Oh My Mister

Oh My Mister
Setitik Noda (21+)



WARNING! Part ini memuat adegan serta kata-kata kasar.


mohon menjadi pembaca bijak dalam menyikapinya.


Terima kasih 😊


❤❤❤


Mikha yang baru saja turun dari bus dalam kota, ia menunggu ojek di pangkalan ojek yang berada di depan gapura menuju desanya, karena jarak antara jalan utama dengan rumahnya terbilang cukup jauh. Namun lama ia menunggu tidak ada satupun ojek yang datang.


Tiba-tiba datang seorang pria yang ia kenal mendekatinya menggunakan sepeda motor, pria itu pun kemudian berhenti tepat di depan Mikha dan menyapanya.


"Dek Mikha, kapan datang?" Sapa pemuda itu.


"eh mas Ari, ini loh semalam tapi ke rumah sakit dulu jaga bapak." jawab Mikha berusaha ramah.


"sekarang mau kemana? mau kerumah kan? sini bareng aja sama mas."


"ah Makasih loh mas gak perlu repot-repot, aku nunggu ojek aja kalau gak becak."


Mikha mencoba menolak tawaran Ari, ia tahu bahwa selama ini Ari menaruh hati padanya, sedangkan Ari adalah pria muda yang sudah beristri 2.


"Lah kenapa? kan searah, lagian kaya sama siapa aja."


"Makasih mas gak perlu."


"sudah gak perlu sungkan, pagi-pagi begini ojek sama becak pasti nganter orang semua."


Ari memaksa, ia menarik tangan Mikha menuju sepeda motornya.


Mikha yang merasa tidak enak hati hanya bisa mengikutinya, ia tidak mau membuat Ari tersinggung jika terus menolaknya.


Di sepanjang jalan Mikha hanya terdiam, Hingga Ari mencoba menyapanya terlebih dahulu.


"Dek kalau mas mau lamar kamu, kamu mau gak?"


Pertanyaan dari Ari tentu saya membuat bulu kuduk Mikha merinding, ia bingung harus menjawab apa kepada pria tersebut.


"hahaha bisa aja bercandanya si mas, aku udah punya calon loh mas." Ucap Mikha dengan maksud menolak secara halus pertanyaan Ari.


"oh sayang sekali ya"


Mikha kembali terdiam lagi, hingga ia menyadari bahwa jalan yang dilalui bukan jalan pada umumnya di lewati warga desa.


"Loh kok lewat sini mas?" tanya Mikha yang mulai curiga.


"iya dek, di jalan depan mau ada yang hajatan jadi di tutup, mau tidak mau kita lewat belakang."


Drrrt...Drrrt....


Handphone Mikha bergetar, ia pun segera menjawab panggilan telepon dari adiknya.


"Ya Dek, mba masih dijalan nih, di anterin sama mas Ari tadi ketemu di jalan.


Hallo iya kenapa dek mba turun sekarang, mas Ari bisa tolong berhenti gak?" Ucap Mikha berusaha tidak panik.


Ari memberhentikan motornya, ia kemudian menghampiri Mikha dan merebut ponsel milik Mikha kemudian melemparnya ke kebun di sisi kanan jalan.


"loh loh ! ada apa mas? kok Handphone ku di buang!"


Perasaan Mikha mulai tidak enak, ia merasakan ada sesuatu yang janggal dengan sikap Ari.


Gadis itu perlahan berjalan mundur dan mencoba menjauh dari Ari.


keadaan jalan yang sepi dan hanya di kelilingi kebun jagung dan pohon-pohon jati membuat ia sangat ketakutan.


Mikha segera berlari namun Ari mengejarnya.


"Tolonggg! Tolong!" Mikha berteriak meminta tolong namun sepertinya tidak ada seorang pun di sana.


Mikha terus berlari namun sayang karena fisiknya yang sedang lemah hingga dengan mudahnya ia terkejar dan tertangkap oleh Ari.


"Tolong mas lepasin aku! tolong! aku salah apa sama kamu?" Mikha terus memberontak, kedua tangannya di tarik oleh Ari dengan kasar.


"DIAM!!!" Pekik Ari membentak Mikha.


Namun gadis itu terus memberontak berupaya melepaskan diri sekuat tenaga.


"Awww!!!"


Mikha menggigit tangan Ari, hingga tangannya terbebas dari cengkraman pria itu, lalu ia berlari sekuat tenaga dengan terus berteriak berharap ada seseorang yang mendengar teriakannya dan datang untuk menolongnya.


Peluhnya semakin bercucuran dengan di selimuti perasaan takut yang semakin kuat.


Ia tidak habis pikir, pria yang selama ini di puja-puja seluruh gadis di desanya ternyata adalah pria yang sangat menakutkan.


PLAK!


Mikha jatuh tersungkur ke tanah, Darah segar mengalir dari pelipisnya.


"haha makanya sayang lebih baik kau menurut! jadi aku tidak harus melukaimu seperti ini." Ucap Ari berbisik, ia membuang sebongkah batang kayu yang di gunakan untuk melukai Mikha kesembarang arah.


