Oh My Mister

Oh My Mister
Kembali ke London




Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi, semua keluarga besar sudah selesai sarapan bersama.


Mikha masih mengabaikan suaminya, membuat pria itu gelisah bukan kepalang.


"Ada yang aku mau katakan." Ucap Mikha dengan wajah serius.


"Rika, kamu tau mba phobia bunga tapi kenapa kau tidak memberitahu Ibu, bapak, dan Maxim? maksudmu apa? sampai mba di sangka hamil, kamu sadar gak sih sudah membohongi orang tua?"


Ucap Mikha mencoba mengontrol emosinya, ia sadar di sana masih ada mertua dan iparnya yang ikut menyaksikan.


Mendengar perkataan Mikha, Rika tertunduk takut.


Gadis itu memang sangat takut jika kakaknya sudah marah, namun walaupun begitu ia tidak pernah kapok untuk berulah lagi dan lagi.


"Maaf mba, aku tadinya gak sengaja. A...aku lupa kasih tau mas." jawab Rika lirih


"Tapi kenapa kau gak langsung kasih tau, saat kau ingat?"


"A...aku mau tau kesungguhan mas Maxim, apa ia. benar-benar menerima mba apa adanya."


"Nduk, itu urusan mas kamu dan mba kamu, kamu tak perlu ikut campur, kamu salah sudah membohongi orang tua, bahkan orang tuanya mas Maxim juga." Ucap Pak Ali yang masih dengan sabar menasehati Rika.


"Huh ... kelakuan kamu benar-benar sudah keterlaluan de, pokoknya setelah kita pulang dari sini, kau yang harus membersihkan kandang sapi setiap hari sampai bapak sembuh!"


Rika mengerucutkan bibirnya saat mendengar hukuman yang ia terima, setidaknya dia masih bersyukur namanya tidak sampai di coret dari kartu keluarga.


Setelah itu Rika meminta maaf kepada seluruh keluarga Maxim yang sudah termakan kesalahan pahaman yang ia buat.


Nyonya Anna bernafas lega, mengetahui menantunya tidak hamil anak dari pemuda busuk itu.


...***...


Keesokan harinya semua sudah bersiap kembali pulang ke rumah.


Tuan Andrew serta keluarganya harus terlebih dahulu kembali ke London karena masih ada pekerjaan di sana, walaupun Bella terus menangis karena tidak ingin lepas dari gendongan Indah.


"Sayang, jangan begitu kasian aunty." Ucap Nyonya Anna membujuk Bella yang terus mencengkeram kerah baju Indah.


"mam...mom." Ucap Bella yang seakan protes saat Indah di sebut aunty.


"Sayang pulang dulu sama Grandma ya, nanti kapan-kapan Mommy menyusul kesana, Bella kan anak baik jadi tidak boleh nakal." Ucap Indah dengan lembut dan mencium kedua pipi tembam Bella.


Melihat Indah yang begitu lembut dan menyayangi cucunya, Nyonya Anna tersenyum dan sedikit berharap kelak Indah benar-benar bisa menjadi Ibu sambung untuk Bella.


Setelah semuanya bersiap, seluruh karyawan memberi hormat dan salam perpisahan kepada Tuan Andrew Larry dan seluruh keluarganya, bahkan ada beberapa yang meminta berfoto dengan Suaminya dan kedua temannya.


Mikha terus bertanya-tanya mengapa Keluarga Max begitu di hormati dan Max berserta teman-temannya di perlakukan layaknya selebriti.


Sebelum berpisah dengan keluarga Larry mereka saling berpelukan, terutama nyonya Anna dan Marrie yang sangat menanti kedatangan Mikha ke negaranya.


"Hati-hati di jalan ya mom." Ucap Mikha yang masih berada dipelukan Nyonya Anna.


Sedangkan Dilla dan Marrie terlihat sedang saling berbisik merencanakan sesuatu.


"Tenang saja ka, aku akan membantu percintaan antara pria tua dan wanita muda itu, pokoknya beres!"


Bisik Marrie seraya mengacungkan jari jempol tangannya kepada Dilla.


Di sepanjang jalan Indah terus saja menatap nanar ke arah jendela mobil, sesekali ia menghela nafas panjang.


