Oh My Mister

Oh My Mister
Puber ke dua?



...Hai teman-teman jangan lupa Like, komen dan Rate ⭐⭐⭐⭐⭐...


...klo ada rezeki boleh dong berbagi vote sama Author yang miss queen ini hehehe...


Maaf ya buat yang promo kali Author balesnya lama, maklum Author Kentang ini lagi sok sibuk hehehe, tapi aku pasti mampir kok...


Tenang aja ya, ingat Promo boleh spam jangan😉


...Terima kasih...


...🌸🌸🌸...


Entah mengapa semenjak kejadian siang itu Jhon bertingkah aneh, pria itu selalu bercermin sepanjang waktu.


"Kak, kau mau kemana?" Tanya Marrie yang tiba-tiba masuk ke ruangan John.


"Ada urusan sebentar, aku harus pulang duluan!" Jawab Jhon merapihkan tas kerjanya.


"Apa nanti kau mau menjenguk kak Mikha? aku dapat kabar kak Mikha mengidap Ataksia."


"iya nanti malam aku kesana, ya sudah aku duluan ya! nanti kamu temani Maxim dulu ya sebelum aku datang." Ucap Jhon mengacak-acak rambut adiknya, lalu meninggalkan Marrie di ruang kerjanya.


Jhon melangkahkan kakinya cepat menuju mobil miliknya yang sudah tersedia bersama sang supir.


Ia menuju sebuah tepat yang cukup mewah, sebuah salon milik seorang hairstylist terkenal yang terletak di pusat kota.


Jhon melangkahkan kakinya dan di sambut hangat oleh semua karyawan yang berada di sana.


"Hei, kemana saja kau?" Ucap seseorang yang adalah pemilik tempat tersebut yang memang sudah akrab dengan Jhon.


Dahulu Jhon memang selalu rutin mengunjungi tempat itu bersama mendiang istrinya, sekedar untuk merapikan rambut atau menemani sang istri melakukan perawatan. Namun semenjak istrinya tiada, Jhon tidak pernah memperhatikan penampilannya sedikitpun.


"Biasa terlalu sibuk." jawab Jhon.


"Kau mau ubah gaya rambut atau apa?"


"Tolong buat aku agar terlihat menjadi 10 tahun lebih muda!"



...****************...


Kini Dilla, Indah dan Marrie sudah berada di rumah sakit tempat Mikha di rawat.


Sebelum mereka masuk ke ruang rawat Mikha, Max sudah menghadang ketiga gadis itu terlebih dahulu.


"Ada apa ka?" Tanya Marrie bingung dengan tingkah Maxim.


"Tolong jangan tunjukan kesedihan kalian di hadapan Mikha, hibur dan beri dia semangat ya" Titah Max kepada ketiga wanita itu.


Mereka pun mengerti dan melanjutkan masuk menuju kamar Mikha di rawat, di sana terlihat Mikha yang sedang menonton televisi, wajahnya terlihat lebih segar di banding hari-hari sebelumnya mungkin semua ini karena dukungan positif dari suami dan keluarganya.


"Mikhaaa, miss you beb!" Pekik Dilla berhambur memeluk sahabatnya.


Mikha terlihat senang melihat adik ipar dan sahabatnya datang, begitu pula Max.


Pria itu senang melihat sang istri lupa akan kesedihan karena kondisi fisiknya.


"Kak aku punya gosip dong!" Ujar Marrie memecah suasana.


"Apa Mar?"


"Tadi di kantor, si Indah emmm...emmm..." Ucap Dilla yang tiba-tiba mulutnya di bekap erat oleh Indah.


"Berisik!!!" Pekik Indah dengan pipi memerah, membuat Mikha dan Max memicingkan matanya penuh pertanyaan pada gadis itu.


"Itu Loh tadi di ruang kerjanya aku mergokin kak Indah sama kak Jhon mau muach...muach...aduh!"


Ujar Marrie sambil memaju-majukan bibirnya, hingga akhirnya Indah menyentil kening gadis cantik itu.


"Loh aku gak nyangka Ndah, kamu begitu agresif!" Goda Max yang membuat pipi gadis itu semakin merah bagai tomat.


Suasana di ruangan itu begitu hangat karena kehadiran ketiga wanita itu, Mikha pun kembali mengembangkan senyum lebarnya melihat tingkah adik dan sahabatnya.


Tak lama terdengar suara Jhon di luar ruangan yang sepertinya sedang berbicara dengan Tuan Andrew.


Secepat kilat Marrie mengintip lewat jendela di ruang kamar rawat itu.


"Kak pangeran mu datang! lihat kayanya kok ada yang beda ya...hmmm tapi apa ya?" , Celoteh Marrie yang membuat Dilla dan Maxim penasaran di buatnya. Sedangkan Indah hanya duduk di samping Mikha, pura-pura tidak mendengar ocehan orang-orang yang menggodanya.


