Oh My Mister

Oh My Mister
Pertengkaran



...Hai teman-teman jangan lupa Like, komen dan Rate ⭐⭐⭐⭐⭐...


...klo ada rezeki boleh dong berbagi vote sama Author yang miss queen ini hehehe...


...Karya ini hanya buah hasil imajinasi Author semata jika ada kesamaan tempat, nama tokoh, visual, ataupun sifat tokoh, itu hanya kebetulan belaka....


...Ingat Promo boleh spam jangan😉...



...Terima kasih...


......................


Setelah prosesi Ijab Kabul selesai kini semua tamu yang hadir di persilahkan menyantap hidangan yang telah di sajikan.


Max, Mikha, dan Indah tampak asik menggoda sepasang pengantin baru yang terlihat malu-malu.


Sebuah pernikahan yang sederhana namun sangat memiliki kesan dan arti mendalam bagi Jerry dan Dilla.


"Maaf kami terlambat."


Ucap seseorang yang baru saja memasuki perkarangan rumah Dilla, tampak wajah Max yang seketika berubah ekspresi. Pria itu tersenyum masam kala melihat kedatangan David yang bersama dengan Ryan



"Cih!"


Maxim berdecak kesal, Jerry mencoba menenangkan pria itu dengan menepuk-nepuk punggung sahabatnya.


"Hei bro, selamat ya!" Ucap David menyapa sepasang pengantin.


"Terima kasih banyak, Dav. Ini semua gak lepas dari bantuanmu !" Jerry menjabat tangan David, sedangkan Dilla tersenyum di samping suaminya.


"Kalian juga Max dan Mikha, selamat atas kehamilannya."


"Thanks Dav, doakan aja agar semuanya lancar." Jawab Maxim.


"Pasti!"


Kini Ryan pun bergantian mengucapkan selamat kepada mempelai.


"Sayang tolong ambilkan aku minum." Bisik Max kepada istrinya, yang sebenarnya hanyalah alasan agar Mikha menjauh dari hadapan Ryan.


Ryan menatap Max, sepertinya pria itu juga ingin mengucapkan selamat kepada Maxim.


"Urusan kita belum selesai!" Bisik Maxim kepada Ryan, pria itu lalu pergi menyusul istrinya.


David dan Jerry nampak saling berpandangan melihat sikap Max kepada Ryan, seakan banyak pertanyaan yang berkecamuk di kepala mereka.


Sore hari acara telah selesai, semua tamu pun telah kembali dan kini yang tersisa hanya keluarga dan kerabat terdekat.


"Sayang ini susumu di minum dulu, istirahatlah kamu pasti capek." Ucap Max member segelas susu hamil kepada Mikha, pria itu kemudian mengusap lembut perut sang istri yang sedikit mengalami perubahan ukuran.


"Anak papa pintar ya, gak rewel." Max mengecup perut istrinya sedangkan Mikha tersenyum mengelus rambut coklat suaminya.


Di balik romansa sepasang calon orang tua muda itu, sesosok pria tampak menatap dari kejauhan. Ryan menghela napas, ia cukup menyesal atas semua tindakannya yang kini berimbas renggangnya hubungan persahabatan antara ia dan Maxim.


"Ka Ryan Kenapa?"


Rika menyapa Ryan yang sedang asik memperhatikan Maxim dan Mikha, gadis remaja itu tersenyum dan menarik tangan Ryan yang terkejut dengan kedatangan Rika.


"Rika."


"Ikut aku aja yuk, dari pada galau."


......................


Suasana sore hari di desa itu sangat begitu menenangkan, Rika mengandeng Ryan menuju pematang sawah bak hamparan permadani.


Angin berhembus lembut, menyertakan aroma dedaunan yang kian menusuk.


"Duduk sini! disini cocok banget untuk lihat pemandangan." Ucap Rika yang duduk di sebuah saung di tengah persawahan.



"Indah, lumayan juga." Ucap Ryan tersenyum, pria itu menghirup nafas dalam-dalam menikmati aroma alam yang begitu menenangkan.


Rika mengambil batang tumbuhan Jarak yang berada di dekatnya, gadis itu membuat gelembung dari getah tumbuhan tersebut.


"Waw, kok bisa."


"Bisa dong, mau coba?" Tanya Rika, memberi batang tumbuhan tersebut kepada Ryan.


"Boleh!"


