Oh My Mister

Oh My Mister
Retakan



Air langit mulai turun membasahi bumi, menimbulkan aroma khas tanah basah yang cukup menenagkan hati.


Sepulang dari apartemen milik Mikha, Indah memang lebih banyak berdiam. Pikirannya terlalu sibuk memikirkan suaminya yang entah dimana rimbanya, Jhon kembali tidak dapat di hubungi.


"Nak, sabar ya...Maafkan putra Mommy." Ucap Nyonya Anna tiba-tiba menghampiri Indah yang tengah termenung di balkon.


"Emm M-Mom, ia mom gak apa-apa mungkin saja Jhon lagi ada keperluan lain. Jangan bilang ke Daddy ya ada mom, aku ingin mencari tau sendiri." Indah mencoba mengulas senyum, seakan menunjukkan dirinya baik-baik saja.


Ny.Anna memeluk Indah, wanita tua itu sangat menyesalkan sikap putra sulungnya kepada istrinya. Baru kali ini ia benar-benar kecewa dengan putranya yang telah berani-beraninya berbohong entah dengan maksud apa.


"Ya sudah, kamu beristirahatlah. Hujan makin deras, Kalau kamu disini terus nanti bisa sakit."


Indah menuruti perkataan ibu mertuanya, ia kembali ke kamarnya walaupun perasaannya masih tak menentu.


Berkali-kali ia mencoba menelpon suaminya namun tetap tidak di angkat oleh Jhon, hingga tak terasa fajar telah tiba.


"Assalamualaikum Warahmatullah, Assalamualaikum Warahmatullah."


Indah mengadahkan tangan untuk berdoa, seusai mengucapkan Lafaz salam pada akhir sholat Subuh.


Air matanya jatuh kala memanjatkan doa kepada sang maha pencipta atas nasib rumah tangganya yang semakin tidak jelas.


"Ya Allah aku mohon hilangkan lah kerisauan hati ini, kuatkanlah hati hamba untuk menghadapi masalah yang sedang menimpa rumah tangga hamba yang masih seumur jagung ini. Lindungilah suami hamba di manapun ia berada, dan hamba mohon kembalikanlah sosok Jhon yang dulu, Jhon yang selalu lembut dan perhatian, Jhon yang tidak pernah berkata dusta. Bantulah hamba untuk mengungkapkan kebenaran, sesungguhnya hanya padamu lah hamba berserah dan Hanya padamulah hamba memohon pertolongan, Aminn."


Indah melipat mukena yang sehabis ia gunakan, pandangan tertuju pada sebuah foto di atas nakas dan segera memandanginya.


Sebuah foto sosok Jhon dahulu, persis seperti Jhon saat pertama kali mereka berjumpa.


"Kamu tau gak? kamu banyak berubah. Sekarang kamu terlihat jauh lebih tampan bahkan nyaris terlihat seumuran dengan Maxim. Tapi aku lebih menyukai kamu yang dulu, kamu yang gendut namun selalu perhatian dan pemalu. Jujur, aku gak mengenal dirimu yang sekarang, kamu terasa semakin jauh walau kita sudah menikah. Apakah wanita itu segitunya berpengaruh akan perubahan sikapmu? atau aku yang semakin membosankan? Aku rindu kamu Jhon, sangat merindukanmu!"


Tetesan air mata jatuh sempurna di atas foto tersebut, Indah memejamkan mata dan memeluknya erat-erat.


Cklek


Pintu kamar terbuka, Indah segera menghapus air matanya dan meletakan kembali foto tersebut pada tempatnya.


"Jhon, sudah pulang." Ucap Indah yang segera menghampiri suaminya dan mencium tangan Jhon, namun mimik wajah pria itu nampak dingin bahkan menarik tangannya begitu saja.


"Aku siapkan air mandi dulu ya." Ucap Indah yang berjalan menuju toilet.


