Oh My Mister

Oh My Mister
Penyelesaian



Mikha tampak berjalan tergesa-gesa setelah turun dari pesawat, wajahnya begitu panik begitu pula dengan Max yang berupa mengimbangi langkah sang istri.


Flasback ON


Mikha mengerjapkan matanya, ia memandang langit-langit putih dengan cahaya yang begitu menyilaukan untuknya.


Ia tampak mengingat-ingat kejadian yang membuat ia berada di rumah sakit.


"B-bayiku!!!" Ucap Mikha refleks dan langsung meraba perutnya kala ia mengingat semuanya, tak lama ia bernafas lega saat melihat perutnya yang masih tampak menonjol.


Kini pandangannya nampak menelisik setiap sudut ruangan namun ia tidak mendapati keberadaan suaminya.


"emm Max?" peliknya lirih, perlahan ia turun dari ranjang rawat dengan membawa botol cairan infus yang masih tersambung di tangannya.


"Max? Maxim?" Ucap Mikha, hingga ia mendengar suara suaminya di depan ruang rawatnya.


"Biarkan wanita itu membusuk di penjara karena sudah mencelakai istriku, ini hukum yang setimpal untuk Clara!" Ucap Max yang sedang berbincang dengan Jerry.


"A-APA!!! Max maksud kamu apa!" Pekik Mikha yang tampak tergopoh-gopoh menghampiri sang suami.


Max segera menghampiri Mikha yang berjalan cepat kearahnya, Pria itu segera merangkul tubuh istrinya.


"Sayang istirahatlah, kamu baru siuman." Ucap Max lembut.


"Jelaskan maksudnya tadi apa?" tanya Mikha dengan intonasi yang menekan.


"sudahlah sayang, kamu jangan berpikir terlalu banyak."


"MAXIM!!!" Pekik Mikha menatap tajam suaminya, akhirnya Max menceritakan semua tentang penangkapan Clara walaupun barang bukti belum sepenuhnya di dapatkan.


Mikha tampak membulatkan matanya, ia tak percaya suami dan mertuanya bisa segegabah itu.


"Max kita pulang sekarang juga! kita temui Clara dan aku tak mau di bantah!!!


Flasback Off


......................


Mikha, Max, Jerry, Dilla, Ryan dan David sampai di sebuah kantor Polisi.


Di sana telah menunggu kedua mertuanya dan juga orang tua Clara.


"Sayang kamu baik-baik saja kan?" tanya Ny.Anna memeluk menantu kesayangannya.


"Aku baik-baik aja Mommy, Mommy jangan khawatir." Ucap Mikha tersenyum membalas pelukan hangat ibu mertuanya.


"Daddy, Mom aku ingin bertemu Clara." sambung Mikha menatap ayah mertuanya seakan memohon.


Tak lama datang seorang polisi membawa seorang wanita yang menggunakan setelan baju tahanan, wanita itu segera berhambur dan berlutut memohon kepada Mikha.


"Mikha tolong aku, sumpah demi Tuhan bukan aku yang mencelakaimu. Maafkan aku yang selama ini begitu jahat padamu, aku mohon tolong aku." Ucap Gadis itu memohon dan menagis, bahkan kepalanya sampai menyentuh punggung kaki Mikha.


Mikha yang tak tega, mencoba mengangkat tubuh Clara yang masih bersimpuh di hadapan. Sungguh hati kecilnya berkata bahwa bukan Clara lah yang mencelakainya.


"Clara aku percaya padamu, dan aku juga sudah memaafkanmu. Aku senang kau telah sadar akan kesalahanmu." Ucap Mikha tersenyum.


Hati kecil Clara begitu terpukul melihat kenyataan bahwa orang yang paling ia benci ternyata adalah satu-satunya orang yang mempercayainya dan berusaha menolongnya, bahkan kala orang tuanya saja hanya bisa bungkam dan pasrah.


"Daddy, Max aku tau selama ini Clara benci padaku dan selalu berusaha mempermalukanku di depan umum, namun ia sama sekali tidak pernah mencelakaiku ataupun berusaha melukai fisikku."


Deg!!!


Hati Clara bagai tercubit kala mendengar perkataan Mikha , gadis itu sungguh malu mengingat dosa-dosanya pada wanita yang tengah mengandung tersebut.


Tuan Andrew menghela nafasnya kasar lalu menatap anak keduanya seolah meminta persetujuan Maxim.


"Baiklah Nak." Ucap Tuan Andrew tersenyum.


Kedua orang tua Clara berhambur mengucapkan syukur dan terima kasih kepada Mikha dan Tuan Andrew.


Begitu pula Clara yang nampak memeluk erat Mikha dan menumpahkan seluruh isi hatinya.


"Aku malu padamu, maafkan aku Mikha. Pantas saja Maxim memilihmu karena kau memanglah wanita yang pantas di pilih dan di perjuangankan, Maafkan aku Mikha." Ucap Clara menangis tersendu-sendu dalam pelukan Mikha


"Clara, kau itu gadis yang begitu cantik dan nyaris sempurna, berubahlah agar perilakumu selaras dengan kecantikan wajahmu." Ucap Mikha tersenyum.


"Aku berjanji Mikha."


Tak lama ponsel milik David berdering, pria itu segera mengangkatnya. Setelah menerima telepon tersebut David segera menghampiri Tuan Andrew dan membisikan sesuatu yang membuat raut wajah pria tua itu berubah gusar.


"Lagi-lagi dia, kurang ajar!!!" Gumam Tuan Andrew Larry.


