Oh My Mister

Oh My Mister
Penantian




Jhon nampak terkejut dengan pernyataan yang tiba-tiba saja terlontar dari pak Arjun, setelah ia mengambil nafas sejenak pria itu mulai menjawab sesopan mungkin, berusaha tidak menyinggung hati partner bisnisnya tersebut.


"Maaf Tuan, saya..."


"Hahahahaha", belum sempat Jhon menjawab namun pria paruh baya itu tertawa dengan begitu lepas.


"Jangan gugup begitu Mister Jhon Larry, pikiran saja dulu tawaran saya. Lain kali kalau kau ke Indonesia, akan saya perkenalkan dengan putri saya, sekarang dia tengah mengelola perusahaan di Tabalong." Ucap Pak Arjun.


"Sungguh? Bukankah disana harus berhadapan dengan aktivitas pertambangan? Wah, sungguh wanita yang hebat."Ucap Jhon.


Pak Arjun kembali tersenyum dan kembali melontarkan rayuannya, sepertinya ia benar-benar berniat dan semangat menjodohkan Jhon dan putrinya.


"Makanya Anda harus bertemunya jika ke Indonesia, wajib! Saya tidak menerima penolakan loh hahaha."


Jhon hanya tertawa renyah menanggapi


permintaan aneh dari pak Arjun, mulai saat itu ia bersikeras untuk sebisa mungkin menghindari kunjungan ke perusahaan milik Arjun Widandi Kusumo di Indonesia.


......................


Hujan semakin deras, Mikha yang baru saja sampai segera mungkin keluar mobil dan menghampiri Bu Yani yang tengah berdiri di ambang pintu dengan menggendong Sunny, sedangkan bi Konah terlihat menggendong Shine.


"Bu, Sunny kenapa?" Ucap Mikha panik, hingga lupa berterima kasih pada Dimas yang telah mengantarnya.


"Sunny demam tinggi, Nduk. Bapak dan Senja sedang ka Apotek tapi tiba-tiba tadi Sunny kejang, ibu mau bawa ke rumah sakit." Ucap Bu Yani.


"Mari saya antar saja."


Suara bariton tiba-tiba saja terdengar, tampak Dimas turun dan segera menghampiri Mikha dan bu Yani.


Tanpa berpikir panjang, Mikha menganggukan kepalanya dan mengambil alih Sunny dari gendongan ibu Yani.


15 menit waktu yang di tempuh menuju rumah sakit, Mikha segera membawa Putri kecilnya menuju ruang IGD di susul Bu Yani.


"Konah, ibu nitip Shine dulu ya." Ucap Bu Yani yang segera menyusul Mikha, dan meninggalkan Konah, Shine dan Dimas di ruang tunggu.


Dimas nampak menatap seorang bayi laki-laki yang berada di hadapannya, seolah tengah menerka-nerka sesuatu.


"Apakah kedua anak ini adalah anaknya?" Ucapnya dalam hati hingga nampak mengerutkan keningnya.


"Dor! Kok bengong aja sih mas Gans, sini duduk samping I." Ucap Konah menepuk-nepuk kursi disebelahnya.


Dimas hanya tersenyum dan duduk di samping Konah.


"emm...Maaf, Bayi ini anaknya Mikha?" ,Tanya Dimas memberanikan diri, ia sudah sangat penasaran dengan pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya.


Konah nampak mengernyitkan keningnya dan menatap Dimas, "Mas ganteng, siapanya miss Mikha?"


"Saya temannya, baru sih."Ucapnya tersenyum simpul.


Konah nampak membulatkan bibirnya membentuk huruf O, dan mengangguk-anggukkan kepalanya layaknya burung Pelatuk.


"Yes, Baby twin yang cute ini anaknya miss Mikha." Jawab Konah.


"Lalu suaminya mana? Kok saya tidak pernah melihatnya? Sampai saya pikir dia masih lajang?"Tanya Dimas kembali, saat mulai membaca karakter Konah yang 'Ember', sehingga memudahkannya mengulik informasi.


"Kalau itu I juga no understand, because Miss Mikha datang kesini mendadak dalam kondisi hamil besar. Yang I tau, After melahirkan I am hear Miss Mikha berencana mengurus gugatan cerai for she Husband." Ucap Konah menjelaskan dengan logat khasnya beserta bahasa yang campur aduk dan cenderung ngasal, sehingga sedikit membuat pusing bagi orang yang tidak terbiasa mendengarnya.


