
Bab 2-Trauma masa lalu
Teriakan kesakitan Puspa terdengar begitu memilukan saat lelaki tersebut menggoyak kegadisannya.
Air mata kembali mengalir dari kedua netranya, ia terus memekik histeris setiap kali pria itu menghentaknya lebih dalam.
Hilang sudah kehormatannya yang selalu ia jaga baik-baik, sekarang ia merasa tidak ada bedanya dengan seorang wanita ******. Puspa terus menangis histeris tanpa bisa berbuat apa-apa, setiap hentakan yang di lakukan pria itu benar-benar menggores harga dirinya.
Puspa semakin membenci makhluk yang berjenis Pria.
Pria itu semakin mempercepat ritmenya, hingga tak lama ia mengerang keras melepaskan benihnya pada rahim gadis yang sudah tak berdaya itu.
Pria blonde itu ambruk sambil terus memeluk Puspa yang masih histeris.
"Maaf," ucapnya lembut, membelai kepala Puspa.
"Aku akan bertanggung jawab," tuturnya kembali, Puspa memalingkan wajahnya. Dia sama sekali tidak membutuhkan tanggung jawab pria itu, rasa marah dan bencinya semakin membesar.
Gadis itu hanya terisak meratapi nasibnya, nasib buruk yang selalu bertubi-tubi menimpanya.
................
Waktu terus berputar, detik berganti menit, menit berganti jam.
Setelah pergulatan panjang dan lelah menangis gadis itu tertidur dengan tubuh yang hanya tertutup selimut tebal.
Pria tampan berparas khas western yang bernama Mark Leonard, nampak tidak henti-hentinya memandangi rupa cantik gadis yang baru saja ia renggut kegadisannya.
Ting
Ponselnya berdering, Mark segera bangkit dan mengambil ponselnya di atas nakas.
Seutas senyuman terukir di wajah tampannya, Mark baru saja mendapatkan informasi tentang gadis itu selengkap-lengkapnya.
Entah mengapa, hatinya terpikat pada gadis itu sejak pandangan pertama namun karena pengaruh obat yang di berikan seseorang untuk menjebaknya. Membuat pria itu menggila dan merenggut kegadisan Puspa.
Leonard tak henti-hentinya memandangi dan membelai lembut wajah Puspa, wajah yang begitu teduh namun seolah menyimpan banyak beban di baliknya.
Puspa nampak mengerjap-ngerjapkan matanya melihat langit-langit kamar hotel. Tubuhnya terasa begitu sakit dengan kepala yang terasa begitu berdenyut.
"Aww! Pusing."
"Are you okay?"
Suara seorang pria menarik kembali kesadarannya.
Kepingan-kepingan puzzel yang berceceran, sedikit demi sedikit terangkai rapih menjadi sebuah ingatan yang utuh.
Gadis itu segera melompat dari atas ranjang dan menatap penuh benci kepada Mark.
"Jangan mendekat! Don't touch me!" teriak Puspa histeris kala Mark berjalan mendekat ke arahnya.
Mark mencoba menenangkan gadis itu, berkata selembut mungkin agar tidak menakutinya.
"Maafkan aku, tadi aku benar-benar di jebak dengan obat. Aku, Aku berjanji akan bertanggung jawab atas semua perlakuanku padamu," tuturnya hati-hati.
Puspa kembali menatap manik cokelat pria itu tampa rasa takut sama sekali.
"Tanggung jawab?"
"Ya, aku akan menikahimu!" jawab Mark sungguh-sungguh.
"Hahahahaha" tawa Puspa seketika pecah, gadis itu segera mengambil bathrobe yang berada tepat di sebelahnya, lalu segera memakainya.
"Kau gila? Kau pikir dengan menikahiku maka kau bisa mengembalikan kehormatan diriku yang telah kau rusak?"
PLAK!
Sebuah tamparan melesat sempurna pada pipi Mark. Puspa benar-benar murka, wajahnya merah padam menahan gejolak emosi.
"Heh, aku tidak butuh tanggung jawabmu!"
Tak ingin membuang waktu, Puspa segera beranjak menuju pintu keluar. Namun tiba-tiba tangan kanan tertahan, membuat langkahnya kembali terhenti dan menoleh kebelakang.
"Aku sudah jatuh cinta padamu pada pandangan pertama," ucap Mark sungguh-sungguh.
Puspa mendekat dan mendorong tubuh kekar pria blonde itu hingga sedikit mundur kebelakang.
"Tidak usah membual! Cinta hanya sebuah omong kosong!" jawab Puspa lalu segera pergi meninggalkan Mark yang terdiam.
Mark menatap kepergian gadis itu hingga hilang dari pandangannya. Jauh di dalam hatinya, ia berjanji akan terus mengejar gadis bernama Puspa itu sampai jatuh kedalam pelukannya.
"I'm crazy about you, girl," ucap Mark tersenyum.
................
