
Hujan deras turun membasahi kota Jogja, jam sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari namun mata Mikha masih juga tidak dapat terpejam sejak mendapatkan telepon dari suaminya.
Mikha terus memposisikan tubuhnya dengan nyaman di atas ranjang, perasaan terasa mengganjal, ia sama sekali tidak bisa tenang. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke dapur untuk meminum segelas air.
JEDERRR!!!
PRANG!
Gemuruh petir yang begitu menggelegar membuatnya terkejut hingga menjatuhkan gelas yang berada dalam genggamannya. Ia segera bergegas membersihkan pecahan belng yang berceceran di lantai, namun lagi-lagi Mikha yang tidak fokus membuat jemarinya terluka karena terkena pecahan gelas yang tajam.
"Astagfirullah, kenapa perasaanku mengganjal," gumam Mikha dalam hati.
Setelah membersihkan semuanya, Mikha mencoba menghubungi kembali suaminya namun ponsel milik Max kini tidak aktif, namun ia masih berpikiran positif kalau Max tengah berada di dalam pesawat hingga mematikan ponsel miliknya.
Mikha segera mengambil wudhu dan menunaikan sholat tahajud guna menenangkan hatinya yang terus-menerus risau, dan berdoa untuk keselamatan suaminya kepada Tuhan yang maha esa.
......................
"Cepat keluarkan korban, mobil itu akan segera terbakar!" pekik salah satu seorang warga yang melihat persis kejadian tabrakan antar dua mobil tersebut.
Beberapa orang polisi yang sedang bertugas dan beberapa warga sipil segera membantu mengevakuasi para korban dalam kejadian itu.
Nampak Max di keluarkan dari mobilnya yang sudah setengahnya terbakar, dengan kondisi yang tidak sadarkan diri dan luka terutama di kepalanya.
Tak lama beberapa mobil ambulance datang dan membawa seluruh korban menuju rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan.
"Nyonya, Tuan!" pekik Moly, kepala pelayan di kediaman keluarga Larry. Wanita separuh baya itu berlari tergopoh-gopoh menghampiri kedua majikannya yang tengah menikmati makan malam
"Ada apa Moly? Kenapa kau berlari seperti itu?" tanya Nyonya Anna dengan lembut.
Moly nampak mengatur napasnya sejenak dan mulai berkata, "Tu-tuan Maxim, Nyonya!" ucapnya gugup.
"Maxim kenapa?" tanya Tuan Andrew yang mulai bingung dan habis kesabaran.
"Didepan ada polisi, mengabarkan Tuan Maxim mengalami kecelakaan!" tutur Moly panik.
Seketika Nyonya Anna menangis sedangkan Tuan Andrew segera menemui polisi yang datang.
Setelah sedikit penjelasan, kedua orang tua Max segera menuju rumah sakit dimana Max dilarikan. Pikiran mereka terlalu kacau hingga lupa mengabari yang lainnya.
Nyonya Anna, Tuan Andrew dan polisi tersebut nampak menunggu di depan ruang IGD hingga tak lama seorang dokter keluar.
"Apakah keluarga pasien atas nama Maxim sudah datang?" tanya dokter tersebut kepada seorang polisi.
Tuan Andrew segera menghampiri dan menjawabnya, "Saya ayahnya, bagaimana kondisi anak saya?"
"Maaf Tuan, pasien harus dirawat dalam ruangan ICU karena mengalami pendarahan yang cukup parah pada kepalanya, retak tulang rusuk dan patah tulang kaki sebelah kiri. Untuk saat ini pasien dalam keadaan koma dan kami akan terus memantaunya," ucap sang dokter menjelaskan.
Tubuh pria tua itu tampak melemah terlebih saat melihat kondisi putranya yang kini tengah berbaring tak berdaya dengan berbagai alat penunjang kehidupan.
"Daddy, kabari Mikha. Mommy gak sanggup jika mommy yang mengabarinya, pasti ia kini sedang menanti kedatangan Max. Mommy gak bisa bayangin daddy...hiks," ucap Nyonya Anna di sela-sela tangisannya. "Iya, Daddy akan mengabari Jhon agar menjemput Mikha," jawab Tuan Andrew dan mulai mengambil ponsel di sakunya.
......................
Sementara itu Jhon nampak terusik dari tidurnya, ponsel miliknya terus-menerus berdering tanpa henti.
"Astaga ini baru jam 4 pagi, siapa yang telepon sih," gerutunya kala melihat jam di dinding.
Jhon langsung meraih ponselnya dan menerima panggilan tersebut tanpa melihat nama si penelpon.
"Hallo," ucapnya dengan suara parau.
"Jhon, tolong jemput Mikha dan pulang sekarang!" perintah si penelpon dengan suara panik. Seketika mata Jhon terbuka lebar terlebih saat ia mendengar sayup-sayup suara Ibundanya yang menangis.
"Daddy? Ada apa daddy?" tanyanya, yang kini tidak kalah panik.
" Maxim kecelakaan, sekarang kondisinya sangat kritis," jawab Tuan Andrew.
Dengan cukup keras hingga membangunkan seisi rumah.
