
Malam itu juga Arash dan Ziana kembali ke kota A dan baru sampai saat jam 2 pagi saat Attar sudah terlelap.
Keduanya langsung kerumah sakit, meskipun sebelumnya Arash sudah menyarankan Ziana untuk pulang ke apartemennya saja karena sudah tengah malam.
Tapi perempuan itu memaksa untuk tetap kerumah sakit karena memang tujuannya ke kota A adalah untuk menjenguk Attar.
Kini Ziana duduk di kursi samping brankar milik Attar, sementara Arash bergabung bersama keluarganya yang sedang tertidur di sofa, setelah mengecek keadaan sang anak terlebih dahulu.
Attar terbangun karena merasa haus, dan langsung berbinar saat mendapati aunty Zi sudah berada disampingnya dan sedang tertidur sambil menelungkupkan kepalanya.
Bocah laki-laki itu sebenarnya tidak ingin mengganggu Ziana, namun dia tidak punya pilihan lain selain membangunkan Ziana, sebab letak air minumnya jauh dan Attar yang masih lemas sehingga tidak bisa untuk mengambilnya sendiri.
"aunty..aunty Zi" ucap Attar sambil mengguncang pelan tangan Ziana.
"kenapa sayang?" tanya Ziana pelan karena tidak ingin mengganggu yang lain.
"minum.." lirih Attar berusaha bangun.
"sebentar ya aunty ambilkan air minumnya" kata Ziana sembari membantu Attar untuk duduk.
"terimakasih aunty" ucap Attar setelah selesai minum, dan mengembalikan gelas tersebut kepada Ziana.
Ziana hanya tersenyum "sekarang bobo lagi ya" kata Ziana sambil membantu Attar berbaring kembali lalu membenarkan selimutnya.
"eemmm aunty" panggil Attar gugup.
"iya kenapa sayang, butuh sesuatu?" tanya Ziana namun bocah laki-laki itu menggeleng.
"terus mau apa hemm.."
"eemmm.. Attar mau minta peluk boleh" ujar Attar dengan nada memohon membuat Ziana tidak tega untuk menolak permintaan sederhananya.
Ziana tersenyum sambil mengangguk "iyaa boleh" lalu kemudian perempuan itu ikut naik dan membaringkan tubuhnya di atas brankar bersama Attar.
tidak lama kemudian keduanya tertidur dengan posisi saling memeluk.
Sementara itu di kota S tepatnya di rumah sakit tempat Lucas dirawat, terlihat Valerie yang sedang menemani Lucas di ruangannya.
Sedangkan yang lain baru saja pulang ke penginapan, dan hanya menyisakan mereka berdua.
Karena sudah larut malam, Valerie memilih untuk tidur. Perempuan itu menelungkupkan kepalanya pada brankar Lucas.
Selang beberapa menit suara hembusan nafas perempuan itu sudah mulai teratur diikuti oleh suara dengkuran halusnya, menandakan bahwa perempuan itu sudah terlelap dalam tidurnya.
Lucas membuka matanya dan tersenyum ketika mendapati bahwa Valerie menungguinya sambil tertidur.
"manisnya" gumam Lucas sambil memberanikan diri mengusap kepala Valerie, sangat pelan karena takut membuat tidur perempuan itu terganggu.
Namun diluar dugaan, bukannya terganggu, Valerie malah semakin larut dalam mimpinya, tanpa merasa terganggu sama sekali oleh pergerakan tangan Lucas. Valerie malah menikmati usapan lembut yang di berikan oleh lelaki tersebut.
Lucas semakin melebarkan senyumnya melihat respon yang diberikan oleh dokter cantik yang sudah memenuhi seluruh hatinya.
Semenjak melihat Valerie pertama kali dirumah sakit waktu itu, Lucas sudah menjatuhkan hatinya kepada perempuan itu, dan sejak saat itu pula Lucas tidak pernah lagi bermain wanita seperti yang sering dilakukannya selama ini.
Valerie adalah perempuan pertama yang membuat Lucas merasakan jatuh cinta, dan Lucas bertekad untuk menjadikan perempuan itu sebagai yang terakhir dalam perjalanan cintanya.
Setelah puas menikmati wajah damai Valerie yang tertidur, perlahan mata Lucas ikut terpejam.
Cahaya bulan kini berganti dengan sinar mentari pagi, membuat semua manusia kembali melakukan aktivitas.