Mikha yang mendengar hanya menjawab sambil terkekeh, "Bukannya kalau gue sehat, malah gue ikutan mereka ya? btw gimana rasanya di cium om-om?"


Indah yang merasa tersudut hanya mengerucutkan bibirnya, namun di balik semua itu ia senang melihat Mikha bisa tertawa.


"Mikha, lu jangan sampai salah ngenalin antara suami dan kakak ipar lu, yah! eh...eh... orangnya datang!"Ujar Dilla yang langsung kembali ke posisinya semula.


Mereka bertiga kini terlihat seperti seorang siswa yang rusuh dan tiba-tiba kedatangan guru di kelasnya.


Cklek


Pintu ruang rawat Mikha terbuka, muncul lah sosok yang sedari tadi jadi bahan omongan Dilla, Marrie dan Maxim.


"Mikha, bagaimana kondisimu?" Tanya Jhon tersenyum.


"Sudah lebih baik ka, cuma masih sulit bergerak aja."


"Syukurlah, semoga lukanya lekas pulih agar segera bisa melakukan terapi, jangan menyerah ya! kasihan Maxim", Ujar Jhon menepuk lembut bahu Mikha seolah menyalurkan semangat hidup kepada adik iparnya, Mikha hanya mengangguk dan tersenyum menjawab perkataan kakak iparnya.


Pria itu kini tepat berdiri disamping adik laki-lakinya, seolah ingin memberi kesan bahwa penampilannya tak jauh berbeda dari pria muda tersebut.



Hidung mancung Marrie terlihat kembang kempis menahan tawa, begitu juga dengan Dilla.


"Fix! Ini Jhon lagi caper sama Indah! puber kedua kayanya hahaha." Ucap Dilla dalam hati.


Sedangkan Indah menunduk malu tak berani menatap Jhon yang kini ada di hadapannya, gadis itu masih mengingat betul kejadian siang hari bersama Jhon.


"Mengapa ia tak menatapku, apa aku kurang tampan di banding si Wang? bahkan rasanya aku dan Maxim saja sudah seperti kembaran!" Gerutu Jhon dalam hati.


Entah kemana harga diri Jhon yang begitu tinggi dan kesetiaan yang begitu di agung-agungkan, Rasanya hari itu ia melupakan semuanya.


Dan semua berawal karena ia merasa tak nyaman dengan kehadiran pria muda asal China yang nampak dekat dengan sekretarisnya.


...****************...


Waktu terasa begitu cepat, akhirnya sahabat Mikha dan keluarga Maxim berpamitan untuk pulang.


"Kak Indah dan Dilla menginap aja ya di rumah kami." Ujar Marrie.


"Hah apa?" Ucap Indah terkejut.


"Kan besok pagi-pagi kak Indah harus sudah berangkat dengan kak John, lebih baik menginap untuk menghemat waktu, bukankah begitu kak John?" Ucap Marrie sambil menyenggol lengan Jhon.


"Tapi bajuku?"


"Gak usah di pikiran, bukankah begitu kakak ku yang tampan!" Lagi-lagi Marrie berkata seenaknya sambil menatap tajam Jhon


"Tapi kan di rumah kamu sudah ada keluarga Mikha, memangnya masih bisa menpung kami?" Tanya Dilla .


"Mau 50 orang yang menginap pun masih cukup ka."


"Eh buset, itu rumah apa kostan eh...salah! lbh cocok asrama!" Jawab Dilla dengan polosnya, yang membuat Indah geleng-geleng kepala dengan ucapan sahabatnya.


Akhirnya mereka kembali ke kediaman Larry, meninggalkan Maxim dan Mikha.


Semenjak istrinya masuk rumah sakit, tempat itu kini menjadi rumah bagi Maxim.


Sepulang ia pemotretan ataupun konser, pria itu selalu kembali ke rumah sakit untuk menjaga istrinya.


"Sayang istirahatlah." Ucap Max membaringkan perlahan tubuh istrinya.


"Max, Jika aku menjadi cacat seumur hidup bagaimana?" Ucap Mikha lirih.


"Huss... jangan bicara seperti itu! bagaimanapun keadaanmu, aku akan selamanya mencintaimu tapi kamu jangan patah semangat! kamu pasti sembuh sayang." Jawab Max dengan sangat lembut, pria itu membelai lembut wajah sendu istrinya.


"T-tapi Max"


"Stttt... jangan berpikir macam-macam, ya sudah kamu istirahat biar lekas pulih dan kita bisa kembali ke rumah."


Max mengecup kening istrinya, memberikan rasa nyaman dan percaya diri untuk istrinya.


"Kita sama-sama berjuang untuk pulih ya sayang."


Gumam Max jauh di lubuk hatinya.


...****************...