Dimas nampak menganggukkan kepalanya, sebuah senyuman terlihat melengkung di bibirnya. Kini pria itu menatap Shine yang tengah terlelap dalam gendongan Konah dan membelai kepala bayi yang berusia kurang dari 5 bulan tersebut.


cklek


"Mas Dimas, Terima kasih banyak ya. Maaf saya sudah merepotkan."Ucap Mikha tersenyum.


"Sudahlah, jangan panggil mas. Panggil nama saja, kan kita teman. Oh ya bagaimana kondisi anakmu?" Tanya Dimas kembali.


"Sudah baik-baik saja kok, Terima kasih ya Nak. Lebih baik kau sekarang pulang, kau pasti capek baru pulang dinas sampai belum mengganti seragam." Ujar Bu Yani dengan ketus, ia segera menghampiri Dimas dan menatapnya dengan tatapan tidak suka.


"Kamu temani Sunny sana! Ibu mau nunggu bapak." Ucap Bu Yani kembali.


Mikha yang merasa tidak enak hati hanya menatap Dimas dan tersenyum penuh rasa bersalah, lalu ia kembali menuju ruang dimana Putri kecilnya dirawat.


Dimas yang merasa kehadirannya tidak diinginkan, kini mencoba tahu diri dan segera pamit pada wanita paruh baya yang berada di hadapannya.


"Bu, kalau begitu saya pamit ya. Assalamualaikum." Ucap Dimas pada Bu Yani.


"Iya nak, terima kasih banyak. Waalaikumsalam."


Tak lama setelah Dimas pergi, nampak Pak Ali dan Senja datang. Di susul Rika yang segera mengambil alih Shine dari tangan Konah.


......................


Mikha menatap putri kecilnya yang tengah berbaring lemas, air matanya begitu saja jatuh melihat tubuh kecil putrinya harus tertusuk jarum infus.


"Maafin Mama ya sayang, mama terlalu sibuk sampai mengabaikan kalian." Ucap Mikha lirih dan mencium kening Sunny.


"Nduk." Sapa Bu Yani menyentuh pundak putrinya.


"Sudahlah, kita doakan supaya Sunny cepat pulih. Kayanya kamu harus memikirkan untuk merekrut karyawan, kasian Sunny dan Shine kalau kau terus sibuk." Ucap Bu Yani yang semakin menyadarkan Mikha akan kelalaiannya sebagai seorang ibu.


Mikha menganggukan kepalanya dan kembali membelai lembut Sunny yang tertidur lelap.


"Oh ya Nduk, Laki-laki tadi itu temanmu?" Tanya bu Yani.


"Iya Bu, dia itu pelanggan di tokoku." Jawab Mikha.


Bu Yani nampak menghela nafas berat dan menatap Mikha dengan tajam. "Nduk, ingat batasanmu ya. Ibu gak melarangmu berteman dengan siapapun tapi kamu harus ingat kalau kau masih istri sahnya Maxim."


Mikha nampak tersenyum mendengar ucapan ibunya, Bu Yani memang sangat menyayangi menantu blonde-nya.


"Ibu gak perlu khawatir, Insya Allah, Mikha selalu ingat akan hal itu. Walaupun seandainya Mikha bercerai dengan Max sekalipun, Mikha memutuskan tidak akan pernah menikah lagi. Hati Mikha hanya untuk dia bu." Ucap Mikha sendu.


......................


Tak terasa waktu semakin cepat berputar, hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun.


Max nampak termenung duduk di tepian danau, tempat yang selalu ia kunjungi bersama sang istri untuk sekedar menghabiskan waktu berdua.




"Empat tahun sudah kamu pergi, kamu dimana sayang? Apa kau tidak merindukanku?" Ucap pria bermata biru tersebut, sesekali melemparkan batu-batu kerikil kecil pada danau yang terlihat begitu tenang.


Mata pria itu terasa memanas, mengenang kilasan-kilasan kemesraannya dengan Mikha ditempat tersebut.


Berbagai cara telah ia dan Jhon tempuh, namun jejak Mikha dan Indah belum juga ditemukan.


"Mikha, aku akan terus mencarimu sampai kapanpun. Karena aku percaya Tuhan tidak akan menguji hambanya di luar batas kemampuannya. Dan aku yakin kalau aku pasti akan menemukanmu."


......................