Oh My Mister

Oh My Mister
Berakhir



Indah tercengang dengan ucapan yang terlontar dari bibir Jhon, hatinya begitu sakit dan sesak kala Jhon lagi-lagi bertindak gegabah tanpa mau mendengarkan penjelasannya.


Jhon melangkahkan kakinya dengan cepat untuk kembali ke kediaman Larry, sesampainya disana pria itu mengambil sebuah koper besar dan memasukan baju-baju dan barang-barang milik Indah.


"Ka ada apa?" tanya Max yang melihat gelagat aneh kakaknya, Mikha yang tampak khawatir hanya melihat di balik pintu.


Tanpa menjawab pria itu membawa koper itu keluar hingga bertemu Indah yang kini telah berada di depan pintu utama.


"Sayang sumpah, aku gak tau apa-apa! aku mohon percaya padaku!" Ucap Indah dengan wajah yang begitu sembab, ia mencoba memeluk Jhon namun pria itu mendorongnya hingga jatuh terjungkal.


"Singkirkan tubuh menjijikanmu dariku, Keluar! Pergi!" Ucap Jhon gusar dengan melemparkan Koper yang berisi barang-barang milik Indah.


Sementara Mikha yang melihat sahabatnya di perlakukan seperti itu, segera menghampiri Indah dan memeluknya.


"Ka Jhon kau keterlaluan!" Teriak Mikha pada kakak iparnya, sedangkan Bella terdengar suara tangis Bella yang begitu nyaring dan terus menyebut kata "Mom".


"Lebih baik kau ajarkan kesetiaan pada temanmu itu!" jawab Jhon pada Mikha.


"Kak kau ini kenapa? Tak pantas kau memperlakukannya seperti itu!" Pekik Max, namun Jhon hanya acuh dan tidak peduli walapun hati kecilnya tidak tega melihat Indah yang begitu memprihatinkan, namun ego dan amarah lagi-lagi terlalu mendominasi akal pikirannya.


"Wanita itu bukan istriku lagi!"ucapnya dingin, lalu masuk kedalam rumahnya.


Indah masih meraung-raung memanggil nama Jhon, hatinya begitu hancur dan sakit di perlakukan layaknya sampah oleh pria yang paling ia cintai.


"Sudah, yuk ikut gue." Ucap Mikha mencoba membantu sahabatnya untuk berdiri.


Max segera menyalakan mobilnya, di susul oleh Mikha dengan Indah yang kini terlihat shock.


Wanita itu hanya terdiam dengan air mata yang masih mengalir di pelupuk matanya.


"Kha, gue sudah menjadi janda bahkan di kala orang tua gue masih menganggap gue seorang gadis. Sungguh konyol!" Ucap Indah lirih dengan pandangan kosongnya.


Mikha hanya bisa memeluk sahabatnya, karena bukan waktu yang tepat menanyakan duduk perkara yang terjadi antara Indah dan Jhon.


......................


Sementara itu, Tuan Wang terlihat merenung di Apartemen miliknya. Pria itu masih mencerna baik-baik apa yang terjadi padanya.


Ingatannya berakhir saat ia meminum secangkir kopi dalam sebuah Coffee shop, setelah itu sepertinya ia kehilangan kesadaran.


Pria itu segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Hallo Ray, tolong periksa seluruh cctv di Mr.Coffee mulai dari saat saya datang ke sana pukul 3 sore!"


Ucapnya lalu mengakhiri panggilan teleponnya.


.....................


Malam semakin larut, Indah nampak mengurung diri di salah satu kamar di unit apartemen milik Mikha.


Kini Dilla yang di beri kabar pun sudah tiba dan memutuskan untuk menginap di sana.


Indah menatap nanar ke arah jendela yang berada di kamar tersebut, pikirannya melayang kemana-mana.


Ia begitu terpukul dengan kejadian hari itu, baru saja pagi hari ia merasakan kebahagiaan namun dalam sekejap semuanya hilang tanpa tersisa.


Semua terjadi karena seseorang yang tiba-tiba membekapnya saat ia berada di area parkir supermarket dan membuatnya tak sadarkan diri.


"Arghhh!!!" Pekik Indah di sela-sela tangisannya yang begitu memilukan.



"Untuk apa aku disini? tapi apa aku harus pulang? aku malu!!! huhuhu"


Wanita itu terus menangisi nasib rumah tangganya yang bahkan belum genap 2 bulan, Hingga pandangan beralih pada sebuah pisau buah yang terletak di sela-sela tumpukan buah di atas piring.


Perlahan ia menggenggam benda tersebut dan menatapnya dengan tatapan putus asa.


"Mih, Pih maafin Indah."


......................


Tok... Tok...


