
Hai Teman-teman, Author gak bosan-bosan bilang, jangan lupa Like, komentar, dan Rate bintang 5 ya...
kalau ada poin lebih bisa kasih Vote nya untuk karya Author yang masih amatir iniπ
...Terima kasih...
...π·π·π·...
...Katakanlah sebuah kejujuran walau sepahit apapun itu...
...Karena kejujuran adalah kunci dari keberhasilan sebuah hubungan...
^^^-Author Kentang 2020-^^^
...****************...
Indah melangkahkan kakinya gontai, hampir setengah hari ia di buat sibuk oleh Jhon, entah mengapa kini sikap Jhon sangat berbeda dari yang ia kenal di Indonesia.
Jhon yang begitu ramah dan hangat kini menjadi yang begitu dingin dan menyebalkan.
"Indah, Tolong fotocopy berkas ini!" Perintah Jhon tanpa menatap gadis itu.
Indah pun segera melakukan perintah Jhon, tak lama ia kembali menyerahkan berkas-berkas yang telah di fotocopy.
"Ini juga ya, 3 rangkap!" Perintah Jhon kembali.
10 menit berselang, Indah kembali dengan berkas-berkas yang Jhon minta.
"Ini Tuan, sudah semuanya." Ucap Indah terengah-engah.
"Buatkan saya kopi!"
Perintah Jhon kembali, dan dengan sabar Indah menuruti apa kemauan pujaan hatinya walau sangat melelahkan berjalan terus menerus menggunakan heels yang tinggi.
Tak lama ia kembali dan meletakkan secangkir kopi di meja kerja Jhon dengan senyuman yang masih setia menempel padanya.
"Terlalu pahit! buatkan lagi!" Ucap Jhon yang baru meneguk sedikit kopinya.
"Terlalu encer! buatkan lagi!'"
Begitulah sikap Jhon terus menerus yang seakan menguji kesabaran Indah.
"Sabar Indah sabar, Untung cinta! kalo enggak mah udah gue siram ini kopi di atas kepalanya!" Gumam Indah sambil menahan rasa sakit akibat lecet pada kakinya.
...****************...
"Sayang pokoknya jangan kemana-mana sampai aku pulang, aku harus bertemu David sebentar! Nanti setelah aku pulang, kita jalan-jalan oke!" Ucap Max, dan mecium kening istrinya.
Max tidak membahas lebih lanjut perihal Jess dengan Mikha, ia tidak mau membuat istrinya itu curiga.
Hari itu lagi-lagi Max harus membohongi istrinya, ia harus pergi ke seorang psikolog dan beralasan pergi ke rumah David untuk mengelabui Mikha.
Hampir setengah jam perjalanan ia tempuh, sampailah ia kesebuah tempat praktek psikolog yang telah di rekomendasikan Jhon kepadanya.
Hampir 2 jam lamanya ia memulai terapi, ia juga mengutarakan seluruh keluh kesahnya kepada seorang ahli profesional.
Semangat pria itu untuk segera berubah sangat kuat, ia ingin sesegera mungkin menjadi suami yang terbaik untuk sang istri, ia juga sangat ingin membentuk sebuah keluarga bahagia dengan kehadiran anak-anak mereka kelak. Max ingin kembali pada takdirnya sebagai seorang pria.
"Saya ingin menyampaikan beberapa hal, yang pertama saya ingin anda sadar bahwa anda tidak akan bisa berubah tanpa tekad yang kuat.
Yakinkan pada diri Anda tiap waktu bahwa Anda adalah pria sejati, anda adalah seorang kepala keluarga, dan sebisa mungkin hindari orang-orang yang membuat Anda terpikat dalam hal 'itu', terutama menjauhilah perkumpulannya dan seorang yang telah melakukan 'sesuatu' dengan Anda."
Max terdiam merenungi perkataan sang ahli.
Setelah seluruh sesi selesai, ia segera beranjak untuk pulang menemui istrinya.
Pria itu ingin segera memeluk istri untuk melepaskan seluruh beban yang ia pikul.
Salju turun semackin lebat, diperjalanan ia melewati sebuah Restoran Indonesia. Seketika pria itu berinisiatif membeli makanan kesukaan Mikha di restoran tersebut.
"Honey, aku sangat rindu! teganya kau menikah dengan wanita itu, aku cemburu!"
