambil terburu-buru karena takut Lucas akan bosan menunggunya.
"sorry tadi masih ada pasien dulu, lama ya nunggunya" ujar Valerie setelah masuk kedalam mobil.
"nih minum dulu" bukannya menjawab, Lucas malah menyodorkan sebotol air mineral yang telah di buka penutupnya.
"makasih" ucap Valerie mengambil botol tersebut dan langsung meneguknya karena memang haus setelah berlarian dari dalam rumah sakit yang begitu luas, sampai keluar.
Selesai minum Lucas mulai menjalankan mobilnya. "kita mau kemana? ini kan bukan arah rumah ku" tanya Valerie heran.
Lucas tersenyum sambil menjawab "aku mau ngajakin kamu dinner"
"ishh..kok gak bilang, aku kan belum make up" gerutu Valerie yang diajak dinner tiba-tiba tanpa pemberitahuan.
"gombal, dasar Playboy" dengus Valerie memalingkan wajahnya yang sudah memerah bak kepiting rebus.
"itu dulu sayang, sebelum aku kenal sama kamu" koreksinya sambil mengedipkan sebelah matanya genit.
"iihh genit banget sih" ucap Valerie memukul bahu Lucas, namun bukannya merasa sakit, lelaki itu malah tertawa.
Setelah sampai di restoran yang sudah di reservasi oleh Lucas, lelaki itu pun menggandeng lengan Valerie untuk masuk.
"permisi mba, reservasi atas nama Lucas disebelah mana ya?" tanya Lucas kepada receptionist.
Receptionist itu pun mengarahkan Lucas untuk ke ruangan yang sudah didesain khusus untuk dokter Valerie.
Valerie dibuat takjub dengan dekorasi ruangan tersebut. Lucas kembali menggandeng tangannya kemudian menuntunnya untuk duduk.
Selang beberapa menit 2 orang waiters datang dan menghidangkan makanan yang telah dipesan Lucas sebelumnya.
"terimakasih mba" sahut keduanya bersamaan.
Setelah waiters itu pergi Valerie bertanya "kapan kamu pesan makan ini?"
"tadi, saat aku reservasi tempat ini" jawab Lucas jujur.
"makasih ya" ucap Valerie terharu.
"sudah nanti aja makasih nya, ayo makan dulu kamu pasti laper kan" ujar Lucas diangguki oleh Valerie.
"selamat makan" seru keduanya secara bersamaan, kemudian tertawa karena hal itu. mereka pun mulai menikmati makanannya.
Sementara kedua pasangan diatas mulai menemukan kebahagiaan hal berbeda justru dialami oleh Agler.
pria itu dikurung oleh Kakek Abian dan tidak diijinkan keluar dari rumah oleh sang kakek.
Saat sedang sibuk memikirkan jalan untuk kabur, tiba-tiba kakek Abian masuk bersama seorang perawat yang akan mengobati luka-luka ditubuh Agler.
Agler yang melihat kedatangan kakeknya bersama dengan seorang perempuan hanya cuek saja.
"kamu tolong obati dia, kalau dia menolak pukul saja luka-lukanya" kata kakek Abian yang dibalas anggukan oleh perawat tersebut sambil berkata "baik tuan".
Perawat itu lalu mendekati Agler yang duduk di pinggiran tempat tidur. Melihat itu Agler langsung berdiri "mau ngapain kamu?"
"saya hanya ingin melaksanakan perintah tuan" ucap perawat itu.
"saya tidak butuh, jadi sebaiknya kalian keluar dari sini" usirnya dengan nada dingin.
"obati dia, jangan keluar dari sini sebelum kamu mengobatinya, jika tidak kamu akan tahu sendiri akibatnya" ucap kakek abian tegas, setelah itu keluar begitu saja.
"Aarrghhh..sial" maki Agler setelah punggung kakeknya sudah tidak terlihat lagi.
Karena tidak punya pilihan lain akhirnya Agler membiarkan saja perawat itu mengobati lukanya.
Setelah selesai dengan urusannya perawat itu pun keluar dari kamar Agler.
Di ruang tamu Robin sudah duduk dan menunggu kedatangan perawat tersebut "sudah selesai mengobati luka tuan muda?" tanya Robin.
"sudah tuan" jawab perawat tersebut sambil menunduk
"bagus" Robin mengangguk.
"kalau begitu kau sudah boleh pergi, supir akan mengantarmu ke rumah sakit" sambung Robin memberi tahu.
"baik tuan, terimakasih" jawabnya kemudian berlalu dari sana.
Setelah perawat itu pergi Robin terlihat menghela nafasnya "semoga tuan muda tidak berulah lagi setelah ini" gumamnya lalu berdiri dan melangkahkan kakinya menuju ruang kerja tuan Abian yang terletak di lantai 2, untuk menyampaikan informasi mengenai Agler.
****
Happy Reading 💞💞 💞