"Kau tak sempat tanyakan aku


Cintakah aku padamu.


Tiap kali,


Aku berlutut


Aku berdoa


Kau bisa cinta padaku


Tiap kali


Aku memanggil


Didalam hati


Mana mas Jhon,


Mana mas Jhon ku,


Mana mas Jhon ku...u...u...u..."


Dilla menyanyikan sebuah lagu dari Bunga citra lestari dengan suara fals nan melengking dan sedikit diubah liriknya untuk menggoda Indah.


Pletakk!


"S*alan" Pekik Indah kesal.


Kepala Dilla dilempar botol plastik bekas air mineral oleh Indah, membuat semua yang ada di mobil menahan tawa melihat kelakuan 2 gadis itu.


"Indah dan ka Jhon maksudnya apa?" Tanya Max yang belum tau apa-apa tentang perasaan Indah kepada kakaknya.


"ehmm... Indah mau jadi kakak iparmu ehmm..." Ucap Mikha menahan tawa.


"What! are you seriously?" ucap Max terkejut.


"Udah lah Ndah si Jhon jangan di harapkan, lagi pula masih ada Ryan dan Jerry yang jomblo, benar kan Ryan, Jer?" Ucap David.


"Tidak, aku sudah punya dedek Dilla tersayang."  jawab Jerry seenaknya, yang membuat Dilla membulatkan matanya.


" Dih siapa yang mau sama lu? pacarin aja sono kambing-kambing di bedakin" ucap Dilla sebal.


Suasana di mobil itu berubah menjadi hangat, canda tawa saling terlempar, membuat si gadis patah hati itu sedikit terhibur.


...****************...


"Sedikit saja, ya.. sedikit waktu saja kau menikmati manis rumah tanggamu hahaha"


Ucap sesorang yang menatap erat foto Maxim, sambil menengguk dikit demi sedikit gelas wine yang ada ditangannya.


Suasana ruang kamar dengan pencahayaan yang minimal, ia memutar sebuah video percintaan panas antara dia dan Max di sebuah laptop yang berada di atas meja kamarnya.


"Kau sungguh munafik sayang, apa kau lupa hanya aku yang mampu memuaskanmu, aku tidak pernah mau membagi kau dengan orang lain! aku cemburu sayangku!" ucapnya dengan senyuman menyeringai.


Ia lalu memandang foto pernikahan Maxim yang menempel di tembok kamarnya, lalu perlahan mencoret gambar wajah Mikha dengan spidol merah dan menuliskan kata "Dead !"


...***...


Malam terakhir di kampung halaman Mikha, karena esok Ryan, David dan Jerry harus kembali ke London.


Sedangkan Max, Mikha, dan kedua Sahabatnya harus ke Jakarta untuk mengemas barang-barang Mikha yang masih ada di rumah kostnya, serta Mikha ingin sekali berpamitan dengan mantan rekan kerjanya karena bagaimanapun ia sudah bekerja cukup lama di sana.


Ryan dan Maxim terlihat sedang berbincang dengan serius di teras rumah Mikha, ditemani segelas susu jahe untuk menghangatkan tubuh kala hujan deras malam itu.


"Ini aku buat pisang dan singkong goreng. Ryan, kamu belum pernah makan ini kan? silahkan cicipi deh, Jerry saja suka loh."


Ucap Mikha tersenyum dan meletakkan sepiring gorengan di meja, Ryan yang jarang berbicara hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum ramah membalas Mikha.


"Terima kasih istriku tercinta." Ucap Maxim dan tiba-tiba mencium pipi Mikha tanpa malu di hadapan Ryan.


"Apa sih, malu!" ujar Mikha berbisik, dan mencubit perut suaminya.


Maxim yang melihat pipi istrinya merona karena malu hanya terkekeh gemas, rasanya ingin sekali ia mencubit kedua pipi istrinya.


"Ya Tuhan, mengapa wanita ini begitu menggoda. Tahanlah hatiku, di istri sahabatmu." Gumam Ryan dalam hati, pria itu sungguh sudah terpikat dengan Mikha sejak pertama berjumpa dengannya.


...***...