Ryan dan Rika begitu asik dengan kegiatan mereka di sana, bahkan kini mereka berdua menceburkan diri ke dalam sungai yang berada tak jauh dari persawahan tersebut.


"hahahaha thanks Rika, ini sangat menyenangkan!" Ryan merebahkan tubuhnya di rerumputan tepian sungai.


Pria itu tersenyum lebar menggambarkan suasana hatinya saat itu, pakaian basah kuyup nampaknya bukan masalah pada Ryan.


"Yuk pulang, udah mau Magrib!" Ajak Rika, gadis itu sibuk memasukan ikan-ikan hasil tangkapan mereka pada sebuah kantong plastik yang ia temukan di sana.


Kini mereka kembali, Rika dan Ryan tampak melempar candaan sepanjang jalan hingga sampai rumah.


"Astagfirullah Rika, ini kenapa pada basah kuyup begini." Pekik Bu Yani kala melihat Rika dan Ryan tampak basah kuyup dan kotor.


"Tidak apa-apa Bu, kita hanya ke sungai menangkap ikan."


Ryan mencoba memberi penjelasan, agar Rika tidak di marahi oleh ibunya.


"Ampun deh Rika! ya sudah mandi dulu Ryan." Mikha menghampiri adiknya dengan membawa 2 buah handuk.


"Aku tidak bawa pakaian, semuanya ada di hotel. Aku kembali saja ke hotel sekarang."


"Basah-basahan begini? Kau bisa masuk angin! sebentar, aku ambilkan pakaian Maxim!"


Max memperhatikan sikap istrinya, pria itu tampak tidak suka dengan sikap Mikha yang menurutnya begitu perhatian pada Ryan.


"Nih pakai, sana mandi! kamu juga Rika!"


Mikha bergegas menuju dapur, ia membuatkan 2 cangkir teh hangat untuk Ryan dan adiknya.


Sebenarnya tidak ada yang salah akan hal itu, semuanya wajar. Namun kecemburuan Maxim pada Ryan telah membuat semuanya terasa salah di matanya, pria itu masih mengingat betul perkataan Ryan yang secara tidak langsung menjelaskan bahwa ia juga mencintai Mikha.


"Nih, minum dulu."


Mikha memberikan secangkir teh pada Ryan yang baru selesai mandi.


"Terima kasih"


Deg...Deg...


Jantung pria itu kembali berdebar, namun ia segera mengalihkan pandangannya dan pergi menghampiri Rika.


"Mikha!!!" Pekik Maxim dari dalam kamarnya, Mikha segera menghampiri suaminya.


Maxim terduduk di tepian ranjang, mata pria itu memerah. Ia menatap tajam Mikha yang kini berada di hadapannya.


"Ada apa Max?"


Mikha menutup pintu kamar, ia perlahan duduk di samping suaminya.


"Kamu itu apa-apan sih sok perhatian sama Ryan!"


Bentak Max, Mikha terkejut dengan sikap suaminya yang berubah.


"Max, dengar dulu..."


"Apa? Kau mau cari perhatian sama dia!"


"Bukan begitu sayang, dengerin aku dulu"


"Apa kurangnya aku? apa kau tidak puas dengan satu laki-laki!"


Sakit, hati Mikha begitu sakit mendengar perkataan yang keluar dari mulut suaminya. Air mata begitu saja lolos dari kedua Matanya


Max keluar kamar, ia membanting pintu cukup keras lalu menghampiri Ryan dan menarik pria itu menuju halaman belakang rumah.


"Dasar Br*ngs*k!"


sebuah pukulan begitu saja mendarat di wajah pria oriental tersebut.


Ryan sama sekali tidak membalas, ia sadar akan semua kesalahannya pada Max.


"Maumu apa, Ryan? jauhi istriku!"


"Max, aku minta maaf! aku minta maaf atas segala kesalahanku padamu!"


"Kau pikir aku percaya, Dasar teman pengkhianat!B*jing*n! maksudmu apa saat aku mengatakan, kau menginginkan aku menyerahkan Mikha padamu? hah, bisa kau jelaskan!"


Max menarik kerah baju Ryan, pria itu hendak memukul Ryan kembali.


"Stop kak!"


Suara seorang gadis membuat Maxim menghentikan tindakannya, ia menoleh ke asal suara yang berasal dari adik iparnya itu.


"Kak Ryan bicara seperti itu karena ia Kekasihku!"


......................