"Tidak perlu!" Ucap Jhon datar tanpa menoleh kearah istrinya.


"Mau sarapan apa? aku buatkan ya."


"Tidak, aku makan di luar saja. Aku harus pergi lagi."


"Pergi kemana? bukankan kemarin kau bilang hari ini pulang. A-Aku pikir kau akan istirahat di rumah."


Protes Indah namun Jhon hanya menatap sinis pada istrinya.


"Bukankah kau lebih senang jika aku tidak di rumah" Ucap Jhon sinis.


"Maksudmu?"


Jhon masuk kedalam kamar mandi tanpa memperdulikan istrinya, pikirannya sangat kalut dipenuhi rasa kecewa dan cemburu yang seakan siap untuk meledak.


"Akhhhhh apa kurangku padamu, Indah! aku bahkan sudah mati-matian merubah penampilanku demi memantaskan diri denganmu!" pekiknya di tengah-tengah guyuran shower.


......................


Flasback ON


Hari itu, pagi-pagi sekali Jhon berangkat menuju pembangunan taman hiburan Happy Land.


Tidak ada kebohongan yang ia katakan pada istrinya, hingga tiba-tiba mobil yang ia kendarai berhenti mendadak setelah menabrak seseorang.


"Ada apa?" tanya Jhon pada supirnya, pria itu mengalihkan pandangannya sejenak dari laptop yang berada di pangkuannya.


"Se-sepertinya saya menabrak seseorang, Tuan." Ucap supir itu gugup.


Tanpa berpikir Jhon keluar turun dari dalam mobilnya diikuti oleh sang supir, ia melihat seorang wanita dengan kondisi tengkurap tepat di depan mobilnya. Perlahan ia membalikkan tubuh wanita itu dsn seketika membuat matanya terbelalak.


"Rhine!!!"


Jhon memutuskan membawa Rhine yang tidak sadarkan diri menuju rumah sakit terdekat, tak lupa ia menghubungi Marrie untuk menggantikannya mengurus proyek raman hiburan tersebut.


Berjam-jam berlalu, akhirnya Rhine sadarkan diri. Wanita itu tersenyum melihat Jhon yang berada disampingnya.


"Ce-cello, A-Aku dimana dan kenapa ada kamu?" Ucap Rhine yang nampak memegangi kepalanya.


Jhon nampak menghembuskan nafasnya kasar, hingga ia menceritakan semua kronologi menurut garis pandangnya.


Berjam-jam berlalu, haripun semakin menggelap. Jhon memutuskan untuk berpamitan dan kembali ke rumahnya, bagaimanapun ada ia harus kembali agar tidak terjadi kesalahpahaman antara ia dan istrinya. Terlebih Indah selalu mencoba menelpon melalui panggilan video membuatnya mati kutu dan terpaksa mengabaikan istrinya.


"Kan ada perawat, maaf Rhine aku tidak bisa!"


"A-Aku mohon! sekai ini saja."


pip...pip...


Suara ponsel Jhon berbunyi, ia segera membuka sebuah pesan singkat yang berisikan beberapa foto Indah bersama Tuan Wang.


Jhon tampak mengepalkan tangannya erat, hingga tanpa sadar dengan Rhine yang tampak menyinggungkan senyuman seringainya


"Baiklah aku akan menemanimu!"


Flasback Off


......................


"Honey, kamu mau kemana lagi! Honey!" Pekik Indah saat mendapati sang suami berjalan keluar dengan kaos hitam dan celana jeans-nya .


Seakan tidak memperdulikan ucapan istrinya, pria itu terus melangkah keluar dan pergi menggunakan mobilnya.


"Mana kunci mobil itu, cepat!" ucap Indah pada seorang supir keluarga Larry. Langkah kakinya segera menuju sebuah mobil Ferrari berwarna merah.


Indah mencoba membututi Jhon diam-diam, hingga ia melihat mobil yang dikendarai sang suami masuk kesebuah komplek rumah sakit.


