Oh My Mister

Oh My Mister
Jerry Fawke



...Hai teman-teman jangan lupa Like, komen dan Rate ⭐⭐⭐⭐⭐...


...klo ada rezeki boleh dong berbagi vote sama Author yang miss queen ini hehehe...


...Karya ini hanya buah hasil imajinasi Author semata jika ada kesamaan tempat, nama tokoh, visual, ataupun sifat tokoh, itu hanya kebetulan belaka....


...Ingat Promo boleh spam jangan😉...


Oh iya, mampir yuk ke chat story buah dari kolaborasi kami, sebuah karya yang gak berfaedah dan hanya untuk hiburan semata tentang keseharian chattingan keluh kesah dan suka cita para Author unakhlak.



...Terima kasih...


Flasback


PoV Jerry


Aku melangkahkan kakiku menuju negara kelahiranku, Jerman.


Sudah lama rasanya aku tidak menginjakkan kaki ke negara tempatku dilahirkan selain hanya kunjungan saat konser.


Ku ketuk rumahku, rumah sejuta kenangan dimana aku tumbuh kembang dan belajar mengenal A B C.


Keluargaku memang sempat pindah ke Inggris saat aku mulai masuk sekolah menengah atas dan akhirnya kembali lagi 5 tahun kemudian.


Pinta terbuka, sosok wanita paruh baya seakan begitu bahagia melihat kehadiranmu, siapa lagi kalau bukan ibuku.


Singkat cerita aku meminta restu kepada ibu dan ayahku untuk melamar seorang gadis yang berasal dari Asia tenggara bernama Ardilla Maharani.


Karena aku sangat menghargai adat istiadatnya, maka aku memboyong kedua orang tuaku untuk meminta gadis itu kepada kedua orangtuanya.


Aku pergi ke Indonesia dimana tanah kelahiran gadis manis ku ini berasal, bersama kedua orangtuaku sedangkan kakak laki-lakiku menyusul karena ia ada pekerjaan.


Hari itu, setelah melewati samudera dan benua akhirnya dengan bermodalkan alamat yang diberikan oleh David, aku sampai didepan rumah gadisku.


Hatiku begitu berdebar, aku sangat gugup. Akankah kedua orang tuanya menerimaku sedangkan reputasiku cukup terkenal dengan sebutan "player".


Bahkan, aku sadar kalau aku tidak setampan Ryan atau kekayaan Maxim.


Perlahanku ketuk pintu rumah sederhana itu, tak lama Ibu dari Dilla yang bernama Lastri membukakan pintu.


"Selamat malam."


"Malam, emm kamu temannya suaminya Mikha kan?" Ucap Bu Lastri yang rupanya masih mengingatku.


Beliau mempersilahkan kami masuk dan duduk diruang tamu rumahnya, tak lama suaminya yang bernama Pak Hasan ikut menemui kami.


Tak lupa kami memberikan buah tangan yang kami bawa dari Jerman.


Tak perlu basa basi dan menunggu lama, aku menjelaskan maksud kedatangannyaku dan orang tuaku untuk melamar anak gadisnya.


Aku tau mereka tampak terkejut namun, akupun menjelaskan bahwa Dilla menginginkan Pria yang benar-benar serius kepadanya.


"Nak, apa kau tau konsekuensinya menikah dengan anak kami?" Tanya Pak Hasan menatapku tajam, aku dengan mantap mengangguk. Aku sudah yakin dengan pilihanku. Aku sudah belajar semuanya dari pengalaman Maxim yang menikahi gadis dari negeri Khatulistiwa ini, mereka sangat berpegang teguh dengan keyakinan yang mereka anut.


"Bagaimana dengan orang tuamu? apa mereka setuju?"


Aku menoleh kedua orang tuaku, mereka mengangguk dan tersenyum.


"Kami membebaskan Jerry untuk menentukan Jalan hidupnya sendiri, Kami menghargai semua keputusannya."


"Bu, Pak saya minta tolong. Tolong rahasiakan pada Dilla bahwa saya yang melamarnya."


"Kenapa?" Pak Hasan mengerutkan dahinya, nampaknya ia sedikit curiga terhadapku, namun aku berupaya tetap tenang.


"Karena aku ingin memberinya kejutan."


"Hanya itu?" Selidik Pak Hasan.


"Iya pak."


"Baiklah besok pagi bersiaplah!" Ucap Pak Hasan menatapku lekat.


Keesokan harinya aku sudah bersiap menuju rumah gadis kesayanganku, dengan baju Koko putih yang aku beli secara mendadak serta kopiah yang bertengger di kepalaku.


Sebelumnya aku memeluk kedua orangtuaku yang tampak menitikan air mata, sebenarnya tidak ada masalah yang berarti karena bahkan sebelumnya aku memang tidak memiliki agama berbeda dengan anggota keluargaku yang lain.


15 menit jarak ku tempuh dari hotel menuju rumah orang tua Dilla, mereka telah menyambutku dengan hangat dan berpakaian sangat serasi dengan pakaian yang ku kenakan.


Kami menuju sebuah Masjid yang cukup besar, tidak jauh dari rumah orang tua Dilla. Di sana sudah ada sekiranya 20 orang menantiku dan seorang pemuka agama.


Prosesi di mulai, hatiku sungguh berdebar kencang karena bagaimanapun ini adalah keputusan terbesar yang aku ambil seumur hidupku.


"ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAH, WAASYHADUANNA MUHAMMADAR RASUULULLAH".


Aku terus berusaha keras untuk mengucapkannya dengan benar hingga ucapkan syukur menggema serentak dan di lanjutkan prosesi berdoa.


Tak lupa aku di beri tahu apa saja yang harus aku lakukan sebagai seorang muslim, dari cara ibadah hingga lain-lain.


"Sekarang kamu dan keluargamu ikut kami ke kampung, kita akan melaksanakan pernikahan kalian di sana, Namun..."


"Kau harus di sunat terlebih dahulu!"


Oh, no!!! bukankah hal ini yang membuat Maxim ketakutan setengah mati!


PoV Jerry OFF


......................


Siang hari Keluarga Jerry dan kedua orang tua Dilla berangkat ke bandara, untuk menuju kampung halaman Dilla di Yogyakarta. Di bandara mereka bertemu dengan Hans, Kakak laki-laki Jerry yang memang berniat menyusul mereka.


Setelah perkenalan singkat Hans dengan Bu Lastri dan Pak Hasan mereka melanjutkan perjalanan.


Sepanjang jalan pikiran Jerry melayang-layang, ingin rasanya bertanya pada Max namun ia kembali mengurung niatnya.


Sesampainya di Yogya, Jerry dan keluarganya memutuskan kembali ke hotel berlebih dahulu karena tidak mau menyusahkan keluarga Dilla, sebelum besok datang kembali untuk pergi bersama ke sebuah klinik Sunat.


...****************...


Malam hari di desa, orang tua Dilla tampak berdiskusi dengan kedua orang tua Mikha yang memang sudah seperti saudara sendiri, apalagi di tambah posisi rumah mereka yang bersebelahan.


Pak Hasan tampak serius membahas prihal keinginan Jerry yang meminta merahasiakan identitasnya kepada Dilla hingga waktu akad nikah tiba.


"Sudahlah Mba, Nak Jerry itu anak baik kok." Ucap Bu Yani.


"Iya, tapi saya khawatir."


"Mas, waktu saya di London. Saya perhatikan juga Dilla selalu dekat dengan Jerry, dan laki-laki itu tidak pernah macam-macam dengan Dilla. Jadi, menurut saya loh ya... dengan tindakan dia berani menikahi Dilla tanpa pacaran itu sudah sangat membuktikan kesungguhannya."


Kedua orang tua Dilla tampak berpikir, Karena ini semua adalah keputusan terbesar untuknya dan untuk masa depan Putri semata wayangnya.


"Saya yakin kalau teman Maxim pasti orang baik-baik." Ucap Pak Ali menimpali, nampaknya kedua orang tua Dilla setuju dengan ucapan dari kedua orang tua Mikha.


Semua terlihat jelas dari raut wajah mereka yang merasa lega.


Keesokan harinya Bu Lastri menghubungi putrinya agar segera kembali, mereka memang merencanakan pernikahan Dilla dan Jerry secara sirih terlebih dahulu baru setelah itu mengurus segalanya agar sah di mata negara.


"Sudah siap Nak?" tanya Pak Hasan kepada calon menantunya yang tampak memucat.


"I-iya pak!"


"Sebentar ya, bapak panggil Pak Ali dulu."


Rika yang melihat semua itu, lagi-lagi membuat ulah. Ia perlahan mendekati Jerry yang tampak pucat dan gemetar walau pria itu berusaha tenang.


"Hooh kak Jerry! mau di sunat ya?" Pekik Rika yang membuat Jerry sedikit terkejut.


"Aduh kau ini !" Jerry tampak mengelus-elus dadanya, Rika terkekeh melihat tingkah Jerry yang bahkan lebih terlihat begitu bodoh karena takut, melebihi kakak iparnya waktu itu.


"Sabar ya, cuma sakit sebentar. Kalau gak percaya tanya aja mas Maxim!" Ucap Rika mulai memprovokasi.


"Memangnya waktu Maxim bagaimana?" Jerry tampak penasaran.


"Emmm gimana ya, ah gak ah nanti kakak takut!"


"Please Rika, aku penasaran."


"Tapi aku gak tanggung jawab ya..."


"Iya!!!"


"Jadi kak Max cuma teriak sebentar, saat itunya di sayat-sayat pakai pisau. Memang sudah di anastesi tapi masih cukup terasa sih, tapi itu waktu mas Maxim loh!" Ucap Rika perlahan, gadis jahil itu tampak menahan tawanya, terlebih saat Jerry terlihat semakin pucat.


"Ayo Nak! kita berangkat!" Ucap Pak Hiasan menepuk pundak calon menantunya.


Jerry berangkat ke klinik di temani Pak Ali, Pak Hasan, dan Ayahnya. Sedangkan Bu Lastri, dan Ibunda Jerry di antar Hans untuk membeli segala keperluan untuk pernikahan anak mereka.


Sesampainya di klinik, Jerry yang berkebetulan mendapat antrian pertama, langsung di persilahkan masuk ke dalam ruang tindakan.


Pria itu tampak gugup saat melihat satu persatu gerakan yang dokter lakukan.


Perkataan Rika selalu berputar-putar di kepalanya.


"Sudah siap!" Seorang perawat yang tidak sengaja membawa sebuah pisau bedah, berhasil membuat Jerry shock.


"Yah dok! Pasiennya pingsan!"


......................