Tiba-tiba saja seseorang memeluk erat Max dari belakang, dan mengatakan hal-hal menjijikan.
"Lepas! Jess, tidak puaskah kau mengusik hidupku!" Pekik Max melepaskan pelukan Jess dengan kasar hingga Jess terjatuh.
"Max aku takkan berhenti sampai kau menjadi milikku sayang." Ucap Jess yang telah bangkit dan kini menyentuh lembut bibir merah milik Max.
"Sakit jiwa kau!" Pekik Max, dengan tatapan penuh amarah.
"Sakit? hahaha kau itu sama saja denganku honey! sama-sama sakit! untuk apa sih kau menikahi wanita tidak berguna itu? hahaha ...dan aku yakin kalau kau belum pernah melakukannya dengan dia kan? Max ingat, tubuhmu hanya milikku!"
Ucap Jess di sertai tawanya yang seakan mencemooh kehidupan pernikahan Max dan Mikha.
"Terserah kau berkata apa, tapi aku tegaskan jangan mendekati istriku lagi Jesson!"
"Apa yang kau katakan? mendekati istrimu? heii... honey, kau telah memberi ku sebuah ide sayang hahaha ...sampai jumpa cinta, aku sangat merindukan permainan ranjangmu! "
Ucap Jess dan tiba-tiba mengecup pipi Max dengan wajah sensualnya.
Jess lalu pergi meninggalkan Max yang masih mematung.
...****************...
Max berjalan dengan gontai, kepalanya masih di penuhi ucapan Jess.
Hampir saja pertahanannya runtuh karena Jess yang terus menerus memberikan sentuhan-sentuhan sensual untuk menggodanya, bagaimanapun juga ia adalah seorang pria dewasa yang butuh pelepasan dan sayangnya hanya bisa ia dapat melalui kontak fisik dengan Jess.
Max perlahan melangkahkan kakinya memasuki unit miliknya, dan seketika ia di sambut hangat oleh sang istri yang segera berlari dan menghampirinya.
"Max, akhirnya kamu pulang!" Ucap Mikha tersenyum senang dan segera mencium tangan suaminya.
Ia menatap sendu wajah sang istri, tersirat cinta dan ketulusan pada mata Mikha setiap kali melihatnya.
Sakit dan begitu sesak ia rasakan, ia sungguh merasa bersalah yang teramat dalam pada istrinya.
Dadanya bagai di hujam ribuan pisau tak kasat mata, begitu perih dan sakit.
Max tiba-tiba memeluk erat Mikha, hingga tak terasa buliran air mata mengalir dari pelupuk mata pria itu.
Mikha yang bingung hanya bisa pasrah tanpa tau pria itu menangis karena sang suami memeluknya begitu erat.
"Max, kamu kenapa?" Tanya Mikha bingung
"Sayang aku sangat mencintaimu, sangat sangat mencintaimu! aku mohon jangan pernah meninggalkanku dan menyerah untuk mencintaiku." Ucap Max begitu lirih.
Mikha membalas pelukan sang suami, entah apa yang membuat Max seperti itu. Yang ia tahu bahwa ucapan sang suami sangat tulus dari dalam hatinya dan entah mengapa hatinya begitu sesak melihat sikap sang suami.
"Sayang dengar aku! aku akan selalu mencintaimu selamanya! aku tidak akan meninggalkanmu!" Ucap Mikha meyakinkan suaminya.
"Kamu kenapa sih sayang? My hubby, cintaku!"
Mikha merangkum wajah suaminya saat Max telah melepaskan pelukannya.
"Tidak apa-apa sayang, aku hanya takut saja! A-apalagi aku kerja pasti akan sering meninggalkanmu."
Ujar Max mencoba mencari alasan yang masuk akal.
"Oh ya sayang, aku bawakan makanan kesukaanmu tapi supnya mungki sudah dingin." Ucap Max mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Makasih ya sayang, ya sudah yuk kita makan sama-sama biar aku panaskan lagi supnya."
Mikha segera mengambil bungkusan makanan yang di berikan suaminya, lalu menuju dapur untuk menempatkannya di piring.
"Max aku tau kamu menyembunyikan sesuatu, aku harap kau bisa segera jujur padaku. Tolong jangan kecewakan aku!" Ucap Mikha dalam hatinya.
...****************...