Seperti pagi ini, Arianna yang terbiasa bangun pagi mulai membuka matanya, wanita paruh baya itu langsung mengecek keadaan sang cucu dan tersenyum bahagia saat melihat pemandangan diatas brankar.
Dimana sang cucu kesayangan tengah tertidur sambil berpelukan dengan seorang perempuan yang tidak lain adalah Ziana, satu-satunya perempuan yang berhasil dekat dan mengambil hati cucunya tersebut.
Selama ini baik Arianna maupun Arnan sudah sering mengenalkan perempuan perempuan kepada Arash, namun Arash hanya akan setuju jika Attar sendiri yang menilai perempuan yang akan menjadi ibu sambungnya kelak, namun tidak ada satupun yang dipilih oleh Attar.
Dan sekarang sepertinya pilihan cucunya itu sudah jatuh kepada Ziana yang baru dikenalnya beberapa bulan ini.
Arnan yang juga telah bangun ikut tersenyum melihat cucunya yang terlihat sangat damai dalam tidurnya.
Tidak ada yang membangunkan karena tidak ingin mengganggu keduanya.
Selang beberapa saat seorang dokter diikuti oleh suster masuk keruangan tersebut untuk memeriksa kondisi Attar.
"selamat pagi.. saya periksa pasien sebentar ya" izinnya. Dijawab anggukan oleh semua orang.
Ziana yang mendengar suara berisik pun terbangun namun karena Attar yang masih memeluknya erat membuat nya tidak bisa bebas bergerak.
"permisi ya bu, saya periksa anaknya dulu" ucap dokter tersebut tanpa rasa bersalah.
Ziana yang malas menjelaskan hanya mengangguk sebagai jawaban.
"wah keadaan Attar sudah membaik, pasti berkat kehadiran ibunya." kata dokter wanita itu ramah. "Tapi masih harus banyak istirahat ya Bu, sama pola makannya dijaga dulu, obatnya juga jangan lupa" pesan dokter tersebut sambil tersenyum.
Semakin dibiarkan dokter tersebut semakin menjadi membuat Ziana tidak bisa diam saja dengan kesalahpahaman ini.
"maaf dok anda salah paham sebenarnya saya hanya---
"baik terimakasih dokter" Sela Arash cepat karena tahu maksud dari Ziana.
Dokter tersebut mengangguk "kalau begitu saya permisi pak, bu" kemudian pamit karena masih harus memeriksa pasien yang lain.
Setelah kepergian dokter tersebut, Ziana melotot tajam kearah Arash dan membuat nyali laki-laki itu menjadi ciut. Beruntung Attar terbangun, jadilah Ziana mengalihkan perhatiannya kepada bocah laki-laki itu.
"selamat" gumam Arash sambil mengelus dadanya namun masih bisa didengar oleh Aruna.
Gadis itu merasa lucu melihat ekspresi Arash yang takut kepada Ziana.
Sementara itu di penginapan, Jessica dan Dian dibuat panik karena tidak mendapati Ziana, sebab perempuan itu pergi tanpa berpamitan karena terlalu khawatir dengan Attar.
Mereka sudah menghubungi nomor Ziana namun tidak terhubung. Dian yang panik pun segera menghubungi Regan.
Namun ternyata bukan hanya Ziana yang menghilang melainkan Arash pun ikut menghilang.
Setelah sambungan teleponnya terputus Regan lalu menghubungi Arash untuk menanyakan keberadaan laki-laki itu dan Ziana.
"*halo*.." sapa Arash diseberang sana.
"Halo, lo dimana sekarang?" tanya Regan.
"*gue di kota A, sorry semalam gak sempat ngasih tau kalian, gue buru-buru* **soalnya anak gue masuk rumah sakit**"
"gak apa-apa, tapi Ziana ada sama lo kan?" tanya Regan lagi.
"*iya dia sama gue, soalnya anak gue lagi rewel ingin ketemu Ziana*" ucap Arash.
"yaudah gue cuma mau nanyain itu, semoga anak lu cepet sembuh ya" kata Regan.
"**Aamiin** *thanks ya bro*"
"sama-sama. Titip Ziana, jagain dia" pesan Regan kepada Arash dan laki-laki itu mengiyakan.
Setelah itu sambungan terputus, Regan mengirim pesan singkat kepada Dian tentang keberadaan Ziana dan Arash, dan juga alasan mereka pulang semalam tanpa memberi tahu sebelumnya.
\*\*\*\*
Happy Reading 💞💞 💞