
"Dokter, Tolong!" pekik Max dengan suara yang menggelegar.
Beberapa orang perawat segera menghampiri dengan membawa brankar.
Max segera meletakkan istri di atas brankar dan mengikuti hingga ke dalam ruang tindakan.
"Aduhhh sakit," rintih Mikha yang terus menggeliat, merasakan tidak nyaman pada perut dan pinggulnya.
Nampak Max yang terus setia mendampingi istrinya dan menggenggam tangan Mikha dengan erat.
"Sudah pembukaan, siapkan inkubator!" tutur dokter yang menangani Mikha. Max yang mendengar nampak membulatkan matanya. "Dok, tapi kehamilan istri saya baru 7 bulan?" tanyanya dengan guratan kekhawatiran yang jelas terbaca.
Dokter tersebut mengulas senyum kepada Max, "Jangan khawatir, Tuan," tuturnya lembut lalu kini beralih pada Mikha yang sudah semakin merintih kesakitan.
"S-sakit!" pekiknya kembali dengan napas tersengal-sengal, "Sayang, yang kuat ya. Aku di sini," ucapnya mengecup kening istrinya. Sejenak pikirannya melayang, membayangkan dulu sang istri harus berjuang seorang diri untuk melahirkan anak kembarnya. Kini, ia ingin memperbaiki hal tersebut. Ia akan mendampingi istrinya dan merawatnya pasca bersalin.
"Sudah pembukaan sempurna, Nyonya. Tarik napas lalu mengejan," titah Dokter tersebut memberikan arahan.
Mikha mengikuti, dengan rasa sakit yang semakin kuat, "Emphhhhh... ." Mikha mengejan seraya menarik kerah baju suaminya dengan kencang.
"Ayo, lagi!" titah dokter itu kembali.
Mikha trus mengejan, meringis dan berteriak bahkan ia menarik kerah baju suaminya hingga kancing-kancingnya terlepas dan berjatuhan ke lantai.
"Sayang sabar sayang," ucap Max lembut dan mengusap kepala istrinya.
PLAK
"Emmmmh be-ri-sik, sakit emphhhhh,"
Max mengusap wajahnya yang terkena pukulan sang istri, namun ia mencoba tetap sabar karena ia tahu Mikha tengah berjuang dengan rasa sakit yang tidak bisa tergambarkan.
"Ayo Nyonya, bayinya sudah mau terlihat," seru dokter wanita itu, yang terus menerus menuntun Mikha untuk mengejan.
"A-ku gak ku... Emphhhhh."
Lagi-lagi Max jadi sasaran empuk sang istri, Mikha mengigit tangan suaminya dengan kencang.
Pria blonde itu hanya meringis, mengatupkan bibirnya agar tidak berteriak.
"Sus, ambilkan gunting. Kita harus melakukan episiotomi karena posisi bayinya sungsang," tutur dokter tersebut.
*pembedahan di area otot antara **** * dan *nus agar memudahkan jalan lahir.
Mata Max nampak mengikuti arah gerak suster dan dokter tersebut, hingga ia melihat gerak dokter wanita itu saat menggunting alat vital milik istrinya.
BRAK!!!
"Sust, tolong! Suami pasien pingsan!"
......................
"Istriku!" pekiknya dan langsung bangkit.
Ia melihat sang istri tengah bersenda gurau di atas ranjang dengan para sahabatnya. Nampaknya Dilla dan Mikha berada di satu ruang rawat yang sama.
"Owhhh lihat siapa yang sudah sadar dan bisa berjalan," goda Jerry pada Max.
Max nampak mengernyitkan keningnya karena otaknya masih loading dan butuh pemanasan, untuk mencerna kalimat yang terlontar dari para sahabatnya.
"Sayang, kamu gak mau azanin anak kamu?" ucap Mikha yang berhasil memecah lamunan tak berujung Max.
Max segera berjalan menuju istrinya dan mengecup kepala Mikha.
"Terima kasih sayang, apa masih ada yang sakit?" tanyanya dengan lembut, Mikha hanya tersenyum menanggapi sang suami.
"Tidak, aku baik-baik saja. Aku juga sangat senang karena kelahiran anak ke 3 kita bisa membuatmu berjalan kembali," tutur Mikha yang kini berhasil menyadarkan Max kalau ia mampu berjalan seperti sediakala.
"Lemot kan, baru nyadar dia hahahaha," ledek Jerry yang tiada habis-habisnya menertawakan Maxim. Sementara Maxim hanya terkekeh dan menggaruk-garuk kepalanya.
"Yuk azanin anak kita, ajarin gue yak!" bisik Jerry yang tengah merangkul Max. "Jer, gue juga belom lancar azan," tutur Max kembali dengan suara kencang.
Plak
"Kebangetan!" omel Mikha yang baru saja memukul tangan suaminya.
Max lagi-lagi menyengir bodoh dan mengusap tangannya yang terasa panas,"Pedes yank!" keluhnya.
"Lagian bertahun-tahun kemana aja? Ngebucin aja sih!" sahut Mikha sewot, ia benar-benar kesar dengan suaminya. "Hehehehe kan aku bucinin kamu," Max terkekeh dan mecubit pipi istrinya.
"Sana lihat video azan, cepat azanin anak kamu! Atau aku laporin ke bapak!" ancam Mikha yang berhasil menggertak Maxim.
Setelah beberapa menit, kedua pria blonde itu menuju kamar bayi untuk mengazankan anak-anak mereka.
Seusai meng-azankan, Max menatap bayi mungil yang telah di letakan kembali di dalam inkubator, begitu pula Jerry yang mencolek-colek pipi bayinya yang tengah tertidur.
"Max, bagaimana kalau kita jodohkan mereka berdua," bisik Jerry bercanda.
"Hih enak aja, anak kau pasti jadi biawak jantan kaya daddy-nya," ejek Max yang membuat Jerry mengulum bibir guna menahan tawanya.
Mereka tiada henti-hentinya menatap malaikat kecil yang tengah tertidur, Max benar-benar bahagia karena kali ini bisa mendampingi sang istri walau ia harus babak belur dan pingsan.
"Selamat datang putri kecilku, Amoura liliant Larry,"
Amoura liliant Larry
Kenneth Fawke