
Sandekala telah tiba, matahari terbenam menyisakan cahaya jingga kemerahan di langit kota Jakarta.
Seorang pria menatap nanar di balik jendela sebuah bangunan pencakar langit, memandangi sang mentari yang semakin kembali ke peraduannya.
Pria itu beberapa kali menghela nafas berat, pikirannya melayang memikirkan nasib cintanya yang tak pernah berhasil.
Kini ia harus menahan perasaannya yang telah jatuh kepada wanita yang salah.
"Hah, Kenapa selalu begini?" Ucapnya tersenyum kecut, ia menertawakan perasaannya yang sungguh mengenaskan.
Cinta pertamanya kandas, sang wanita memilih pria lain dan meninggalkannya.
Sikapnya yang pendiam dan tidak mudah didekati memperparah keadaannya.
Kini setelah bertahun-tahun hidup dengan perasaan yang hampa dan kosong, ia kembali jatuh hati namun kepada wanita yang salah. Wanita yang telah di miliki oleh orang lain, yang tidak lain adalah pasangan dari Sahabatnya.
"Max, Jika kau menyakitinya karena rahasia bodohmu itu, aku bersumpah akan merebutnya darimu !"
...****************...
Sementara di sisi lain sepasang suami istri itu kembali ke rumah kost untuk kembali mengemas barang-barang Mikha.
Dilla dan Indah yang mencari amanpun telah kembali terlebih dahulu meninggalkan mereka karena kedua wanita itu tahu, bahwa keadaan Mikha sudah bagai naga yang siap-siap menyemburkan api.
Sepanjang perjalanan Mikha hanya diam mengabaikan suaminya, membuat Max begidik ngeri merasakan aura membunuh sang istri yang siap-siap meledak.
Sesampainya di rumahpun wanita itu langsung berkutat dengan pekerjaannya.
"Sa...Sayang mau makan apa?" Tanya Max kepada Mikha namun tidak dijawab oleh sang istri, bahkan untuk menoleh ke arah Maxim pun ia sudah sangat malas.
"Sayang kok diam aja sih, ya sudah aku...aku be... beliin makanan dulu ya."
Melihat Max sudah keluar membeli makan, Mikha segera mengambil ponselnya dan membuka aplikasi Go*gle lalu memulai pencarian dengan kata kunci Maxim Andreas.
Munculnya berbagai artikel tentang Maxim bahkan tentang pernikahan merekapun ada di sana, Mikha berdengus kesal saat ia tahu bahwa suaminya adalah salah satu personel dari grup idola kedua Sahabatnya.
"Jadi selama ini cuma gue yang di bodoh-bodohi, bagus banget!"
Mikha segera menelepon Dilla, ia ingin menagih penjelasan ke sahabatnya itu.
"Hallo Kha, ada apa?" ucap Dilla dari sebrang panggilan.
"Kenapa lu gak kasih tau gue siapa Max sebenarnya, lu sudah tau sejak awal kan? Lu itu temen gue apa temen Maxim sih? Lu tau gak sih, gue tuh merasa jadi badut bodoh yang gak tau apa-apa."
Ucap Mikha panjang kali lebar, ia sangat kesal kepada sahabatnya yang sekongkol dengan Maxim.
"Ya ampun Mikha bukan maksud gue begitu, iya deh maafin gue sama Indah yang gak kasih tau lu. Tapi itu semua Maxim yang minta tolong, ia cuma mau lu menganggapnya seperti orang biasa tanpa embel-embel apapun. Dia suka sama sikap lu yang tulus kepadanya, makanya gue ngikutin apa mau dia. Sorry banget Kha kalau lu merasa di bodohi sama kita, tapi sumpah kita gak bermaksud seperti itu."
Jawab Dilla mencoba menenangkan sahabatnya.
"Sekarang lu sudah terlanjur jadi istrinya, lalu lu mau apa? mau ninggalin dia? jangan konyol deh Kha, buka pikiran lu deh, Maxim itu benar-benar cinta banget sama lu. Lagi pula ini bukan kesalahan yang buruk kan! Ya sudah lu pikir baik-baik dulu, apa-apa jangan emosi."
Ucap Dilla dan memutus sambungan teleponnya.
