
...Para Pembaca dan teman-teman Author sekalian...
...jangan lupa Like, komen, Rate dan vote ya......
...Agar Author Kentang ini bahagia...
...Apalagi komen yang sesuai isinya, sungguh bahagia banget hati ini๐...
...Cerita ini hanya karangan dari pemikiran Author belaka, tidak bermaksud menyinggung siapapun termasuk kehidupan asli tokoh visualnya....
...JIKA ADA KEMIRIPAN itu hanya TERINSPIRASI namun ide dan alur tetap buah pemikiran Author sendiri !!!...
...Jadi mohonlah bijak dalam memahami isi cerita**....
...Terima kasihโคโคโค...
...๐น๐น๐น...
Maxim terkejut dengan penuturan Dilla, ia tidak menyangka gadis itu mengetahui semua sisi gelapnya secepatnya itu.
"Apa kau tau Max, mantanmu itu yang mencelakai Mikha! huhuhu"
tangis Dilla pecah, gadis itu tidak tau harus bersikap seperti apa.
Pikirannya terus bertanya-tanya "Bagaimana jika Mikha mengetahui semua ini? apa ia akan depresi kembali?"
"Dilla aku gak bisa mengelak perkataanmu, tapi aku juga tidak ingin seperti ini. Aku ingin normal Dilla! apa aku salah? aku selalu memendam beban ini sendiri, aku tidak ingin istriku kecewa padaku."
"Dan dia bukan mantanku, seumur hidup ini aku tidak pernah mengikat hubungan dengan siapapun kecuali Mikha." Sambung Max lirih, "Baiklah aku kan menceritakan semuanya tentangku padamu!".
...๐๐๐...
PoV Maxim
Flashback ON
Namaku adalah Maxim Andreas Larry seorang penyanyi group The Prince yang kini sedang naik daun.
Semua orang menganggap hidupku ini begitu sempurna, pasalnya selain aku memiliki wajah tampan dan terkenal, aku juga berasal dari keluarga kaya raya dan terpandang.
Aku anak kedua di keluarga Larry, dengan posisiku seperti itu aku selalu merasa tidak di perhatikan oleh orang tuaku.
Ayah ibuku selalu membanggakan kakak pertamaku Jhon dan selalu memanjakan dan memperhatikan penuh adik perempuanku, Marrie.
Entah sejak kapan aku merasa cemburu akan kasih sayang orang tuaku kepada Marrie, namun bukan berarti aku membencinya. Aku bahkan sangat menyayangi Marrie.
Saat di sekolah menengah pertama kehidupan sekolahku sangat tidak baik, aku yang memiliki wajah yang bisa di katakan cantik bagi seorang pria, selalu menjadi olok-olok teman wanita di kelasku, mereka selalu mengatakan bahwa aku salah di lahirkan sebagai laki-laki, aku lebih pantas menjadi wanita. Mulut mereka begitu pedas, aku sangat tidak menyukai mereka.
Naik tingkat di sekolah menengah atas dan universitas, mulai banyak wanita yang mencoba mendekatiku namun entah mengapa aku tidak merasa tertarik dengan mereka.
Aku memiliki dua orang sahabat yang aku kenal sejak memasuki sekolah menengah atas, yaitu Jerry Fawke seorang pria berdarah Jerman dan Dao Lan Yan yang mudahnya kami panggil Ryan, seorang pria berdarah Tionghoa.
Menginjak usiaku yang mulai dewasa, aku memasuki dunia tarik suara bersama kedua sahabatku, walau pada awalnya tentu di tentang oleh ayahku. Namun dengan bantuan Jhon akhirnya ayahku yang otoriter itu mengizinkan dengan syarat David yang tidak lain sahabat kakakku harus menjadi manager kami sekaligus orang yang mengawasi kami.
Semakin lama aku mulai bertanya-tanya tentang diriku sendiri.
Aku mencoba dekat dengan beberapa wanita dan mencoba melakukan "hubungan satu malam" dengan mereka, namun tubuhku tidak bereaksi apa-apa. Hingga aku mulai terbiasa dengan dunia malam, aku bertemu dan berkenalan dengan seorang model majalah panas "G*y" , dia seorang pria bernama Jesson yang memiliki wajah tampan dan tubuh atletis.