"Ada apa sih kak? Berisik," Marrie nampak kesal dengan tingkah laku kakaknya.
"Siapkan barang-barangmu, kita pulang! Daddy baru saja mengabari kalau Maxim kecelakaan, sekarang sedang kritis!" pekik Jhon, yang akhirnya di dengar oleh Indah dan juga Rika.
Indah dan Rika segera beranjak dari kamarnya dengan panik, dan menghampiri Jhon serta Marrie yang kini tengah menangis.
"Kak, A-apa benar?" tanya Rika gugup, berharap pendengarannya salah.
Namun Jhon hanya bergeming lalu mengangguk perlahan.
"Astagfirullah," ucap Rika seraya menutup bibirnya dengan telapak tangannya.
"Jhon, biar aku dan Rika yang jemput Mikha. Kau dan Marrie berangkat langsung ke London saja," titah Indah memberikan solusi. Jhon nampak berpikir sejenak dan menganggukkan kepalanya, "Baiklah, kau hati-hati di jalan. Jaga Mikha!", perintah Jhon dan segera beranjak untuk merapikan barang-barangnya.
......................
Matahari mulai beranjak dari peraduannya, jam telah menunjukkan pukul 6 pagi di kota Jogja.
"Mama, papa mana? Kok belum sampai," tanya Sunny dan Shine nyaris bersamaan.
Mikha hanya mengulas senyuman dan berjongkok, guna mengimbangi tingginya dengan tinggi kedua anaknya.
"Sabar, papa pasti lagi di jalan. Kan perjalanannya jauh sekali jadi kalian harus sabar," ucap Mikha memberi pengertian. "Ya sudah, sekarang Sunny dan Shine makan dulu," titahnya, yang langsung di laksanakan kedua buah hatinya.
Mikha nampak tengah menyapu ruangan, hingga akhirnya perhatiannya tertuju pada sebuah televisi yang tengah menyala dan menayangkan sebuah acara gosip.
"Max 'The Prince' di kabarkan mengalami kecelakaan pada pukul 7 malam waktu setempat di kota London, saat tengah berangkat menuju bandara udara," ucap seorang host wanita pada acara tersebut.
Bak tersambar petir, tubuhnya melemas. Mikha segera mengambil ponsel di sakunya dan mencoba menghubungi sang suami namun sayang, Max masih tidak bisa dihubungi.
"Mikha!" Pekik Indah yang baru saja sampai, disusu Rika dan kedua orang tua Mikha.
"Indah, ta-tadi di tv," ucap Mikha gugup dengan wajah yang sudah merah padam. Indah segera memeluk tubuh sahabatnya guna menyalurkan kekuatan untuknya, "Ayo sekarang kita semua ke London!" titahnya.
......................
Jam terus-menerus berputar, setelah menempuh perjalanan yang panjang. Kini Jhon dan Marrie berada di rumah sakit tempat Max dirawat. Begitu pula dengan David, Ryan, Jerry, dan Dilla yang sudah terlebih dahulu menemani kedua orang tua Maxim.
Tiba-tiba dokter dan perawat nampak berlari-lari masuk ke dalam ruangan ICU dimana Max berada.
Seluruh keluarga dan kerabat Max nampak panik dan berusaha bertanya pada salah seorang perawat.
"Apa yang terjadi dengan anak saya?" tanya Tuan Andrew dengan nada yang meninggi. Perawat tersebut berhenti sejenak dan berkata, "Kondisi pasien memburuk, detak jantungnya melemah. Mohon keluarga tetap bersabar, kami akan berusaha," ucapnya dan segera beranjak.
Seluruh Keluarga hanya bisa melihat dari sebuah jendela, bagaimana para Dokter dan perawat tersebut mengerubungi Maxim. Nyonya Anna dan Marrie nampak menangis histeris kala melihat jantung Max harus di pacu dengan defibrillator higga beberapa kali.
"Dok, bagaimana kondisi Maxim?" tanya Jhon gusar.
Di sisi lain Mikha berlari menyusuri koridor rumah sakit, matanya begitu sembab karena tak henti-hentinya menangis. Hingga ia melihat keberadaan kedua mertua dan iparnya.
"Mommy, Daddy, Maxim mana?" tanyanya panik.
Namun mereka hanya diam, tidak ada satupun yang berani menjawab.
"Kak Jhon, Marrie, tolong jawab aku! Dilla, Jerry, David, Ryan! Kenapa tidak ada yang menjawabku?" pekik Mikha nampak frustasi, dan pandangannya langsung beralih pada sebuah kaca ruangan di hadapannya.
Ia melihat beberapa dokter dan perawat sibuk mencabut satu persatu alat yang berada di tubuh suaminya yang nampak pucat, hingga seorang perawat menutupi seluruh tubuh Max dengan seutas kain berwarna putih.
"Maxim!" Mikha tersungkur dan menangis histeris, sedangkan Nyonya Anna hanya bisa memeluk menantu kesayangannya, "Sabar sayang, Tuhan lebih sayang dengan Maxim," ucapnya lirih.
Mikha semakin histeris dan berteriak, "Tidak, Max berjanji tidak akan meninggalkan kami. Ini semua bohong, Max gak mungkin meninggal!"
......................