
Rika yang sengaja tidak ikut serta hadir ke persidangan itu, di tugaskan oleh Maxim untuk mengatur tempat pernikahan bersama Marrie.
Waktu yang begitu mendadak dan mendesak serta urusan persidangan yang panjang, terpaksa membuat pasangan calon pengantin itu menyerahkan urusan keperluan pernikahannya kepada WO dan adik-adik mereka.
"Rika, untuk pesta bagusnya dimana ya?" Tanya Marrie.
"Hmm...kakakku tidak menginginkan pesta besar saat ini, mungkin kita bisa menyewa sebuah Vlilla untuk akad nikahnya dan malamnya kita bisa merayakannya kecil-kecilan saja antar keluarga dan kerabat dekat."
"Baiklah kalau begitu, keluarga kami punya 2 buah resort disini , menurutmu mana yang kakak ipar suka? atau kita menyewa tempat lain juga tak apa-apa."
Ucap Marrie seraya menunjukan Resort-resort kepemilikan keluarga Larry yang berada di Yogyakarta.
Rika terkejut dengan pertanyaan Marrie, ia baru menyadari betapa kaya rayanya keluarga calon kakak iparnya itu, pantas saja Maxim membeli sebuah mobil mewah hanya seperti membeli sebungkus kacang goreng.
"Emmm ...yang di daerah Kaliurang saja, kebetulan kakakku suka daerah yang asri seperti disana." Ucap Rika, mencoba untuk fokus kembali.
...****************...
3 orang saksi palsu yang di utus oleh Keluarga Wijaya baru saja menyatakan kesaksiannya.
Sang wanita angkuh itu begitu senang dan percaya diri akan memenangkan perkara itu, senyuman menyungging di sudut bibirnya dan begitu pula dengan sang anak.
"Hmmm sudah cukup kau tertawa dasar wanita ular, aku akan membuktikan perkataanmu sendiri yang mengatakan, uang dapat membeli segalanya." Gumam Max menyeringai.
"Interupsi! mohon maaf, pernyataan saksi ini sangat tidak masuk akan dan di buat-buat." Ucap Pengacara yang berada di pihak Mikha.
Sang pengacara kondang itu langsung memutar sebuah rekaman video yang memperlihatkan saat ketiga saksi palsu itu di bayar oleh nyonya Wijaya dan sebuah video cctv dari sebuah minimarket yang memperlihatkan kesengajaan Ari Wijaya mencelakakan Pak Ali.
"Da...dari mana mereka punya bukti ini! siapa sebenarnya yang di balik gadis miskin itu? Sampai dapat menyewa pengacara terkenal ini? kenapa aku baru sadar!" Gumam Nyonya Wijaya yang baru menyadari betapa berbahaya dan kuatnya orang yang berada di belakang Mikha.
"Dengan semua bukti yang valid ini, maka Pertama Kami menuntut Saudara Ari Wijaya dengan pasal percobaan pembunuhan kepada Saudara Ali, Kedua kami menuntut Saudara Ari Wijaya atas tindak pelecehan dan kekerasan serta pencemaran nama baik."
Tok...Tok...Tok...
Setelah beberapa saat, Sang Hakim akhirnya mengetuk palunya 3 kali serta membacakan keputusannya.
"Dengan ini saya putuskan, Saudara Ari Wijaya di nyatakan bersalah dan mendapat hukuman kurungan 15 tahun penjara atau denda sekurang-kurangnya 700 Juta Rupiah!"
Tubuh seluruh keluarga Wijaya mematung bak tersambar petir.
Nyonya besar itu seakan tak percaya bahwa tindakan curangnya akan mudah terbongkar begitu saja dan anak kesayangan akan mendapat hukuman yang begitu berat.
Tak sampai disitu saja, tiba-tiba seorang pria berbadan besar terburu-buru menghampiri Nyonya Wijaya dengan Raut wajah yang panik.
"A...Apa! Rumahku terbakar! uangkuuuuu!Hartakuuuu!!!"
Jerit wanita angkuh itu meraung-raung, lalu seketika jatuh tak sadarkan diri.
