
Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat
Penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja
Lagu dari KLA Project yang berjudul Yogyakarta mengalun memenuhi seluruh restoran yang cukup mewah namun bertemakan lesehan di pusat kota Yogyakarta.
Malam ini Mikha dan seluruh keluarganya serta keluarga Jerry dan Dilla sedang menikmati makan malam, setelah seharian berjalan-jalan berkeliling Yogyakarta.
Malam cerah berbintang seakan menandakan bahwa alam semesta merestui kebersamaan mereka, menikmati suasana kota yang memang sangat membuat siapapun mudah merindukannya.
"Jerry, Bagaimana kalau resepsi pernikahan kita di gabungkan saja." Ucap Max, sambil menyeruput jus alpukat miliknya.
"aku sih setuju aja, tapi semua gimana mau Dilla aja." Jawab Jerry merangkul Dilla yang berada di sampingnya tanpa malu-malu.
"Boleh, kayanya akan seru." Ucap Dilla semangat, ia sangat senang dengan rencana Maxim.
"Le, tapi maaf ibu, bapak dan Rika gak bisa lama-lama disana, kasihan adikmu sudah mau ujian kenaikan kelas." Ucap Bu Yani pada menantunya.
"Iya gak apa-apa Bu, nanti di jemput pakai Jet pribadi daddy aja biar cepat, bareng sekalian sama keluarga Dilla saja."
"Apa tidak merepotkan Nak?" Ucap Pak Hasan.
"Tidak pakde, setelah surat-surat nikah Dilla selesai kita langsung mengadakan resepsi, aku gak sabar mengumumkan kehamilan Mikha di sana secara langsung." Ucap Max menatap hangat dan mengelus lembut perut istrinya.
Ryan terdiam, pria itu menundukkan pandangannya dan tersenyum getir. Cemburu dan sakit itulah yang ia rasakan kala melihat adegan demi adegan romantis yang di lakukan Max dan Mikha.
Rika menggenggam jemari Ryan yang nampak mengepal, gadis itu seolah menyemangati Ryan untuk segera melupakan perasaannya.
Keesokan harinya nampak Mikha dan Maxim pamit kepada kedua orang tuanya dan Rika, begitu pula dengan Dilla dan Jerry, David dan Ryan, juga keluarga Jerry.
Hari ini mereka akan kembali ke London, sedangkan keluarga Jerry akan kembali ke Jerman.
"Hati-hati ya, Nduk ! kabari ibu kalau sudah sampai, jaga baik-baik kandungannya." Ucap Bu Yani memeluk putrinya, entah mengapa ada perasaan cemas tanpa sebab yang ia rasakan.
Kini mereka kembali meninggalkan kota seribu kenangan, sungguh berat bagi Mikha meninggalkan keluarganya namun sebagai seorang Istri memang sudah kewajibannya mengikuti kemanapun sang suami pergi.
"Sabar ya sayang, nanti kita sering-sering pulang kampung." Ucap Max mencium kening istrinya.
......................
Indah tampak terduduk menikmati senja di sebuah balkon hotel mewah di negara China.
Sejak pagi Jhon memang tidak mengizinkannya bekerja, pria itu pun sibuk mengurus segala masalah bersama Tuan besar Wang di hotel yang belum lama beroperasi tersebut.
Ting Tong
suara bel kamar berbunyi, Indah segera berlari membukakan pintu. Ia berharap Jhon telah selesai bekerja dan menghampirinya.
"Hai nona manis."
Ucap seorang pria muda di balik pintu tersebut, ia lagi-lagi membawa sebuket mawar merah walau tidak sebesar waktu itu.
"Agus!" Indah tampak panik, ia takut tiba-tiba Jhon datang dan kembali salah paham padanya.
"Kau kenapa tidak memberi kabar, tiba-tiba kembali ke Indonesia. Aku kan bisa mengantarmu." Ucap Tuan Muda Wang.
"E-emm a-ada urusan mendadak, l-lagi pula a-aku di temani Kak Jhon."
Indah tergagap, demi apapun gadis itu di buat cemas karena takut Jhon melihatnya bersama Tuan Wang.
"Kakak? ah ya sudahlah, ini bunga untukmu! bagaimana kalau kita makan malam bersama?"
"M-maaf..."
"M-maaf Indah tidak suka mawar merah Tuan, dan baiklah kami akan memenuhi undangan makan malam dari anda."
Suara bariton yang begitu berat, tiba-tiba terdengar. Indah dan Tuan Wang spontan menoleh pada sumber suara tersebut yang berasal dari Jhon.