......................


Jhon nampak mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Pikirannya kalut memikirkan istrinya, sampai-sampai telepon dari ayahnya saja di abaikan.


Setelah sampai kediamannya ia segera berlari, mengacuhkan seluruh pelayan yang menyapa dan memberi hormat padanya.


"Sudah Tuan, sekarang ada di kamar." Jawabnya yang sedikit membuat Jhon bernafas lega.


Pria blonde berperawakan tinggi besar itu segera menuju kamar tidurnya, namun sayang pintunya nampak terkunci dari dalam.


"Indah, buka sayang. Aku minta maaf padamu." ucap Jhon mengetuk pintu kamarnya namun Indah tidak merespon sama sekali.


Lama ia menunggu dan terus mengetuk pintu namun sama sekali tidak ada jawaban dari istrinya, hingga ia akhirnya nekat untuk melompat menuju balkon kamarnya, lewat balkon pada kamar tamu yang terletak di samping kamar tidurnya .


......................


Menjelang Senja Max membawa istrinya berjalan-jalan


di sebuah tepian danau yang berada di kota tersebut.


warna jingga cahaya mentari yang terpantul air bagaikan butiran berlian yang berkerlip di tengah danau.


Angsa-Angsa dan merpati bermain bebas, menambah romansa yang tercipta menghiasi keindahan panorama alam tersebut.



Mikha memandang siluet sang suami, ia sungguh bersyukur memiliki suami yang begitu perhatian dan mencintainya.


Terlepas dari apapun masa lalu Maxim, ia ingin mengubur semuanya dalam-dalam dan membuka lembaran baru untuk keluarga kecilnya.


Kini Max dan Mikha duduk di rerumputan di tepian danau, Mikha tiada henti-hentinya tersenyum memandangi paras suaminya yang bak pangeran di Negeri Dongeng.



"Kenapa kau terus memandangiku?" Ucap Maxim menatap istrinya.


Mikha menyandarkan kepalanya pada pundak suaminya, sedangkan kedua tangannya melingkar mesra pada tubuh suaminya.


"Aku masih gak menyangka memiliki suami yang begitu tampan, aku suka alis matamu yang menukik, hidung mancungmu, bibir merahmu, lesung pipimu, bahkan mata birumu, semuanya perfect ! sebuah mahakarya Tuhan yang indah." Ucap Mikha sambil menunjuk bagian-bagian tubuh yang ia sebutkan.


Maxim terkekeh mendengar penuturan istrinya, ia mencubit lembut hidung Istrinya yang bahkan tidak ada setengahnya dari besar hidungnya.


"Dasar, kalau aku sudah tua dan gak tampan lagi di matamu bagaimana?"


"Ah bagiku, kamu tetap tampan! lagipula aku berani jamin wajah tuamu gak jauh-jauh mirip kak Jhon dan Daddy! masih tetap tampan walaupun sudah berumur"


Cup


Sebuah kecupan berhasil mendarat di pipi Maxim, Mikha semakin mengeratkan pelukannya pada suaminya.


"Becanda sayang, kamu itu tulus, lembut dan penyayang, bagiku parasmu hanyalah bonus saja. Bagaimanapun rupamu aku tetap mencintaimu."


Max melepaskan pelukan sang istri, ia menatap lekat-lekat kedua manik hitam mata Mikha hingga pandangan mereka saling beradu.


Mata biru miliknya menatap tajam mendominasi, seakan menghipnotis siapapun yang berlama-lama memandangnya.



"Aku juga sangat mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu." Ucap Maxim berbisik, Pria itu merengkuh dagu milik istrinya dan perlahan-lahan mendekatkan bibirnya pada bibir tipis milik istrinya.


Dengan begitu lembut Max me*lum*t, menyes*p dan mengeksplore bibir milik istrinya. Tangannya perlahan menelusup ke dalam baju yang di kenakan istrinya.


"Sayang malu, ini di tempat umum." ucap Mikha lirih, wajahnya bersemu merona.


"Ini kan kawasan wisata milik daddy, aku sudah menyuruh menutupnya sejak kita datang"


Ucap Max dengan suara berat, nafasnya nampak tak beraturan.


Max kembali mengecup bibir istrinya dengan kecupan lembut namun begitu memabukan, sementara Mikha hanya bisa mengimbangi serangan yang di berikan suaminya.


Perlahan-lahan kecupannya berpindah menuju tengkuk leher Mikha hingga menuju dada sang istri yang masih berpakaian lengkap.


"Ahhh Sayang, kau memancingku yaa..."


geram Maxim kala tangan Mikha membuka kancing celana Jeans yang ia kenakan, menelusup tanpa permisi lalu mengusap lembut dan sesekali meremas kejantanannya.


"Aku hanya mengecek, ya barangkali seperti dulu yang masih tetap tidur walaupun sudah di pancing." Goda Mikha tertawa kecil.


"Sembarangan, aku buktikan bagaimana performa adikku yang sekarang!" Ucap Maxim, tanpa aba-aba segera menggendong tubuh istrinya.


"Mau kemana Max?" Tanya Mikha bingung, tangannya melingkar kuat pada leher suaminya.


"Ketempat di mana aku bisa membuktikan ucapanku, sayang!" Ucap Max menyeringai, pria itu segera berjalan menuju pintu keluar tempat wisata tersebut.


^^^Bersambung yaaa...😝^^^


^^^2 hari lagi kita sambung kebucinan ini gengs^^^


^^^Kaburrrrrr.......^^^