Lalu ia membawa gadis yag tak berdaya itu ke sebuah gudang penyimpanan gabah yang tak jauh dari tempat tersebut.


"To-tolong! Tolong aku!" Jerit Mikha dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya.


"Heh simpan saja tenagamu, percuma kau teriak kebun-kebun ini milikku! tidak akan ada siapapun disini." ucap Ari menyeringai


"mau apa kau? salahku apa padamu!" Bentak Mikha, ia berusaha merangkak mencoba lari dari Ari, Namun kepalanya yang semakin sakit membuatnya semakin melemah.


"hahaha salahmu karena kau dan orang tuamu menolakku! heh dengar apapun yang aku mau maka aku harus memilikinya, termasuk kau!"


Ari menc*ngkr*m wajah Mikha yang meringis kesakitan.


"Tenanglah sayang aku akan bertanggung jawab padamu." Ucap Ari lirih dan membelai wajah Mikha yang gemetar penuh ketakutan.


Pria itu menodai Mikha, dia berharap dengan begitu ia bisa menjadikan gadis itu Istrinya.


"Sampai matipun aku tak sudi di sentuh olehmu B*ad*p! cihh!"


Mikha melud*hi wajah pria itu, lalu sekuat tenaga ia mencoba keluar dari c*ngkr*man pria tersebut.


"heh tidak akan bisa, kamu milikku! MI...LIK...KU!" ujar Ari menyeringai.


Wanita itu terus berontak, berteriak dan menangis mengharap seseorang menolongnya.


"S-SA-KIT!!!" Mikha memekik dan menangis merasakan sakit yang teramat kuat saat kejantanan Ari mulai masuk ke bagian kewanitaannya.


Darah tampak mengalir dari pelipis dan area sensitif nya.


"Max tolong aku huhuhu." Ucap Mikha lirih entah mengapa hanya Max lah yang terlintas di pikiran saat ini, ia semakin merasa pusing dan sakit di kepalanya.


"Dasar Bi*dap!!!"


Bruk!


Ari Wijaya jatuh tersungkur, Max tiba-tiba datang bagaikan orang kehilangan akal.


ia memukuli Ari bertubi-tubi hingga terkapar dan tak sadarkan diri.


Dilla yang datang bersama Max seketika langsung menghampiri sahabatnya yang terluka parah dengan pakaian yang berantakan, segera ia memakaikan sebuah jaket miliknya kepada Mikha, serta memeluk sahabatnya yang gemetar ketakutan.


"Max sudah cukup! kau bisa membunuhnya!" Pekik Dilla berusaha menghentikan aksi Max yang sudah gelap mata.


Max tersadar dan langsung menghampiri Mikha yang terlihat sangat memprihatinkan.


"Maaf aku terlambat sayang". Ucap Max lirih memeluk erat Mikha yang masih menangis histeris.


"M ...Max! kau benar Max?" Ucap Mikha lirih, ia menyentuh perlahan wajah pria yang sangat dirindukannya, namun sakit akibat luka di kepalanya tak tertahankan lagi, pandangannya semakin buram dan ia pun tak sadarkan diri.


Tak lama berselang datang mas Dodo, Rika, dan 2 orang polisi.


mereka segera mengamankan Ari dan Max segera membawa Mikha ke rumah sakit.


***


Detik demi detik silih berganti Max tak kunjung beranjak dari sisi Mikha yang masih terbaring tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit, pria itu terus menerus menggenggam tangan gadis kesayangannya.


"Le... istirahatlah dulu biar ibu yang jaga Mikha." Ucap Bu Yani menepuk pundak Max.


" Tidak Bu, tolong izinkan saya menemani Mikha sampai ia siuman." Ucap Max lirih, matanya terlihat memerah karena terus menerus mengeluarkan air mata.


Dilla menghampiri Bu Yani, ia meminta Bu Yani membiarkan saja apa yang di inginkan pria itu.


Satu hal yang ibu Yani baru ketahui, pria itu amat sangat mencintai anaknya, bahkan ia terlihat lebih terpuruk dari siapapun melihat kondisi Mikha yang seperti itu.


"Mikha maafkan aku yang tak mampu menjagamu, aku sangat mencintaimu! sangat sangat mencintaimu! tolong segeralah pulih, aku berjanji akan menjagamu dan mencintaimu seumur hidupku." Ucap Max lirih dan mengecup tangan Mikha.


***


Berikut Visual Rika dan Ari Wijaya


(inget menurut Author ya wkwkwk)



Rika Rahayu


17 tahun


Adik satu-satunya Mikha



Ari Wijaya


30 tahun


Putra satu-satunya keluarga Wijaya


Keluarga Wijaya adalah Keluarga terkaya di desanya.


****Part ini perjuangan banget buat Author


tadinya mau buat lebih terasa nyata tapi apa daya huhuhu tidak lolos Review padahal udah di sensor-sensor dan beberapa kali edit-edit😭


ya sudahlah tidak apa-apa, semoga kalian senang ya membaca karyaku.


jangan lupa Favorit, Like, Koment, vote


dan Bintang 5 nya kakak


Terima kasih, See you**❤❤❤**