"Pa, kamu kenapa?" tanya Dita, sahabat sejak SMA sekaligus rekan kerja Puspa yang baru saja datang.
Puspa kembali mengusap kedua matanya lalu tersenyum senatural mungkin, "Aku gak apa-apa, aku cuma capek."
Dita berjalan mendekati Puspa dan menepuk-nepuk pundaknya dengan lembut.
"Kalau ada apa-apa cerita aja, pokoknya apapun yang terjadi kamu harus sabar dan tabah ya," tuturnya dengan senyuman yang memperlihatkan kedua lesung di pipinya.
Dita yang sudah mengenal lama dengan Puspa tahu pasti bahwa ada sesuatu yang menimpa sahabatnya. Namun entah mengapa semenjak dulu kedua orang tuanya bercerai, gadis itu berubah menjadi pribadi yang sangat tertutup kepada siapapun.
Ia tidak bisa memaksa Puspa berbicara, Dita hanya bisa berdoa semoga Tuhan selalu melindungi dan memberikan kebahagiaan untuk sahabatnya, dan semoga Tuhan mengembalikan sosok Puspa yang dulu. Puspa yang ceria, humoris dan bawel, sejujurnya ia sangat merindukan sosok sahabatnya yang seperti dulu.
Puspa melangkahkan kakinya dengan cepat untuk keluar dari gedung hotel tempatnya bekerja, segera ia menaiki ojek online yang telah dipesan menuju rumah sewaaan yang ia tempati.
BRAK!
Gadis itu menutup pintu dengan kasar sesaat ia telah sampai rumah.
Puspa berlari menuju kamar mandi, dinyalakannya air pada shower. Dia terduduk di lantai kamar mandi dengan tubuh terguyur pancuran air dari shower, menangis sejadi-jadinya sesekali menggosok tubuhnya dengan jijik.
Sosok Puspa terlihat sebagai wanita yang kuat, padahal jauh di dalam dirinya, ia adalah wanita yang rapuh. Hanya saja ia pandai untuk menutupi semua itu.
'Maaf kamu terlalu baik buat aku.'
'Ternyata pacaran gak enak, lebih baik kita putus saja.'
'Lebih baik kita akhiri, sebenarnya aku sudah punya pacar namun kemarin kita sedang berantem makanya aku bilang ke kamu single, maaf.'
'Maafin ayah, ayah dan ibu sudah tidak cocok.'
'Maaf, ibuku tidak setuju sama kamu.'
'Heh, kapan kalian angkat kaki dari sini?'
'Tanda tangan! Cepat! Kau tidak usah ikut campur, anak si*lan!'
Ingatan Puspa seakan tertarik ke dalam alam bawah sadarnya, kalimat-kalimat yang di lontarkan para pria yang dekat padanya terus menerus berputar di dalam otaknya.
"Arghhhhh damn, brengs*k! Cukup!" Puspa memekik dengan keras, sambil menarik-narik rambut hitam miliknya.
Hatinya sakit dan hancur, tangisannya kembali pecah mengingat segala masa lalu pahit di hidupnya. Masa lalu yang membuatnya trauma dan membenci manusia berjenis laki-laki.
"Hah! Apa salahku? Ibu, Ibu, aku gak sanggup huhuhu," Puspa kembali menangis dengan memeluk lututnya yang ditekuk.
Kehidupan sungguh tidak adil baginya, kehidupan yang memaksanya untuk menjejakkan kaki di dunia gelap dan membuang seluruh rasa malunya hanya untuk menghidupi dan membahagiakan ibu dan adik-adiknya.
Puspa butuh sosok pelindung, sosok yang mampu menjadi sandarannya di saat lelah dan terpuruk di saat dunia benar-benar kejam dan seolah tak berbelas kasih padanya.
................
**Hai-haiš
Potato come back,
Mau baca kelanjutannya dari Novel ini
berjudul "GOLD Digger akreditasi A"
bisa baca di apk h*tbuku ya
Up tiap hari 1-3 bab
gak usah Khawatir, apknya gak bikin memori kalian penuh dan masih gratis baca untuk bulan ini, kalaupun sudah di kunci bisa di buka pakai vocer harian gratisan ya...
Aku tunggu kalian di sana, udah banyak babnyaš
see you muachhh....
Mau lihat info lainnya atau visual foto/video mereka bisa follow IG Author
@rahma.mrpotato atau Author Kentang**
...****************...
"Di hadapan imam dan para saksi, saya mengambil Engkau menjadi istri saya untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang hingga selamanya. Pada waktu susah maupun senang. Pada waktu kelimpahan maupun kekurangan. Pada waktu sehat maupun sakit. Untuk saling mengasihi dan menghargai hingga maut memisahkan kita. Sesuai dengan hukum Allah yang kudus dan inilah janji setiaku yang tulus untukmu."
Zio Darwin Tanudjayać¼The Dominant Wife Of Young Master