Jhon memasuki sebuah ruangan VVIP di rumah sakit tersebut, dengan membawakan sebuah parsel buah yang ia beli saat di perjalanan.


Indah mencoba mengintip dari celah pintu yang tidak ditutup rapat, betapa perih hatinya melihat Jhon menyuapi Rhine dengan senyuman yang saling terlempar antar keduanya.


"Makasih ya sudah menemaniku semalaman." Ucap Rhine menggenggam tangan Jhon.


BRAK!!!


"J-jhon!!! ja-jadi kau telah membohongiku"


Kedua netra pria berkulit putih itu membulat sempurna melihat kehadiran istrinya secara tiba-tiba, tanpa berpikir panjang ia menarik lengan istrinya tanpa perasaan.


"Heh...gak sia-sia aku lecet-lecet seperti ini pfttt...Jesson kali ini kau menyelesaikan pekerjaan mu dengan baik! hahahaha" gumam Rhine dalam hati, wanita menarik senyuman yang nyaris tak terlihat.


Sedangkan Jhon terus menarik tangan istrinya hingga ke sebuah taman di area rumah sakit, Indah tampak meringis kesakitan akibat tarikan dari tangan suaminya dan juga luka pasca operasinya yang belum mengering.


"Le-Lepas Jhon sa-sakit, Lepas!" Pekik Indah mencoba memberontak.


Jhon melepaskan tangan istrinya, pria itu menatap tajam wajah istrinya, wajahnya begitu merah padam sepertinya amarah sudah menguasai hati pria itu.


"Apa maksudmu mengikutiku?" Gertak Jhon, yang berhasil melukai hati wanita dihadapannya.


"Aku hanya ingin tau kemana kau pergi, Jhon! kau sudah membohongiku, kenapa Jhon? Kenapa?" Pekik Indah pada suaminya, kedua matanya terasa memanas hingga tak terasa cairan bening keluar dari kedua matanya.


"Diam! apa hak mu marah padaku!"



"Aku istrimu!"


"Istri? katamu kau istriku? heh istri macam apa yang pergi dan berpelukan dengan pria lain?"cebik Jhon menatap sinis istrinya.


"Maksudmu apa?"


Jhon mengeluarkan ponsel miliknya dan menunjukkan foto-foto Indah bersama Tuan Wang yang berada di sebuah pusat perbelanjaan.


"Lihat! lihat ini baik-baik, apa pantas wanita yang ada di dalam foto ini menyebutkan dirinya dengan gelar seorang istri? kurang apa aku padamu?"


"Jhon kamu salah paham, kenyataannya gak seperti itu!"


"Cukup Indah, lebih baik kita renungkan kelanjutan hubungan ini! bahkan sekarang aku ragu, apakah janin yang kemarin kau kandung itu anakku atau jangan-jangan anak dari pria itu?"


Sakit hati, entahlah apakah kalimat tersebut sesuai dengan keadaan hati Indah. Yang ia tahu hatinya bagai tertusuk ribuan pisau tak kasat mata setelah mendengar kalimat yang terlontar dari mulut suaminya. Jhon meninggalkannya begitu saja, meninggalkan dirinya yang mematung merasakan gemuruh badai yang berkecamuk di batinnya.


Indah duduk tersungkur seakan dirinya tak lagi bertenaga. lidahnya begitu Kelu untuk berucap, hanya air mata yang menggambarkan perasaan saat itu.


"Serendah itu kah aku di matamu?" Ucap Indah di sela-sela isakan tangisnya, ia tak peduli berapa banyak orang yang menatap aneh padanya.


Seorang wanita yang duduk di rerumputan dan menangis tersedu-sedu di tengah sebuah taman di komplek rumah sakit.


Hingga suara ponsel miliknya berbunyi, menandakan sebuah pesan singkat yang berhasil membuat beban masalahnya bertambah.


"M-mamih dan papih a-ada di London?"


......................