Oh My Mister

Oh My Mister
Tamu tak diundang



Dilla terperangah melihat betapa mewah dan besarnya kediaman keluarga Larry, gadis itu tiada henti-hentinya merancau menanyakan hal-hal yang tidak penting.


"Merrie Ini rumah apa istana? bagaimana nyapu ngepelnya rumah segede gini? kalau bayar Listrik ngisi token berapa duit sebulan?" Ucap Dilla melihat sekeliling, Marrie hanya tertawa melihat tingkah sahabat kakak iparnya.


"Stttt... jangan malu-maluin, udik!" Pekik Indah menepuk keningnya Dilla.


"Mo...mom"


Tiba-tiba seorang balita kecil memanggil dan berlari-lari menghapiri Indah yang baru aja tiba di pintu rumah tersebut di temani oleh seorang pengasuhnya, anak itu tidak lain adalah Bella, putri kecil Jhon yang entah mengapa selalu memanggil Indah dengan sebutan 'Mommy' sejak mereka pertama berjumpa.


"Eh sayang kok belum Bobo, kangen Mommy ya? maaf ya Mommy baru sempat kesini." Ucap Indah menggendong anak itu dan menciumi pipinya yang tampak chubby.


"Ih Bella kok aunty gak di cium?" Ujar Marrie pura-pura merajuk, menggoda keponakannya yang nampak senang berada dalam gendongan Indah.


"No, nty au!" Pekik bocah kecil itu memalingkan wajahnya dari Marrie.


Jhon yang baru turun dari mobilnya nampak tersenyum melihat pemandangan di hadapannya.


Bella sangat terlihat senang ketika ada Indah di dekatnya, anak itu bahkan selalu menurut apapun perkataan Indah.


"Bella sayang, kok Daddy tidak di sambut? cium dulu sini!" Ujar Jhon mendekati putrinya, pria itu lalu mencium anaknya yang masih dalam gendongan Indah.


Kini mereka nampak seperti keluarga kecil yang bahagia, Marrie menyenggol lengan Dilla mengisyaratkan untuk segera meninggalkan ketiga insan itu.


Makan malam di kediaman Larry saat itu sangat ramai, karena kehadiran keluarga Mikha dan kedua sahabat Mikha.


Bella terlihat terus menempel pada Indah, bahkan makan pun ia menginginkan Indah yang menyuapinya hingga membuat sang ayah selalu mencuri-curi pandang kepada sosok wanita muda yang telah membuat nyaman Putri kesayangannya.


"Kata Dokter Mikha bisa pulang ke rumah sekitar 2 hari lagi, bagaimana kalau Indah dan Dilla tinggal disini untuk sementara waktu hingga ia bisa kembali normal." Ucap Jhon memberikan ide, yang membuat Indah tersedak karena mendengarnya.


Uhuk...uhuk...


"Iya, ini ide bagus, apalagi jadwal Max yang harus ke Paris pada akhir tahun. Kalau ada Indah dan Dilla maka ia tidak akan merasa begitu kesepian." Ujar Ny Anna membenarkan perkataan anaknya.


Dilla dan Marrie hanya bisa menahan senyum menahan tawa sementara Indah menunduk malu.


"Satu atap sama Jhon? mimpi apa gue semalam!" Pekik Indah dalam hati.


Setelah makan malam Jhon mencari keberadaan anaknya, pria itu memasuki kamar sang buah hati dan melihat Bella yang telah tertidur pulas di temani Indah yang juga tertidur di sampingnya.


Ia mulai mendekat dan mencium sang buah hati dan beralih ke sosok wanita samping Bella.


"Aku rasa kepalaku mulai bermasalah karena ucapanmu." Gumam Jhon lirih, pria itu mencoba menyentuh lembut pipi Indah.


"Emm...k-kak Jhon?" ucap Indah terkejut melihat Jhon yang kini berada dihadapannya, Jhon mengurungkan niatnya untuk menyentuh wajah Indah. Ia segera berbalik dan keluar dari kamar Bella.


"Istirahatlah, besok pagi-pagi kita harus berangkat!" Ucap Jhon berusaha menyembunyikan kegugupannya.


...****************...


Pagi hari Mikha membangunkan suaminya yang tampak tertidur pulas di kursi samping ranjangnya.


Walaupun kamar rawat Mikha berada di kelas VVIP dengan sejuta fasilitas mewah bak hotel bintang lima, namun pria itu lebih memilih tidur di kursi samping ranjang istrinya.


"Max." Ucap Mikha menyentuh lembut wajah sang suami, tampak guratan-guratan kelelahan di wajah pria tampan itu.


Max mengerjapkan matanya mencoba untuk segera bangun, ia selalu siaga berjaga-jaga jika sang istri membutuhkan bantuannya.


"Ya ada apa sayang?" Ucapnya dengan suara serak.