Dilla sudah sangat paham betul bagaimana sikap Mikha saat marah, wanita itu sangat sulit di ajak bicara apalagi hanya lewat telepon. Jadi berdebat lama-lama dengannya akan percuma saja, lebih baik diamkan saja biar Mikha berpikir sejenak untuk meredam emosinya.
Dilla mengusap dadanya seketika setelah memutus panggilan telepon dari Mikha, walapun cara bicaranya menghadapi Mikha tadi terkesan tenang, namun berbeda dengan kenyataan pada dirinya.
Gadis itu mengingat saat masa SMA, Mikha mendiaminya selama 10 hari hanya karena dia ketahuan membohongi Mikha.
"Semoga beruntung ya Max! "
...****************...
Tidak lama kemudian Maxim kembali membawa 2 bungkus bebek goreng dan es jeruk kesukaan sang istri.
Ia melihat sang istri sedang berbaring di kasur membelakanginya, Max perlahan mendekati istrinya.
"Sayang makan dulu yuk!" Ucap Max menyentuh bahu Istrinya, namun wanita itu tidak bergeming sedikitpun.
"Sayang, aku minta maaf kalau sudah menyembunyikan identitasku padamu . Sungguh aku tidak ada maksud untuk membodohimu, aku hanya ingin kita berteman dan menjalin hubungan secara normal tanpa embel-embel apapun. Aku mohon maafkan aku, aku sangat mencintaimu." Ujar Max lirih.
"Sayang tolong jangan begini! hah ...baiklah tapi sekarang kau harus makan dulu ya, besok kita harus menempuh perjalanan panjang. Mommy dan Marrie sudah sangat menunggumu." Ucap Max kembali, ia tidak mau memaksa sang istri memaafkan saat itu juga dan membuat wanita itu semakin kesal.
Mikha menoleh ke arah suaminya, mereka akhirnya makan malam dengan hening, karena Mikha masih belum ingin bicara dengan suaminya dan membuat pria itu menjadi serba salah.
Keesokan harinya setelah berpamitan Mikha dan Max langsung pergi menuju bandara di antar oleh Dilla dan Indah menggunakan Taksi online.
Sementara David dan yang lain sudah terlebih dahulu berada di Bandara.
"Maafin kita ya Kha, kita gak maksud bohongin lu " Ucap Indah dan Dilla memeluk sahabatnya .
"Ya sudah nggak usah di bahas, terima kasih ya Ndah, Dill atas semuanya. Baik-baik disini, jangan putus kontak ya."
"Tenang saja bentar lagi kita juga akan nyusul kau kok!" ucap Dilla berbisik dan mengedipkan sebelah matanya dengan maksud memberi suatu kode kepada Mikha.
...****************...
Selama di ruang tunggu bandara, Mikha masih saja mendiamkan suaminya.
Max hanya bisa pasrah berharap istrinya dapat segera memaafkannya.
"Hanya karena mengetahui identitasku saja dia sudah seperti itu, aku gak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika ia mengetahui hal itu!"
Keluh Max Kepada Ryan yang duduk di sampingnya.
"Itu karena ia mengetahui bukan dari mulutmu langsung, Max katakanlah kebenaran walaupun itu menyakitkan. Jangan biarkan ada celah di antara kalian yang memungkinkan orang ketiga masuk dan merusak hubungan kalian!"
Ucap Ryan, yang langsung beranjak meninggalkan Max.
"Max, tolong jangan berikan aku kesempatan untuk menjadi orang ketiga itu! aku takut tidak dapat menahan perasaan ini." Gumam Ryan dalam hatinya.
...****************...
Ryan membeli 2 buah kopi panas dan berjalan mendekati Mikha yang tengah duduk sendiri dan sibuk memainkan ponselnya.
"Untukmu!" Ucap Ryan yang kini berdiri tepat dihadapan Mikha.
"Terima kasih." ujar Mikha menerima kopi yang di berikan Ryan.
"Aku tau Max memang sudah keterlaluan, tapi aku juga tau ia melakukan ini hanya untuk mendapatkan cinta yang tulus darimu. Jika seandainya kau yang di posisinya, apakah kau yakin tidak melakukan hal yang sama dengannya? sekarang kau ingat berapa besar pengorbanannya untukmu."
Ucap Ryan yang langsung pergi meninggalkan Mikha yang terdiam dan merenungkan sikapnya kepada Maxim.
...**********...