
Denting jam dinding memecah kesunyian tempat itu.
Tidak ada yang berubah, hanya waktu saja yang terus berjalan.
sang pria itu masih dalam tempat dan kondisi yang sama, serta dalam perasaan yang sama.
"Pergi! Pergi!"
suara pekikan itu menggelegar, memenuhi seluruh ruangan.
"Kenapa nak?"
Bu Yani bergegas menghampiri putrinya dan memeluknya erat-erat.
"Pergi! Pergi! Pergi!" Mikha berteriak dan menunjuk-nunjuk ke arah Max yang terdiam membisu melihat gadis pujaannya yang sudah kehilangan akal sehat.
Gadis itu terus mengamuk dan berteriak hingga selang infus yang terpasang di tangannya terlepas begitu saja.
Tak lama berselang beberapa perawat dan seorang dokter datang menanganinya, mereka menyuntikan obat penenang hingga gadis itu kembali terlelap.
"Dok apa yang terjadi dengan anak saya?"
Tanya Bu Yani khawatir, air mata menetes deras di wajahnya .
"Begini Bu, ada kemungkinan pasien mengalami trauma akibat kejadian yang menimpanya. Kami sarankan untuk lebih berhati-hati dan terus mensupport pasien karena dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat sangat di butuhkan untuk kondisinya saat ini,
Namun jika masih berlanjut ibu bisa membawa pasien ke psikiater untuk menangani masalah kejiwaannya."
Bu Yani menutup mulutnya menahan tangis, Rika dan Dilla saling berpelukan sedangkan Max terduduk di lantai memegangi kepalanya.
Ia tak percaya bahwa gadis yang ia kenal penuh dengan keceriaan bisa berubah secepat ini, rasa kecewa, marah dan sedih bercampur aduk di dalam batinnya.
Ia kecewa dengan dirinya sendiri yang tak mampu menjaga gadis itu, ia marah kepada pria itu yang tega berbuat hal tak bermoral, dan ia sedih melihat keadaan gadis yang sangat di cintainya.
......................
Flasback ON
Max masih menggenggam tangan Mikha selama berjam-jam, ia berharap gadis itu segera siuman.
Jari-jari lentik gadis itu bergerak perlahan, Max Terperanjat, ia menatap wajah gadis itu dalam-dalam.
Kedua mata Mikha terbuka perlahan, kini pandangan mereka bertemu.
Mikha sangat bahagia melihat wajah pria yang ia cintai berada di hadapannya, pria itu tersenyum penuh arti namun kilatan-kilatan kejadian mengerikan itu tiba-tiba terlintas di kepalanya.
"Ah tidak! aku kotor! aku tidak pantas untuknya!" gumam Mikha dalam hati.
Rasa malu dan tidak percaya diri mendominasi dalam dirinya, ia merasa menjadi wanita paling menjijikkan dan kotor.
"Pergi! Pergi! Pergi!".
Gadis itu berteriak berharap sang pria tidak mendekati dirinya yang telah kotor dan ternoda.
Ia berteriak-teriak, meraung-raung, melempar semua yang ada di dekatnya bahkan menarik-narik rambut di kepalanya bagai orang yang sudah kehilangan kewarasannya.
Hingga tak lama perawat dan dokter datang dan segera memberikan suntikan penenang kepadanya hingga perlahan kesadarannya hilang kembali.
Flasback Off
......................
Tak berselang lama ada panggilan untuk keluarga Mikha dan saksi agar segera datang ke kantor polisi untuk penyidikan lebih lanjut.
Bu Yani, Mas Dodo, Dilla dan Max segera pergi sedangkan Rika menjaga kakaknya yang kembali tak sadarkan diri.
Sesampai di Halaman Kantor Polisi mereka berpapasan dengan Nyonya Wijaya, tiba-tiba wanita angkuh itu menghampiri Bu Yani dengan sikap arogannya.
"Kurang ajar beraninya memenjarakan anak saya!" Pekik Nyonya Wijaya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Heh sudah miskin banyak tingkah! cuma masalah begini saya di besar-besarkan! memangnya berapa sih harga Kep*rawan*n anak anda? sini, saya bayar!"
PLAK!!!
"Jaga mulutmu! tidak semua bisa kau beli dengan uang harammu! bahkan seluruh hartamu tidak kan pernah cukup untuk menebus dosa anakmu yang merampas kehormatan anakku!"
Bu Yani tampak gusar, wanita yang lemah lembut itu berubah menjadi wanita kasar yang di penuhi oleh amarah.