"Bangun sudah jam 8, katanya kamu ada pemotretan."


"Hah jam 8? maaf sayang, kamu sarapan dulu ya baru aku berangkat."


Mikha mengganggukan kepalanya, setelah menyuapi dan membersihkan tubuh istrinya, ia segera membersihkan diri dan bersiap berangkat.


"Aku titip Mikha dlu ya." Ucap Max kepada Dilla dan kedua Sahabatnya, karena hari ini ia ada pemotretan sendiri untuk sebuah produk tanpa Jerry dan Ryan.


"Aku kerja dulu ya sayang, aku janji akan Segera kembali." Max mengecup kening sang istri dan segera beranjak.


Setengah jam berlalu setelah kepergian Max, tidak ada yang aneh karena mereka semua sibuk bercengkrama dan bercanda tawa terlebih saat Dilla bergosip tentang Indah dan Jhon.


Ryan yang ikut mendengarkan pun melemparkan senyumannya walau tidak ikut menimpali perkataan Dilla.


BRAKKKK


Tiba-tiba pintu kamar rawat Mikha terbuka kencang, disana muncul lah sosok wanita cantik nan elegan yang biasa di sebut "nenek gayung."


"Hai Nyonya Maxim!" Ucap Wanita itu dengan wajah mengejek, Rika dan Dilla yang tidak mengenal Clara hanya saling pandang seolah saling melempar pertanyaan.


"Siapa?" Bisik Dilla kepada Jerry.


"Clara, yang dulu mau di jodohin Sama Max." jawab Jerry berbisik yang membuat Indah terkejut dan membulatkan matanya.


"Untuk apa kau kesini?" Tanya Mikha malas, tanpa mau melihat Clara.


"hahaha untuk menjenguk orang cacat lah! apa kau tak tau seluruh penjuru sedang membicarakan pesta pernikahan Max yang tak kunjung berlangsung."


"hmmm bagaimana kalau aku menggantikan mu untuk menjadi mempelai wanitanya? bukankah aku jauh lebih pantas di banding dirimu, lihat lah dirimu sekarang yang cacat dan menjijikkan ini, aku kasihan dengan Max karena punya istri seperti ini. Lebih baik kau sadar diri dan pergi dari kehidupan Max!"


Ucap Clara dengan mudahnya, membuat siapapun yang mendengarnya merasakan kesal kepada wanita itu.


"Kau ini gak punya atitude ya!" Pekik Dilla yang sudah tidak tahan dengan ocehan wanita itu.


Ia menarik kencang rambut panjang milik Clara hingga tercabut beberapa helai, baku hantam tidak terelakan, wanita itu meringis kesakitan dan melontarkan sumpah serapah kepada Dilla, Karena ia tidak bisa melawan tenaga Dilla yang terbilang cukup kuat sebagai seorang wanita.


Jerry, Ryan dan Rika hanya menikmati adegan smackdown di depan matanya dengan santai sambil memakan camilan dan kopi panas.


"Sini! itu mulut emang kayanya perlu di Didik!"


Dilla mengunci tubuh Clara dan menuangkan saus cabai yang terletak di atas nakas ke bibir wanita itu hingga memerah.


Kini Ryan tidak diam, ia menarik kasar Clara keluar dari ruangan itu.


"Jangan tunjukan wajahmu itu di hadapan kami, atau kau kan rasa akibatnya!"


Ucap Ryan mengintimidasi, wajah lembut dan manis pria itu berubah 180 derajat.


Sementara di kamar rawat Mikha, Dilla memeluk sahabatnya. Entah mengapa ia yang merasakan sakit hati karena ucapan Clara.


"Lah kok lu yang nangis sih? pergi kemana Dilla yang jagoan?" ujar Mikha tersenyum melihat sahabatnya yang menangis sesenggukan.


"K-kok lu malah biasa-biasa aja sih? gue kesel sama omongan itu rubah."


"hahaha udah biasa, gak usah ambil pusing. lagi pula jangan sebut dia rubah! sebut dia nenek gayung!" ujar Mikha mencoba menghibur sahabatnya.


Mikha memang sudah terbiasa dengan sikap Clara yang selalu ingin mempermalukan dirinya, namun satu perkataan wanita itu yang sedikit mengusik pikirannya. Akankah ia benar-benar menjadi cacat? jika begitu apakah Max akan tetap mencintainya? sedangkan kehidupan suaminya itu selalu di kelilingi wanita-wanita cantik yang terlihat begitu sempurna.


...****************...


...Hai teman-teman jangan lupa dukung Author dengan Like dan komentar, kasih Rate dan Vote juga ya jika berkenan😁...


...maaf part ini akohhh bikinnya gak ngefeel maklum lagi gak enak badan😭...


...jaga kesehatan juga ya buat teman-teman, selalu cuci tangan dan pakai masker saat ke luar rumah 😁...


...see you......