"Indah, buka Ndah. Makan dulu yuk!" Ucap Mikha lembut, namun tidak ada jawaban dari si penghuni kamar.


"Indah, Ndah jangan bikin gue khawatir dong!"


"Arghhhh...."


Pekikan terdengar samar dari dalam kamar hingga membuat Mikha panik, dan berlari menghampiri Dilla dan Jerry.


"Jer, tolong dobrak pintu kamar Indah! sekarang, Jer!"


Pekik Mikha dengan wajahnya yang nampak panik, hingga membuat Jerry dan Dilla ikut panik di buatnya.


Tanpa aba-aba, pria blonde bertubuh tegap itu segera mendobrak pintu kamar yang di tempati Indah, hingga membuat Mikha dan Dilla berteriak histeris melihat keadaan Indah.


"Astagfirullah, Indah!"


Jerry segera berlari dan merebut paksa benda tajam yang sudah sedikit melukai pergelangan tangan Indah.


Sementara Mikha langsung memeluk Indah yang masih tampak menangis meraung-raung.


"Obatin dulu Kha!" Ucap Dilla dengan membawa sebuah kotak p3k, Dilla itu pun langsung mengobati luka sayatan pada lengan Indah.


"Demi Tuhan, aku benci dia!!! huhuhu sakit!!!" Ucap Indah di sela-sela tangisannya.


Setelah di rasa cukup tenang, akhirnya Indah sendiri yang membuka mulutnya tentang permasalahannya dengan Jhon. Mikha tampak kecewa dengan sikap Kakak iparnya, karena pria itu selalu ceroboh jika menyangkut masalah rumah tangganya.


"Ndah, gue tau lu sedih tapi tolong jangan bertindak hal bodoh lagi, dosa! Lu gak kasian sama mami lu, beliau pasti sangat terpukul jika lu kenapa-kenapa." Ucap Mikha membelai lembut rambut sahabatnya.


"Gu-Gue malu Kha, terlebih status gue yang sekarang menjadi janda saat orang tua gue bahkan belum mengetahui pernikahan gue! gue udah kaya sampah, harga diri gue benar-benar di injak-injak. Kenapa dia gak mau mendengarkan penjelasannya gue dulu!" Ucap Indah lirih.


"Maaf, seandainya gue gak ngenalin lu sama Jhon" Ucap Mikha menundukkan pandangannya.


"Enggak! ini bukan salah lu Kha, ini mungkin emang udah takdir gue. Gue mau pulang Kha!"


"Pulang? Ndah, jangan mengambil keputusan saat Lo emosi." Ucap Dilla yang mulai membuka suaranya.


"Maaf, tapi keputusan gue udah bulat. Gue mau kembali ke orang tua gue, gue mau memulai hidup yang baru. Dan gue mohon sama kalian, bila suatu saat Jhon sadar, tolong jangan katakan padanya keberadaan gue sekalipun pria itu bersimpuh dan menangis darah."


......................


Max melangkahkan kakinya menghampiri Jhon yang tengah termenung di balkon rumah, sesekali pria itu terlihat ia memijat keningnya.


"Ka, kau ini apa-apaan sih! Pernikahan bukanlah mainan, dan semudah itu kau mengucapkan kata cerai untuk Indah! apa kau tak sadar, ia begitu tulus mencintai kamu!" Pekik Max kala melihat keberadaan kakaknya.


Namun Jhon nampak bergeming, ia hanya menjawab perkataan Maxim tanpa menatap wajah sang adik.


Jhon, menceritakan semua kejadian mulai dari pesan singkat hingga ia mendapati istrinya sedang tidur bersama pria lain.


"Kak" Ucap Max menepuk pundak Jhon


"Kenapa kau bisa menjadi bodoh? kemana perginya seorang Jhon yang cerdik, apa kau tidak merasa ada yang janggal dari semua kejadian ini? permainan mereka terlalu klise dan kotor!" cebik Maxim pada Jhon dengan tatapan sinis


"Maksudmu?"


"Kau pikir saja, buat apa ada nomer tak di kenal mengirim kau alamat hotel itu? dan juga jika Indah ingin selingkuh dengan pria itu, kenapa gak dari dulu? saat kalian belum menikah! Tolong jangan naif, apa kau tidak sadar, kau telah menyakiti bahkan menjatuhkan harga dirinya di depan kami, bahkan di depan para pelayan! Jangan sampai kau menyesal!"


Max pergi meninggalkan kakaknya yang mematung.


Sementara Jhon yang baru tersadar dari emosinya, segera menghubungi David untuk menyelidiki masalah yang menimpanya.


"Max, di mana Indah?" Tanya Jhon, yang tampak mengejar adiknya.


......................