"Heh sudah miskin, sombong sekali kau! Baiklah lihat saja aku akan membebaskan anakku sendiri secepatnya." Ucap Nyonya Wijaya dengan nada bicara yang terkesan merendahkan.
Dilla, Bu Yani dan Mas Dodo segera masuk ke dalam Kantor polisi sementara Max terlihat menghubungi seseorang.
"Hallo ka Jhon, tolong bantu aku carikan pengacara terbaik di Indonesia secepatnya! aku sangat membutuhkannya, nanti aku ceritakan masalahnya padamu."
Max menghubungi kakaknya, ia sungguh bertekad tidak akan melepaskan Ari Wijaya dengan mudah.
"Heh kau dan keluargamu yang sudah menindas gadisku, kalian semua tidak akan lolos dari tanganku! Kalian harus merasakan pembalasan yang lebih me...nya...kitkan!" Max menyeringai, kedua tangannya mengepal erat, terlihat amarah dan dendam yang begitu besar dari Matanya.
......................
Di Alam bawah sadar Mikha gadis itu bermimpi, ia sedang berjalan seorang diri di bawah guyuran hujan di tengah malam.
keadaan sunyi dan dingin menyelimuti dirinya.
Dari kejauhan muncul seseorang yang berdiri di bawah payung Hitam.
Mikha menghampiri sosok itu, semakin ia mendekat semakin ia mengenal sosok tersebut.
Ya ...Dia adalah pria yang selama ini di rindukan, pria yang ia cintai.
"Maxim." sapa Mikha lembut, namun pria itu tidak bergeming bahkan terlihat enggan menatapnya.
"Max? aku sangat mencintaimu, dan sudah lama aku selalu merindukanmu, setiap hari aku berharap agar kau lekas kembali."
Mikha tersenyum lalu ia melangkah maju agar lebih mendekatkan diri dengan pria itu, perlahan ia membuka tangannya untuk memeluk sang pria di hadapannya.
"Jangan sentuh! kau wanita menjijikkan! singkirkan tangan kotormu dari hadapanku" Pekik pria itu dengan tatapan dingin.
"Max kenapa? apa kau tidak memiliki perasaan yang sama dengan ku?" tanya Mikha lirih
"Konyol ! siapa yang sudi mencintai wanita yang sudah kotor sepertimu! bahkan melihat wajahmu saja sudah membuatku muak! bercermin lah dan lihat betapa menjijikannya dirimu."
Pria itu pergi berlalu meninggalkannya seorang diri, ia begitu terpuruk dan sakit mendengar ucapan dari seorang pria yang selama ini menghuni tempat khusus di hatinya.
Semakin lama rasanya ia semakin tenggelam dalam jurang keputusasaan.
......................
Mikha tersadar kembali, ia menatap kosong langit-langit ruangan itu.
"Mba?" Sapa seorang gadis remaja yang duduk di sampingnya.
Mikha menoleh, terlihat Gadis muda dengan wajah sembabnya serta seorang pria tua yang terduduk di atas kursi roda.
"Nduk? yang kuat ya sayang, Istigfar." ucap Pak Ali membelai lembut rambut anaknya.
Mikha tak bergeming, rasanya sulit sekali baginya untuk menggerakkan bibirnya.
"Mbak sudah jangan sedih lagi, jangan takut! ada aku, bapak, ibu, mba Dilla dan Mas Maxim selalu di samping mba."
Mendengar nama pria itu di sebut, Mikha merespon ucapan gadis muda itu.
Ia mengerutkan dahinya dan menatap lekat-lekat mata gadis muda itu.
Merasa ucapannya di respon, Rika kembali melanjutkan perkataannya.
"Mba tau gak! Mas Maxim yang menyelamatkan mba, dia yang berusaha keras mencari sinyal GPS Handphone mba, hingga akhirnya mba cepat di temukan dan ia juga yang sepanjang waktu menemani mba bahkan terus menggenggam tangan mba.
Aku gak tau apa yang ada di isi hati mba tapi mba harus ingat kami disini sangat menyayangi mba, kami berharap mba segera pulih seperti sedia kala."
Rika mencoba tersenyum walaupun hatinya sangat hancur melihat kondisi Kakaknya saat ini.
......................
***Hai Readers mohon terus dukungannya ya
Dengan Favorit, Like, komentar dan Rate
hehehe kalau berkenan bisa vote juga.
curhat dikit ah...
Baca part ini sambil dengerin lagu Westlife - Better Man biar makin kerasa feel-nya hehehe
Terima kasih , See you ❤❤❤***