"Emm maaf Indah aku tidak tau kau tidak suka mawar merah, baiklah saya tunggu kehadirannya untuk makan malam bersama, kalau begitu saya permisi dulu."
Jhon menatap tajam kekasihnya, tanpa bersuara dan meminta izin, pria itu segera masuk ke dalam kamar Indah.
"Mulai saat ini, selama di China aku akan tidur disini bersamamu!" Ucap Jhon dengan nada suara menekan, tanda tidak menerima penolakan ataupun bantahan.
Waktu makan malam tiba, Jhon memakai kemeja merah marun dilengkapi tuxedo hitamnya sangat serasi dengan pakaian yang di kenakan Indah yang berupa, gaun malam berwarna merah marun dengan leher sabrina hingga nampak mengekspos tulang selangka Indah yang sedikit dipoles highlighter.
Jhon memeluk kekasihnya dari belakang, pria itu nampak mengecup lembut tengkuk leher Indah yang tengah sibuk mengaplikasikan lipstik di bibirnya.
"Kenapa kau berdandan begitu cantik, sayang." Ucap Jhon berbisik pada telinga Indah.
"Ya aku kan menyesuaikan denganmu."
"Baiklah Nyonya Jhon Larry, kamu memang cantik."Jhon mengecup bibir Indah, pria itu tersenyum dan langsung menggandeng tangan Indah.
Di sebuah restoran, Tuan Muda Wang sudah menunggu kedatangan gadis pujaan hatinya.
Dengan membawa mawar putih, pria itu begitu tak sabar ingin bertemu dengan Indah.
Lama waktu di tunggu, Ia tersenyum merekah kala melihat gadis yang di nanti telah datang, namun seketika senyum itu menghilang saat ia melihat Jhon yang tiba-tiba merangkul Indah dengan begitu mesranya.
"Selamat malam tuan Wang, maaf sudah menunggu lama." Sapa Jhon memberikan senyuman terbaiknya.
"Oh iya tidak apa-apa Tuan Jhon, silahkan duduk." Ucap Tuan Wang mempersilahkan Jhon dan Indah.
Jhon menarik sebuah kursi untuk Indah, gadis itu tersenyum mesra menatap kekasihnya.
"Silahkan di cicipi hidangannya."
Mereka bertiga pada akhirnya makan malam bersama, tidak banyak hal yang di bicarakan semua hanya seputar bisnis.
Sesekali Jhon tampak membersihkan sisa makanan yang tertinggal di bibir Indah, sungguh pemandangan yang sangat tidak wajar untuk seorang sekretaris dan bosnya.
"Kalian akrab sekali." Ucap Tuan Wang yang mulai tidak tahan dengan pertanyaan yang berkecamuk di benaknya, Indah hanya terdiam menunduk membiarkan Jhon yang menjelaskan semua.
"Ya, Indah itu sahabat dari adik iparku."
"owh pantas saja begitu akrab, pasti anda sudah anggap sebagai adik sendiri."
"Tidak, dia calon istriku, ibu sambung dari anakku."
Uhuk...Uhuk...
Tuan Wang terkejut hingga tersedak, ia sama sekali tidak menyangka dengan kenyataan yang baru didengarnya.
......................
Maxim, Mikha serta para temannya baru saja mendarat di London, entah mengapa sudah banyak wartawan dan beberapa fans yang berkerumun di pintu keluar bandar udara tersebut.
"Jer, pernikahanmu belum terekspos kan?" tanya David yang bingung.
"Belum."
"Lalu? untuk apa mereka di sana." David tampak mengerutkan keningnya.
Pada akhirnya Max yang penasaran, menghampiri para wartawan yang telah meneriaki nama Maxim.
"Hai Max! apa benar sebelum menikah kau memiliki tunangan?"
"Apa benar kau memutuskan Tunanganmu karena ingin menikahi Mikha?"
"Apakah Mikha adalah orang ke 3 penyebab putusnya hubungan kau dengan wanita bernama Clara?"
Pertanyaan demi pertanyaan terus menghujani Max yang nampak bingung, bahkan ia bagaikan tidak di beri kesempatan menjawab oleh para jurnalis tersebut.
PLAK
"Dasar wanita perusak! J*lang!"
seorang fans wanita tiba-tiba saja menampar dan mendorong Mikha hingga jatuh tersungkur.
Sedangkan dari kejauhan Clara Tersenyum puas menyaksikan huru hara yang terjadi.
"hahahaha ini belum apa-apa, aku akan lebih mempermalukanmu." Ucap wanita itu dengan seringai di bibirnya.
......................