Oh My Mister

Oh My Mister
Jangan Tinggalkan Aku!



...Hai teman-teman jangan lupa Like, komen dan Rate ⭐⭐⭐⭐⭐...


...klo ada rezeki boleh dong berbagi vote sama Author yang miss queen ini hehehe...


...Karya ini hanya buah hasil imajinasi Author semata jika ada kesamaan tempat, nama tokoh, visual, ataupun sifat tokoh, itu hanya kebetulan belaka....


...Ingat Promo boleh spam jangan😉...


...Boleh dong mampir ke karya baru Author...


...💞Terima kasih💞...



Mikha memasuki kediaman Larry dengan tatapan tajam, tubuhnya basah terguyur air hujan.


Seorang pelayan memberikannya handuk namun wanita itu tak bergeming, ia melangkahkan kakinya menuju kamarnya hingga di lantai 2 ia berpapasan dengan sang suami.


Max menatap bingung kepada istrinya yang terlihat sangat kacau, namun ia bersyukur istrinya kembali dalam keadaan baik-baik saja.


Pria itu segera memeluk Mikha erat, "Sayang kau dari mana saja, aku khawatir." Ucap Max kepada istrinya.


Alih-alih menjawab Mikha dengan kasar melepaskan pelukannya, wanita itu menatap tajam mata suaminya terlihat mata Mikha yang sembab dan memerah.


PLAK!


Untuk pertama kalinya Mikha bersikap begitu kasar, Max yang bingung hanya membelalakkan matanya kala tangan sang istri menampar wajahnya dan melemparnya dengan beberapa lembar foto.


Jhon, Marrie, Dilla dan Indah yang melihat kejadian itu hanya mampu diam. Mereka menghampiri Max yang belum bergeming sedikitpun sedangkan sang istri tengah memasuki kamar dan membanting pintunya dengan kencang.


"Astagfirullah!" Pekik Dilla saat melihat foto yang berhamburan di lantai.


Bugh


"Laki-laki macam apa kau! sudah ku bilang lebih baik kau jujur padanya, tapi apa? karena keegoisanmu sendiri, kau menyakitinya bahkan hampir membunuh darah dagingmu sendiri!"


Ryan tiba-tiba datang dan memukul Max yang tampak tak berdaya, Jhon berusaha menahan Ryan yang terus-menerus memukuli adiknya.


"Maksudmu apa, Ryan?" Ucap Max dengan hidung yang mengeluarkan darah.


"Apa kau tak tau dia habis bertemu Jesson! aku tak sengaja melihatnya keluar dari klub itu! dan Ini kau baca sendiri!" Pekik Ryan melemparkan sebuah surat berbalut amplop putih dari dokter tersebut kepada Maxim.


"Heh jika kau tak bisa membahagiakannya, serahkan saja ia padaku!" Ucap Ryan meninggalkan Max yang tengah membaca surat itu.


"M-Mikha hamil"


PRANG!!!


Suara huru-hara terdengar jelas dari kamar miliknya, Max terperanjat segera ingin menghampiri sang istri namun pintu terkunci dari dalam. Suara teriakan menggema semakin membuat pria itu khawatir.


"Sayang buka pintunya, aku mohon! aku bisa jelaskan semua." Pekik Max yang terus menerus menggedor pintu kamarnya.


"Max, kita dobrak saja!" Titah Jhon kepada adiknya.


Kedua pria itu mendobrak pintu kamar Mikha, dan alangkah terkejutnya mereka mendapati Mikha yang lagi-lagi tak sadarkan diri dengan keadaan kamar yang berantakan.


Max terperanjat, ia berlari dan segera memeluk tubuh istrinya. Air mata penyesalan begitu saja lolos dari sepasang mata biru pria itu.


"Maafkan aku sayang, maafkan aku! dan maafkan papa, nak" Ucap Maxim lirih begitu memilukan dan menyayat hati siapapun yang mendengarnya.


Ia memeluk erat tubuh tak berdaya sang istri dan mengusap lembut perut Mikha yang masih tampak datar.


...****************...


Jesson melangkahkan kakinya menuju mobil miliknya, raut wajah pria itu menunjukkan ketidakpuasan. Bagaimana tidak, ia berfikir akan melihat wanita Itu meraung-raung menangis di hadapannya namun kenyataannya berbanding terbalik dari apa yang ia harapkan.


"Tuan Jesson ikut kami!"


4 orang berbadan kekar tampak mengepung Jesson dan segera memukul belakang kepala pria itu hingga tak sadarkan diri.


"Tuan Jhon, Target sudah di tangan kami!"


Ucap salah satu pria tersebut melalui telepon, yang tersambung di headset portabel yang terpasang di telinganya.


...***********...


Sinar matahari begitu menusuk mengusik indera penglihatan Mikha yang terpejam.


Mikha mengerjapkan matanya, kepalanya terasa begitu berat mungkin karena terlalu lama tidak sadarkan diri.


Ia menatap sekeliling dan menemukan suaminya yang tampak kelelahan hingga tertidur di ujung ranjang dengan posisi terduduk, wajah pria itu begitu sembab dan tampak lebam.


Melihat pria itu lagi-lagi hatinya terasa tertusuk-tusuk jarum, bagaimana bisa ia masih begitu mencintai seorang yang telah menghancurkan perasaannya.


Mikha perlahan-lahan mengambil sebuah koper dan memasukan beberapa pakaian kedalamnya. setelah di rasa selesai ia mengganti pakaiannya dan mulai melangkahkan kakinya keluar dengan membawa koper tersebut.


"Sayang aku mohon jangan tinggalkan aku."


Max langsung terperanjat kala melihat sang istri ingin pergi meninggalkannya, ia memeluk erat Mikha dari belakang dan menenggelamkan wajahnya pada bagian pundak sang istri.


Mikha merasa tubuh suaminya bergetar, pundaknya pun terasa basah. Pria itu menangis terisak di pundak istrinya.


"Jangan tinggalkan aku Sayang, aku sangat mohon padamu Mikha... Aku sangat mencintaimu, sungguh sangat mencintaimu! aku mohon, dengarkan penjelasanku." Ucap Max dengan suara parau.


Hati wanita manapun pasti akan luluh melihat suaminya mengiba seperti itu, begitu pula dengan Mikha. Walaupun perasaannya begitu sakit menerima Kenyataan namun tidak dapat di pungkiri jauh di lubuk hatinya la masih sangat mencintai suaminya.


"Max, kenapa kau menikahiku?" pertanyaan itu begitu saja lolos dari bibirnya.


Max membalikkan tubuh istrinya hingga mereka saling berhadapan, ia menatap lekat-lekat mata istrinya yang nampak sembab.


"Jika aku mengatakan alasannya karena aku begitu mencintaimu apakah kau akan percaya? kamulah motivasi terbesarku untuk kembali menjadi pria sesungguhnya."