"Hahaha ini belum semuanya, Nyonya besar! lihatlah betapa menggelikannya dirimu! bahkan kau terlihat lebih terpuruk saat kau tau hartamu ludes terbakar daripada mendengarkan anak semata wayangmu di vonis penjara yang begitu lama." Gumam Max dalam hati melihat drama yang terjadi di depan matanya.
...****************...
Keluarga Mikha dan kerabat kembali ke kediamannya dengan suka cita, berkali-kali gadis itu berterima kasih kepada Jhon dan Max atas bantuan yang ia terima.
"Max, tolong maafkan aku, kalau aku tidak bisa jadi istri yang sempurna untukmu. Aku tak mampu memberikan hal yang paling berharga pada diriku untukmu, namun aku akan berusaha keras untuk menjadi istri yang baik." Ucap Mikha dalam hati, Gadis itu memandangi intens sang calon suaminya yang sedang fokus menyetir.
Waktu makan siang tiba, Mikha dan kedua Sahabatnya sibuk memasak hidangan di dapur.
sedangkan kedua orang tuanya asik bercengkrama dengan Max dan Jhon, untuk Rika? Gadis itu sepertinya masih di perjalanan pulang dengan Marrie setelah usah mengurus tempat pernikahan dan gaun pengantin untuk kakaknya.
"Yah Dil, ketumbarnya habis lagi! gw beli dulu ya!" Ucap Mikha sehabis memotong-motong tempe.
"Alah ribet amat, kelamaan! Nih tinggal di marinasi pake micin rasa ayam aja!"
Ucap Indah yang langsung menuangkan 2 sachet penyedap rasa ayam pada semangkuk air dan mencelupkan tempe-tempe yang telah di potong oleh Mikha.
"Indah banyak amat! anak orang lu racunin micin segitu banyaknya!" Pekik Mikha.
"Ishhh... berisik! lagian lu pada idup udah 20 tahun lebih dan selama itu juga di kasih asupan micin buktinya sehat-sehat aja! dan si Rika adik lu, buktinya pinter-pinter aja padahal tukang cemilin mi instan kering yang di remuk-remukin, jadi gak usah lebay deh." Ucap Indah seenaknya, membuat Mikha dan Dilla menghela nafas melihat kelakuan sahabatnya yang aneh bin ajaib itu.
...****************...
Tiba saat makan siang, semua sudah berkumpul di ruang keluarga beralaskan permadani, Maklum kebiasaan di desa saat ada jamuan keluarga besar seperti itu pasti memilih makan bersama di atas karpet dari pada di meja makan.
"Oh iya hampir lupa, karena tadi pagi terlalu sibuk, aku belum kenalin kalian ya!" Ucap Mikha membuka pembicaraan.
"Dilla kenalin ini Marrie adiknya Maxim, dan ini kak Jhon kakaknya Maxim" Ucap Mikha mempersilahkan.
Dilla pun bersalaman secara bergantian dengan Marrie dan Jhon, namun tiba-tiba saja Indah langsung merebut tangan Jhon yang baru saja menyentuh tangan Dilla yang hendak bersalaman dengannya.
"Hei... perkenalkan aku Indah Apriliani panggil saja Indah umur 24 tahun masih single sejak lahir! type laki-laki idaman pria dewasa berwajah tampan." Ucap Indah bicara cepat tanpa tanda koma.
"O...oh...oke! saya Jhon." Ucap Jhon dengan wajah yang bingung melihat sikap Indah yang begitu agresif, apalagi gadis itu menggenggam tangannya dengan erat seakan tak mau melepaskannya.
Melihatnya bertingkah seperti itu Mikha dan Dilla menepuk-nepuk dahi mereka menahan malu, sedangkan Marrie dan Rika saling beradu pandang dan menahan tawanya.
"Hei, lihat sepertinya kakakku yang tua itu akan melepaskan status single parentnya." Bisik Marrie kepada Rika yang membuat dua gadis muda itu tersenyum geli.
...****************...
...Dukung Author terus, dengan...
...Favorit ❤...
...Like👍...
...Koment💬...
...Rate⭐⭐⭐⭐⭐...
...Vote juga boleh kalau punya poin atau koin lebih hehehe😁...
...Mau promo? silahkan aku tidak melarang....
...Terima kasih semuanya ❤❤❤...