Aku tidak mengerti mengapa Jess bisa memuaskan hasratku yang tak pernah muncul, bagiku ia begitu menggoda.
Namun sungguh aku baru sekali melakukan itu
dengannya, ternyata dia merekam percintaan kami diam-diam untuk memanjat karirnya.
Mengetahui hal itu, ayahku sangat murka. Ia bahkan memaksaku untuk menikah dengan Clara, Putri dari keluarga kaya yang memiliki sifat yang buruk.
Walaupun keluarga kami berasal dari barat namun keluargaku selalu menentang hal-hal yang tidak normal baginya, bagi keluarga Larry aku adalah aib.
Aku di kurung hingga suwaktu hari aku memiliki kesempatan untuk kabur.
Dengan bermodalkan kemampuan bahasa Indonesiaku yang lancar, aku pergi untuk menenagkan diri ke negara Tropis itu. Kedua sahabatku tentu saja mengetahui permasalahanku, mereka bahkan membantuku menutup-nutupi dan mengecoh keberadaanku dari David. Mereka mengerti kondisi psikisku yang butuh ketenangan.
Aku menjelajahi beberapa daerah di Negara itu, hingga sampailah aku di ibu kota yang bernama Jakarta.
Sore itu aku asik berjalan-jalan sebagai turis asing di kota yang cukup padat itu, hingga aku merasa di buntuti oleh seseorang yang terus menerus membidik dengan kamera miliknya.
Aku mencari celah untuk melihat orang tersebut, aku bersembunyi di sebuah gang kecil. Aku lihat dari seragam yang ia kenakan sepertinya ia salah satu jurnalis majalah fashion yang berasal dari Inggris.
Aku segera berlari agar tak kembali di buntuti olehnya hingga tanpa sengaja aku menabrak seorang wanita , hingga makanan yang baru ia beli berceceran di jalan.
"Aduhhh makanan gue!!!!"
Wanita itu berteriak, dan membuatku semakin panik hingga tanpa sadar menarik tangannya hingga sampai di sebuah tempat yang lebih sepi.
Aku bernafas lega karena telah bebas dari jurnalis itu, hingga aku tersadar seorang wanita asik memaki-maki diriku.
Wanita itu terus merancau bahkan mengumpat kata-kata yang menurutku lucu, wajah marahnya begitu menggemaskan bagiku.
Untuk pertama kali dalam hidupku, aku tertarik pada seorang wanita.
Ia masih terus memaki-maki diriku, aku bingung apakah ia tidak mengenaliku? padahal saat itu aku sedang tidak menggunakan masker.
Aku mendekatkan wajahku padanya, mencoba meyakinkan apakah bia benar-benar tidak kenal denganku.
Namun yang aku dapatkan adalah sebuah tamparan dari tangannya.
Ia kembali mengumpat dan mengataiku "mesum", wajahnya benar-benar lucu sekali. Hingga ia berbalik dan meninggalkanku dengan wajah kesalnya.
Aku yang tak mau menyia-nyiakan kesempatan, perlahan membuntutinya hingga masuk kedalam rumah sewaan dan mencari tahu tentangnya.
Menurut seorang tukang ojek di sana, wanita itu bernama Mikha.
Aku berinisiatif menemui pemilik rumah sewaan itu, seorang wanita paruh baya dengan tingkah laku yang seakan ia masih remaja.
Aku bertanya-tanya tentang Mikha padanya, walau pada awalnya ia menolak namun dengan sejumlah uang yang aku miliki akhirnya wanita tua itu mau membuka mulutnya, bahkan menyewakan sebuah kamar tepat di hadapan kamar gadis itu kepadaku.
Aku kembali ke hotel sebelum besok mulai pindah ke rumah sewaan itu, sepanjang hari wajah gadis itu terbayang-bayang di kepalaku.
Aku tidak mengerti perasaan apa ini, pikiran ku mulai berkelana kemana-mana dari hanya mengaguminya hingga pikiran kotor yang yang merasukiku.
"Ah bagaimana kalau aku jadikan gadis itu percobaan, mungkin saja aku bisa melakukan itu dengan wanita yang menarik hatiku."
Bersambung....